01 October 2021, 13:55 WIB

Kurikulum Pendidikan Tinggi Selalu Telat Mengejar Kemajuan Dunia Kerja


Faustinus Nua | Humaniora

KURIKULUM pendidikan tinggi masih kesulitan mengejar kemajuan dunia kerja atau industri. Alasannya, kurikulum yang dirumuskan atau diterapkan saat ini akan menghasilkan lulusan 5 tahun ke depan dengan berbagai perubahan yang sulit diprediksi dan sangat pesat.

Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Dirjen Dikti-Ristek), Kemendikbud-Ristek, Prof. Nizam mengungkapkan hal tersebut saat memberi sambutan dalam acara Dies Natalis ke-62 Universitas Tarumanegara, Jakarta, .  Jumat (1/10). "Ketika mahasiswa menggunakan kurikulum baru ini lulus, dunia sudah berubah total. Kita bisa melihat ini dan merefleksikan 5 tahun lalu, banyak sekali hal baru yang dulu tidak pernah terbayangkan," ujarnya

Nizam menyampaikan bahwa upaya perbaikan kurikulum terjadi setiap 5 tahun. Dalam perumusannya, masukan dari semua pihak termasuk dunia kerja sangat dibutuhkan agar lulusan pendidikan tinggi bisa selalu relevan dengan kebutuhan zaman ke depan.

Akan tetapi dia mengakui bahwa sulit untuk mengejar kemajuan dunia kerja yang begitu cepat. Bahkan Nizam mencotohkan kurikulum dan kemajuan dunia kerja layaknya serial kartun popular Tom & Jerry. "Kejar-kejaran, tapi tidak pernah tertangkap karena dunia kerja dinamikanya sangat tinggi dan pendidikan tinggi selalu terlambat minimal 5 tahun dari kemajuan di dunia kerja," imbuhnya.

Hal itu merupakan tantangan dunia pendidikan tinggi yang terus berupaya menghasilkan lulusan terbaik dan sesuai kebutuhan zaman. Apalagi di era indstri 4.0 dan perkembangan teknologi, tantangn itu kian berat bila tidak mampu beradaptasi lewat inovasi-inovasi.

Lantas, hadirnya Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) menjadi angin segar bagi institusi pendidikan tinggi. MBKM esensi yang paling fundamental bagaimana menyiapkan lulusan yang selalu relevan dengan perubahan dan dinamika dunia kerja. Tentu saja hal itu tidam terlepas dari sinergi dan kolaborasi dengan dunia kerja itu sendiri. "Kampus Merdeka merupakan cara terbaik kita untuk memastikan bahwa lukusan pendidikan tinggi relevan dengan dinamika yang terjadi di dunia kerja. Untuk itu sinergi adalah kata kunci," tegas Nizam.

Cara terbaik untuk memprediksikan hari esok, menurut Nizam, adalah dengan menciptakan hari esok tersebut. Saat ini dengana adanya Kampus Merdeka kita ciptakan hari esok bersama-sama dengan kampus kehidupan," tandasnya.(H-1)

BERITA TERKAIT