27 September 2021, 21:43 WIB

Soal 2,8% Sekolah Jadi Klaster Covid-19, Ini Penjelasan Nadiem 


Nur Aivanni | Humaniora

MENTERI Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim meluruskan terkait miskonsepsi angka 2,8% sekolah menjadi klaster covid-19 selama melakukan pembelajaran tatap muka (PTM). 

"Angka 2,8% satuan pendidikan walaupun itu sudah kecil, tetapi itu data kumulatif, bukan data per satu bulan. Jadi, itu semua dari seluruh masa covid ini, bukan dari bulan terakhir dimana PTM terjadi," kata Nadiem dalam konferensi pers virtual, Senin (27/9). 

Lebih lanjut, dia pun mengatakan bahwa pemerintah berencana mengintegrasikan aplikasi PeduliLindungi untuk pembelajaran tatap muka di sekolah. 

"Integrasi kepada PeduliLindungi dan mengimplementasi program itu di sekolah-sekolah kita," katanya. 

Hal tersebut, sambungnya, merupakan kolaborasi antara Kemendikbud Ristek dan Kementerian Kesehatan. Selain integrasi aplikasi PeduliLindungi ke sekolah, kolaborasi lainnya adalah tes acak terkait virus korona. 

Kemendikbud Ristek bakal menutup sekolah yang angka positivity rate-nya di atas lima persen. 

Baca juga : Ada Miskonsepsi soal Klaster Covid-19 PTM, Ini Kata Menkes 

"Kita akan secara spesifik menutup sekolah, di mana kalau sudah melampaui 5 persen positivity rate. Jadi secara klinis dan juga secara statistik jauh lebih valid, jauh lebih targeted dan tidak merugikan," terangnya. 

Pada kesempatan itu, Nadiem mengatakan bahwa pemerintah tidak terlalu khawatir mengenai potensi tren penularan covid-19 saat pembelajaran tatap muka (PTM). 

"Kami tidak terlalu khawatir mengenai tren saat sekolah melakukan PTM, tapi saya lebih khawatir lagi bahwa hanya 40% dari sekolah kita yang bisa melakukan PTM. Jadi, ada 60% sekolah yang sebetulnya sudah boleh PTM, namun belum (melakukan PTM)," ujar Nadiem. 

Data dari Bank Dunia dan berbagai macam institusi research, jelasnya, menunjukkan betapa menyeramkannya learning loss yang bisa terjadi. 

"Ini di luar kondisi psikologis yang bisa terjadi, apalagi di tingkat SD dan PAUD, di mana mereka paling membutuhkan PTM. Bahwa kalau sekolah tidak dibuka dampaknya bisa permanen," tuturnya. 

"Jadi ini merupakan satu hal yang lebih mencemaskan lagi buat kami, seberapa lama anak-anak ini sudah melakukan pembelajaran jarak jauh, yang jauh di bawah efektivitas sekolah tatap muka," tandasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT