06 October 2021, 13:19 WIB

Pelaku Industri dan Bisnis Harus Manfaatkan Energi Baru Terbarukan


mediaindonesia.com | Humaniora

PEMANFAATAN energi baru terbarukan (EBT) bagi pelaku industri dari berbagai sektor bisnis dinilai dapat mengakselerasi tercapainya green economy atau ekonomi hijau di Indonesia.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan membangun kawasan industri hijau yang nantinya didukung oleh sumber energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Atap, sehingga produk yang dihasilkan termasuk dalam kategori produk hijau (green product).

Selain mampu mengurangi penggunaan energi fosil di kalangan industri, pemanfaatan EBT juga mampu menyerap dan menciptakan lapangan kerja baru.

Hal ini sejalan dengan prinsip ekonomi hijau yakni mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa mengeksploitasi sumber daya alam sehingga akan berdampak baik bagi lingkungan di masa depan.

Fabby Tumiwa, Strategic Advisor Xurya Daya Indonesia yang juga merupakan Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) mengatakan,“Transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan merupakan keniscayaan saat ini, di tengah dunia yang sedang berpacu menghindari krisis iklim."

"Dampak dari pemanfaatan energi terbarukan berkontribusi pada pembangunan yang berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs)," kata Febby dalam keterangan pers, Rabu (6/10).

"Selain dapat mengurangi emisi karbon, penggunaan energi bersih juga membuka kesempatan lapangan kerja baru dan mengatasi pengangguran sehingga mengakselerasi pertumbuhan ekonomi hijau,” jelasnya.

Badan Energi Terbarukan Internasional atau IRENA mencatat, sektor energi terbarukan tahun lalu menciptakan 11,5 juta pekerjaan secara global dimana 3,8 juta pekerjaan berasal dari energi surya.

IRENA juga menyebutkan, sebesar 63% pekerjaan baru tersebut berada di Asia dan menjadi pemimpin pasar energi terbarukan.

Eka Himawan, Managing Director Xurya Daya Indonesia menambahkan, “Setiap proyek instalasi PLTS Atap yang kami kerjakan, tidak hanya melibatkan tenaga kelistrikan, tetapi ada banyak tenaga kerja yang terlibat di dalamnya."

"Jadi selain bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan, setiap pelaku industri yang melakukan instalasi PLTS Atap secara tidak langsung juga menyerap tenaga kerja baru, sehingga akan tercipta pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” papar Eka.

Tetapi, terciptanya lapangan kerja yang inklusif ini juga perlu didukung oleh kebijakan komprehensif dari berbagai pihak dengan menyediakan pendidikan dan pelatihan para pekerja di sektor energi hijau.

Selain itu dukungan pemerintah dalam merumuskan kebijakan strategis berorientasi jangka panjang juga diperlukan untuk meningkatkan iklim investasi di sektor EBT.

“Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan agar target green economy dapat tercapai dengan lebih terencana dan sistematis,” tutup Fabby. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT