28 September 2021, 09:45 WIB

Saatnya Mengarusutamakan Isu Pendidikan


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

ISU dan pemberitaan dunia pendidikan di media massa sudah selayaknya mendapatkan porsi yang lebih besar dibandingkan isu-isu lainnya agar media massa dan masyarakat bisa turut adil membangun pendidikan di Tanah Air

Pendapat tersebut disampaiakan wartawan senior Frans Surdiasis dalam program Fellowship Jurnalisme Pendidikan di Jakarta, Senin (27/9). Frans memaparkan untuk mengarusutamakan isu pendidikan yang paling awal adalah memiliki pengetahuan yang baik terkait persoalan atau obyek yang akan diliput sehingga akan muncul cara yang baik juga dalam penulisannya.

Hal ini tentunya bisa diterapkan dalam penulisan yang straight, mendalam, sosok dan lainnya. Dalam konteks mengarus utamakan pendidikan memiliki tantangan yakni berita pendidikan sering kali dinilai tidak menarik. "Untuk mengarus utamakan pendidikan maka ditingkat awal individu jurnalisme adalah harus betul-betul memiliki pengetahuan yang baik dengan persoalan pendidikan dan objek yang diliput. Dengan begitu maka akan muncul cara yang paling baik juga untuk mempublikasikannya," kata Frans.

Selanjutnya, pendidikan sejatinya memiliki narasi besar. Sehingga wartawan perlu membantu masyarakat memahami implikasi konkritnya. Dua narasi besar yakni Merdeka Belajar dan Pendidikan Era 4.0.

Dalam mengarusutamakan isu pendidikan tentunya memiliki tantangan yakni bagaimana melaporkan persoalan pendidikan dalam cara yang menarik perhatian banyak orang dan pada saat yang sama mampu mendudukkan masalah secara tepat dengan bahasa yang sederhana.

"Bagaimana kita melaporkan soal pendidikan yang menarik banyak orang pada yang dan mampu mendudukkan masalah dengan cara yang tepat dan bahasa yang sederhana, dalam cara yang sederhana ini semakin sederhana maka semakin baik," ujar Frans.

Prinsip parsimony diharapkan bisa menjadi cara jitu untuk menarik pembaca memberi perhatian lebih kepada isu pendidikan. prinsip tersebut yakni semakin sederhana semakin baik. Paradoksnya, kemampuan untuk mengungkapkan sesuatu secara sederhana justru mensyaratkan pengetahuan yang luas tentang subjek bersangkutan. (H-1)

BERITA TERKAIT