02 October 2021, 21:17 WIB

Pelibatan Generasi Muda Jadi Kunci Pelestarian Batik Sebagai Budaya Identitas Indonesia 


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

BATIK yang merupakan hasil karya perpaduan keahlian dan kreativitas seni manusia, adalah identitas bangsa Indonesia. Batik juga telah menjadi penopang sektor ekonomi yang penting bagi sebagian masyarakat. Pada 2021, sekitar 18.000 usaha Batik kecil dan menengah tercatat di Kementerian Perindustrian. Sejak 2009, Batik juga diakui oleh UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau Warisan Budaya tak Benda.  

“Namun, bisakah kita yakin dalam 20-30 tahun kedepan, kita masih bisa mengagumi keindahhan karya Batik Tulis yang dibuat oleh tangan? Dalam hal ini maka pelibatan para generasi muda adalah sebuah kewajiban. Dan karenanya, kita harus memberdayakan generasi muda dalam mengembangkan nilai warisan budaya ini kedepannya," kata Mohamad Djelid, Direktur UNESCO Jakarta. 

Hal itu mendorong UNESCO dan Citi Indonesia memulai program untuk mengembangkan kewirausahaan budaya melalui generasi muda untuk memastikan tradisi warisan dunia tetap berlanjut melalui pengembangan usaha yang keberlanjutan. 

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi sangat sepakat bahwa melibatkan generasi muda adalah kunci untuk memastikan bahwa upaya pelestarian warisan budaya, seperti batik, bisa terus berlangsung dan tidak punah. 

“Dalam tahun keempat dukungan kami terhadap program ini, Citi sangat bangga melihat bahwa meski didera pandemi, program Kita Muda Kreatif bisa terus memberikan manfaat positif kepada para para peserta program maupun masyarakat di sekitarnya.“ 

Sejak penerapan pembatasan kegiatan masyarakat oleh pemerintah untuk mengurangi laju penyebaran Covid-19, program Kita Muda Kreatif telah sukses menjangkau lebih dari 400 wirausaha muda dan mendampingi mereka untuk terus produktif dan kreatif dalam usahanya. 

Hingga saat ini, program Kita Muda Kreatif telah menjangkau 600 generasi muda sebagai penerima dibeberapa wilayah di Indonesia disekitar situs warisan dunia. 

Meskipun pandemi masih berlangsung, para wirausaha muda kreatif tetap menjaga semangat mereka untuk melanjutkan serta menjelajah berbagai kesempatan yang beragam untuk menjaga agar Batik agar tetap lestari. 

Baca juga : Hari Batik Nasional, Museum punya Peran Penting dalam Pelestarian dan Regenerasi Batik 

Banyak inisiasi kreatif yang lahir dari mereka, seperti mengembangkan masker dari batik sebagai sebuah fashion statement yang baru, mengembangkan serta membangkitkan kembali teknik pewarnaan alami dengan bahan dari alam, bahkan membuat paket membatik gerabah untuk anak-anak sehingga meski dirumah saja, anak-anak tetap bisa belajar membuat batik.  

“Batik adalah warisan budaya kita. Ini adalah tanggung jawab kita untuk mencintai dan menjaganya,” ungkap Khaleili Nungki Hashifah, pemilik Creative Batik di Yogyakarta dengan semangat. “Saya sangat senang karena Kita Muda Kreatif tetap mendukung para pembuat batik muda untuk mengembangkan bisnis berkelanjutan sehingga kami mampu untuk berkontribusi dalam pelestarian budaya,” tambahnya. 

Rekna Indri, pemilik Batik Kani di Klaten membuat karya batik dengan motif candi karena Indonesia juga memiliki banyak candi. 

Dalam Hari Batik Nasional 2021 yang jatuh pada 2 Oktober, UNESCO dan Citi Indonesia mempersembahkan  cerita para generasi muda yang teguh menjaga tradisi batik dalam kehidupan mereka. 

Dalam acara ini selain dihadirkan tur virtual ke desa-desa pembatik di wilayah Klaten, Jawa Tengah, akan ada juga kuis-kuis menarik serta pasar virtual yang menampilkan karya para pembatik muda yang sayang untuk dilewatkan. 

“Kami  sangat mengapresiasi dengan terselenggaranya kegiatan virtual tour of batik village serta memfasilitasi online batik fest yang mempromosikan penjualan hasil karya pembuat batik muda, desainer, serta para pengusaha kreatif berbasis budaya, serta para pengrajin lainnya. Besar harapan kami acara ini dapat memberikan dampak positif yang signifikan kepada para pengusaha muda kreatif khususnya pada sektor industri wastra khususnya batik dan produk-produk turunan lainnya.” ujar E. Ratna Utarianingrum, Direktur Industri Aneka & IKM Kimia, Sandang & Kerajinan, Kementerian Perindustrian. 

“Syukur-syukur, kalau kita mau membatik kita arahkan ke warna-warna alami yang mana warna alami ini ramah lingkungan. Maka saya berharap, dengan meningkatnya kualitas batik dan meningkatnya masyarakat mencintai batik, maka batik menjadi tumpuan ekonomi.” Ungkap H. Taj Yasin Maimoen Wakil Gubernur Jawa Tengah. 

Perayaan virtual itu adalah salah satu bagian dari program Creative Youth at Indonesian Heritage Sites, yang dilaksanakan oleh UNESCO Jakarta dan Citi Indonesia dibawah dukungan Citi Foundation yang juga  dikenal sebagai Program Kita Muda Kreatif. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT