02 October 2021, 20:20 WIB

Hari Batik Nasional, Museum punya Peran Penting dalam Pelestarian dan Regenerasi Batik 


Anggi Putri Lestari | Humaniora

BATIK Indonesia diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Batik Nasional. 

Menurut peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan, Warisan Budaya Takbenda adalah berbagai hasil praktek, perwujudan, ekspresi pengetahuan dan keterampilan yang terkait dengan lingkup budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi secara terus menerus melalui pelestarian dan/atau penciptaan kembali serta merupakan hasil kebudayaan yang berwujud budaya tak benda setelah melalui proses penetapan budaya takbenda. 

“Warisan budaya takbenda itu digambarkan sesuatu yang tak dapat dipegang, tapi dapat dilihat dan dinikmati, namun juga bisa berlalu dengan seiringnya waktu, warisan budaya takbenda memang sangat rentan untuk cepat menghilang atau menyesuaikan dengan perkembangan zaman”  kata Direktur Perlindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Irini Dewi dalam diskusi bincang batik Regenerasi Batik Di Indonesia, Sabtu (2/10). 

Berbicara mengenai batik, museum adalah salah satu wadah untuk melestarikan batik. Menurut International Council Of Museums, museum adalah lembaga non profit yang bersifat permanen dan yang melayani masyarakat, serta perkembangannya terbuka untuk umum. 

Museum berfungsi untuk mengumpulkan, melestarikan, meneliti, mengkomunikasikan  dan memamerkan warisan sejarah kemanusiaan yang berwujud benda dan takbenda. 

Baca juga : Peringati Hari Batik Nasional, Pemprov DKI Gelar Pameran di Museum Tekstil 

Ada 3 tugas museum dalam pelestarian yaitu pengkajian, pengetahuan, dan rekreasi. Pendukung regenerasi pengetahuan batik melalui museum itu bisa dilhat dari mengembangkan program edukasi tentang batik dan maknanya sesuai dengan perkembangan saat ini. 

Selain itu, menyelenggarakan program interaktif dengan pembatik untuk memperkenalkan profesi pembatik. 

Museum bisa juga melakukan pengkajian untuk mengembangkan pengetahuan dan pelestarian batik. 

“Pelestarian itu harus berbasis masyarakat agar   ekosistemnya dari proses penyediaan bahan dasar hingga pemakaian nantinya akan terus ada bisa berlangsung sehingga pewarisannya dari generasi ke generasi juga akan terus berlanjut” pungkas Irini. (OL-7)
 

BERITA TERKAIT