08 October 2021, 15:37 WIB

UNDP: Sebelum Pandemi, RI Alami Kemajuan dalam Pengentasan Kemiskinan


Insi Nantika Jelita | Humaniora

INDONESIA dinilai sudah membuat kemajuan dalam berbagai dimensi pengentasan kemiskinan sebelum pandemi covid-19. Hal itu mengacu Indeks Kemiskinan Multidimensi (MPI) global terbaru, yang dirilis oleh United Nations Development Programme (UNDP).

Adapun indeks kemiskinan tidak hanya mencakup penghasilan, namun juga akses ke air bersih, pendidikan, listrik, makanan dan enam indikator lainnya. UNDP mencatat 3,6% dari total penduduk Indonesia atau 9,5 juta orang miskin secara multidimensi.

Lalu, 4,7% atau sekitar 12,8 juta orang rentan terhadap kemiskinan multidimensi berdasarkan data 2017. Pada 2012, sekitar 6,9% dari total penduduk Indonesia atau 17 juta orang tergolong miskin secara multidimensi.

Baca juga: Target Penurunan Kemiskinan 2022 Berat untuk Dicapai

“Indeks Kemiskinan Multidimensi memberikan perspektif tentang kemiskinan yang tidak hanya mencakup pendapatan," jelas Kepala Perwakilan UNDP Indonesia Norimasa Shimomura dalam keterangan resmi, Jumat (8/10).

MPI menganalisis 10 indikator dalam berbagai dimensi dengan bobot yang sama. Termasuk, kesehatan, pendidikan dan standar hidup, mengidentifikasi populasi miskin, serta penyebab kemiskinan. Dimensi kesehatan dan pendidikan berasal dari dua indikator. Sedangkan, taraf hidup berdasarkan pada enam indikator. 

Dalam kasus Indonesia, MPI menggunakan sembilan dari 10 indikator. Namun, tanpa informasi tentang gizi karena minimnya data yang tersedia. Nilai MPI yang merupakan proporsi penduduk miskin, secara multidimensi disesuaikan dengan intensitas kemiskinan, yakni sebesar 0,014. Itu menunjukkan perbaikan dibandingkan data terakhir pada 2012 sebesar 0,028.

Baca juga: Wapres Tegaskan Penanganan Kemiskinan Ekstrem jadi Prioritas

Meski MPI terbaru menyajikan temuan yang menggembirakan, studi pada puncak pandemi covid-19 atau sekitar 2020, memberikan gambaran suram. Survei Rumah Tangga oleh UNDP bekerja sama dengan UNICEF, Kemitraan Australia Indonesia untuk Pembangunan Ekonomi dan lembaga SMERU, mencatat dampak pandemi menghambat upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Penurunan pendapatan dan peningkatan pengeluaran telah membuat rumah tangga yang disurvei, atau berada di kelompok 40% terbawah dalam masyarakat, menjadi lebih miskin dan bahkan lebih rentan. "Meskipun laporan ini menunjukkan beberapa kemajuan di antara kelompok paling rentan di Indonesia sebelum pandemi, lebih dari satu juta orang berpotensi jatuh ke dalam kemiskinan," ungkap Norimasa.

Di lain sisi, indikator dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pandemi menyebabkan kemunduran berbagai pencapaian pengentasan kemiskinan di Indonesia. Tingkat kemiskinan secara keseluruhan mencapai angka dua digit, yaitu 10,19% per Agustus 2020. Angka itu dinilai meningkat jadi 10,14% pada Maret 2021.(OL-11)

BERITA TERKAIT