03 October 2021, 14:15 WIB

Tingkat Vaksinasi Pelajar Masih Rendah dan Banyak Sekolah Melanggar Prokes


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

RELAWAN LaporCovid-19 menilai tingkat vaksinasi untuk pelajar dinilai masih sangat kecil sehingga sangat berisiko ketika Pertemuan Tatap Muka (PTM) digelar. Ditambah masih banyaknya laporan sekolah yang tidak mematuhi protokol kesehatan (prokes) selama PTM berlangsung.

Hingga 2 oktober 2021 vaksinasi pada pelajar baru 14,71% untuk dosis pertama dan 9,98% untuk dosis kedua. Capaian ini masih tergolong rendah untuk usia pelajar dengan rentan usia 12-17 tahun. Sedangkan vaksinasi untuk guru dosis pertama baru terealisasi 62,18% dan dosis kedua 38%.

"Pelaksanaan PTM juga memiliki risiko terinfeksi terutama pada anak-anak di bawah 12 tahun yang belum diperbolehkan untuk vaksin covid-19," kata relawan LaporCovid-19 Natasha Devanand Dhanwani dalam webinar Pembelajaran Tatap Muka Pertaruhkan Keselamatan Anak dari LBH Jakarta, Minggu (3/10).

LaporCovid-19 juga menerima laporan pelanggaran protokol kesehatan di lingkup sekolah. Setidaknya 167 aduan terverifikasi tentang penyelenggaraan PTM yang melanggar prokes. Sejak Januari hingga 27 September 2021 Pelanggaran paling banyak terjadi di tingkat SD sebanyak 31,6% dan SMA 27%.

"Di September sendiri telah menerima 22 laporan mengenai tidak memadainya sarana prasarana pendukung untuk memitigasi pengobatan covid-19, penyelenggaraan protokol kesehatan oleh warga sekolah, dan juga penyimpangan yang dilakukan sekolah terkait perizinan masuk sekolah tatap muka yang seharusnya dengan persetujuan orang tua tanpa paksaan," ungkapnya.

Salah satu laporan berasal dari sekolah di Kabupaten Sukabumi Jawa Barat pada 7 September 2021 menceritakan bahwa sekolahnya tidak mematuhi protokol kesehatan seperti meja tidak disekat, keran air di beberapa titik mati, bahkan hand sanitizer pun hanya ada di beberapa tempat saja.

Laporan kedua berasal dari salah satu sekolah di Jawa Barat pada 14 September 2021 bahwa sekolah tersebut tidak mematuhi protokol kesehatan yakni jarang ada yang memakai masker mulai dari kepala sekolah guru dan lainnya.

"Fasilitas seperti hand sanitizer atau untuk cuci tangan pun tidak ada hanya ada di kamar mandi, jam pelajaran juga setiap hari, praktik olahraga, memasak sama sekali tanpa protokol covid-19 dan siswa juga diminta untuk berangkat sekolah dari Senin sampai Jumat tanpa adanya pemberitahuan pembagian shift," pungkasnya. (H-1)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BERITA TERKAIT