05 October 2021, 20:34 WIB

KLHK: 50% Bahan Baku Daur Ulang Masih Impor


Humaniora | Humaniora

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyoroti kepemilikan potensi bahan baku untuk industri daur ulang di Indonesia demi menekan impor sampah sebagai bahan baku.

"Ternyata bahan baku daur ulang itu 50 persen kita masih impor. Ini berulang kali saya tekankan," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun dan Berbahaya (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati dalam diskusi secara virtual "Festival Peduli Sampah Nasional 2021" dipantau dari Jakarta, Selasa (5/10).

Kajian pemetaan usaha pengumpulan bahan baku daur ulang plastik dan kertas di Indonesia oleh KLHK, kata dia, menemukan daur ulang plastik pascakonsumsi baru mencapai tujuh persen dengan 15 persen bahan baku berasal dari impor.

Baca juga: Kasus Aktif RI Turun di Bawah 1% dalam Sepekan Terakhir

Laju daur ulang kertas mencapai 13,15 persen dengan 50 persen bahan baku masih didapat dari impor. Padahal, 54 persen dari total sampah plastik dan 55 persen total sampah kertas masih terbuang ke lingkungan atau belum didaur ulang.

"Kenapa terjadi? Karena sampah kita belum kita pilah dengan baik, kotor sampahnya," katanya.

Untuk menekan impor bahan baku daur ulang itu, KLHK bersama Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan menyusun peta jalan pengelolaan limbah non-B3 sebagai bahan baku industri yang di dalamnya juga mengatur penurunan impor bahan baku daur ulang secara bertahap.

Ia menyatakan pentingnya terus didorong agar perusahaan daur ulang dapat hadir di seluruh Indonesia untuk memanfaatkan sampah yang sudah terpilah, salah satunya di bank sampah.

Vivien juga menjelaskan bahwa KLHK telah mengukuhkan peta jalan pengurangan sampah oleh produsen yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri LHK Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen dengan salah satunya mendorong penarikan kembali sampah oleh produsen.

"Bapak, ibu, dari produsen kami paham betul itu tidak mudah. Tapi cobalah tujukan iktikad baiknya memang untuk mengubah kemasannya, me-redesign kemasannya menjadi yang tidak sekali pakai," kata dia. (Ant/H-3)

BERITA TERKAIT