06 October 2021, 21:49 WIB

MBKM Respons Terhadap Tren Perubahan Dunia Ketenagakerjaan


Widhoroso | Humaniora

KEBIJAKAN Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) merupakan respons Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset Teknonologi (Kemendikbudristek) atas tren perubahan pada dunia kerja yang terus terjadi seiring dengan perkembangan teknologi dan menghilangnya sekat-sekat geografis.

Hal itu diungkapkan Mendikbudristek Nadiem Makarim dalam konferensi nasional bertajuk 'Sebuah Inisiatif Ketenagakerjaan dan Kewirausahaan yang Inklusif' yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa (5/10).

"Kami yakin bahwa dengan mendorong mahasiswa untuk belajar di luar kampus, mereka akan siap berenang di lautan lepas dengan ombak yang kencang yakni dinamika dunia kerja dan lingkungan masyarakat," jelas Nadiem dalam keterangan yang diterima, Rabu (6/10).

Hadir pula dalam konfrensi tersebut Direktur Kantor Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Kemitraan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) Thomas Crehan dan Plt Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kemendikbudristek Prof. Ir. Nizam, M.Sc.

Dalam kesempatan tersebut, Nadiem juga memberikan apresiasi atas kolaborasi Kemendikbudristek dengan USAID. "Harapan ke depannya, kita akan terus meningkatkan angka partisipasi mahasiswa. Mari kita terus menguatkan kolaborasi dan bergerak serentak untuk mewujudkan Merdeka Belajar," jelasnya.

Di sisi lain, Thomas Crehan, menyatakan pemerintah Amerika Serikat, melalui USAID, terus bekerja bersama Indonesia untuk memperkuat sumber daya manusia dan mengembangkan potensi angkatan kerja. Dijelaskan, upaya kolaboratif USAID Kuliah Kerja Nyata (KKN) maupun Praktik Kerja Lapangan Tematik Kewirausahaan (PKL-TKWU) telah dirasakan manfaatnya oleh lebih dari 38 ribu mahasiswa di lebih dari 3.000 desa. "Upaya bersama ini telah mempersiapkan orang muda untuk berkontribusi bagi perekonomian Indonesia," jelasnya.

Sedangkan Nizam mengatakan banyak karya mahasiswa saat kuliah kerja nyata dengan ide kreatif belum dimanfaatkan secara optimal. Ia menyayangkan karya-karya kreatif mahasiswa sering kali terhenti sampai pada tahap pameran atau dimunculkan sekali setahun saat pameran Hari Pendidikan Nasional atau Hari Kemerdekaan.

Menurut Nizam, dengan Indonesia memiliki perguruan tinggi lebih dari 4.000, 300 ribu dosen yang membimbing kurang lebih delapan juta mahasiswa, seharusnya dapat memberikan lebih banyak ide kreatif yang mengalir dan dapat dimanfaatkan, baik oleh pelaku industri maupun masyarakat. "Kita ingin karya-karya itu menghilir dan bisa dimanfaatkan industri serta masyarakat," kata" dia.

Konferensi Nasional ini sendiri diadakan untuk menyajikan capaian-capaian program USAID Mitra Kunci yang berdurasi lima tahun dan akan berakhir Januari 2022. Dalam konfrensi ini ditampilkan bagaimana USAID telah membangun kemitraan multipihak, termasuk dengan Pemerintah Indonesia melalui Kemendikbudristek dan sebelas mitra perguruantinggi, untuk meningkatkan akses dan keterampilan kelompok-kelompok miskin dan rentan termasuk orang muda, perempuan, dan orang-orang dengan disabilitas, terhadap peluang kerja maupun wirausaha, khususnya melalui program KKN atau PKL-TKWU. (Ant/RO/OL-15)

BERITA TERKAIT