09 October 2021, 12:05 WIB

Banjir Rob Rendam 15 Ribu Rumah di Kota Medan


Atalya Puspa | Humaniora

BANJIR rob merendam 15.000 rumah warga di Kota Medan, Provinsi Sumatra Utara, dengan tinggi muka air (TMA) 70 sentimeter yang disebabkan oleh pasang air laut sejak Selasa (5/10) pukul 13.00. Sebanyak 70.685 jiwa terdampak akibat peristiwa ini.

Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Abdul Muhari mengungkapkan berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan, terdapat tujuh kelurahan terdampak di Kecamatan Medan Belawan, antara lain Kelurahan Belawan 1, Kelurahan Belawan 2, Kelurahan Sincanang, Kelurahan Bahari, Kelurahan Bahagia, Kelurahan Bagan Deli dan Kelurahan Labuan Deli.

"Kondisi mutakhir saat ini banjir rob masih menggenangi rumah warga dan cuaca di wilayah Kecamatan Medan Belawan terpantau berawan," kata Abdul dalam keterangan resmi, Sabtu (9/10).

BPBD Kota Medan bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) telah melakukan pemantauan ke daerah terdampak serta berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Sumatra Utara, instansi terkait dan kepala lingkungan setempat dalam upaya penanganan bencana.

Selain itu, banjir rob juga terjadi di Kota Batu Bara, Provinsi Sumatra Utara akibat pasang air laut yang menggenangi rumah warga sejak Rabu (6/10) pukul 02.00 WIB. Titik banjir terdapat pada dua kecamatan, antara lain Kecamatan Medang Deras di Desa Medang dan Kecamatan Tanjung Tiram di Desa Bandar tepatnya di Kelurahan Bagan Arya.

"BPBD Kota Batu Bara mencatat kerugian materil antara lain sebanyak 520 unit rumah warga terendam, tiga unit rumah rusak berat, dua unit rumah rusak sedang dan dua unit rumah rusak ringan," ungkap Abdul.

Selain itu terdapat empat unit fasilitas pendidikan, lima unit fasilitas ibadah, satu unit balai desa dan dua unit posyandu yang terdampak serta 50 meter jalan mengalami rusak berat akibat peristiwa tersebut.

Ia memastikan, BPBD Kota Batu Bara telah melakukan upaya penanganan darurat banjir dengan membuat tanggul sementara dari karung goni sebagai penahan ombak air pasang. "Adapun BPBD bersama perangkat daerah setempat melakukan pelaporan secara berkala untuk memantau lokasi kejadian," tambah Abdul.

Kebutuhan mendesak saat ini adalah pemecah ombak pada dua desa dan satu kelurahan untuk mencegah terjadinya gelombang pasang susulan.

Sebagai informasi, berdasarkan peringatan gelombang tinggi yang dikeluarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) per 7 sampai 9 Oktober 2021, area perairan dengan gelombang sedang 1,25 - 2.50 meter pada Perairan Barat Aceh, Selat Malaka bagian utara, Selat Sumba bagian barat, Perairan Pulau Sawu - Rote, Laut Sawu, Perairan Selatan Pulau Flores, Selat Sape Bagian Selatan dan Selat Ombai.

Kajian analisis inaRISK menunjukkan bahwa Kota Medan dan Batu Bara memiliki potensi bahaya gelombang ekstrem dan abrasi pada tingkat sedang hingga tinggi. Merespon hal tersebut, BNPB mengimbau masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir maupun area permukiman dengan potensi gelombang tinggi dapat meningkatkan kewaspadaan.

Perangkat daerah setempat juga dapat mempersiapkan rencana kesiapsiagaan dan mitigasi bencana dengan membuat sistem peringatan dini sederhana untuk mendeteksi gelombang tinggi, membuat penahan atau pemecah ombak serta rencana evakuasi jika terjadi banjir rob susulan. (H-1)

BERITA TERKAIT