25 September 2021, 21:35 WIB

Jaringan Internet BAKTI Membuat Pulau Auki tidak Lagi Kelam


mediaindonesia.com | Humaniora

PULAU Auki, Kabupaten Biak Numfor, Papua, merupakan salah satu pulau terluar di Indonesia yang letaknya amat strategis. Keindahan alam yang memukau menjadikan potensi wisata alam di wilayah ini patut diperkenalkan pada dunia. 

Bahkan, dalam sejarah perjalanannya, pulau ini punya potensi wisata sejarah bawah laut, yakni terkubur puluhan kapal perang di dasar perairan laut Pulau Auki. 

Namun sayangnya, dari 19 distrik atau kecamatan yang ada di Kabupaten Biak Numfor baru 2 distrik yang terkoneksi dengan sambungan telekomunikasi dan internet. Artinya, selama ini mayoritas warga Biak Numfor masih terisolasi di wilayah blind spot

Di Distrik Padaido, Pulau Auki, misalnya, pendidikan di masa pandemi Covid-19 ini terpaksa harus berjalan dengan metode luring. Hal ini disebabkan kondisi pulau ini belum ada sama sekali sinyal internet. 

Kepala SDN Away, Distrik Padaido, Yokobus Kafiar, mengatakan, pembelajaran luring masih berjalan seperti biasa dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Setiap Senin hingga Rabu, murid aktif belajar di kelas, sedangkan Kamis sampai dengan Sabtu, mereka mengerjakan tugas dari rumah. 

“Sejak awal pandemi, memang belum bisa diterapkan pembelajaran daring di sini, karena tidak ada akses internet dan kondisi masyarakat di sini,” kata Yokobus dalam tayangan Bakti Untuk Negeri di Metro TV, tadi malam.

Dengan kondisi yang ada saat ini, ia pun berharap, pemerintah mulai memperhatikan kondisi sarana pendidikan di wilayah Padaido. Di sana, hanya ada satu sekolah dasar dan masyarakatnya harus keluar pulau apabila ingin mengakses pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 

“Kami berharap juga sinyal internet diperhatikan di sini. Masyarakat dan pendidikan di sini juga butuh adanya internet,” kata dia. 

Kondisi memprihatinkan lainnya dirasakan tak hanya di sektor pendidikan. Sektor kesehatan di pulau ini pun amat memprihatinkan, di mana hanya ada satu puskesmas pembantu (Pustu) yang tidak dilengkapi oleh tenaga medis baik dokter pembantu ataupun tenaga kesehatan lainnya. 

Pustu di wilayah ini ­hanya dijaga oleh kader yang menyediakan pelayanan ­seadanya. Para ibu hamil di Pulau Auki harus jauh menyebrangi pulau ke Biak Kota untuk mengakses fasilitas kesehatan apabila diperlukan. 

Kader Puskesmas Pulau Auki, Elisabet Inggamer, menyampaikan, kader Pustu yang bertugas setiap hari hanya berjumlah 2 orang. Di saat genting pun warga setempat harus berangkat menggunakan perahu ke luar pulau untuk mengakses fasilitas kesehatan. 

“Sosialisasi 3M di sini selama pandemi hanya dilakukan oleh kader pustu, memang tidak mudah tapi pelan-pelan kami lakukan,” kata dia.

Elizabet pun berharap pemerintah lebih memperhatikan kondisi fasilitas kesehatan di pulau ini. Bahkan untuk makanan tambahan para ibu hamil, bayi, dan balita saja harus didukung sendiri oleh para kader. 

Kades Sandidori Yafet ­Arwakon menambahkan, selama ia tinggal di Sandidori sinyal telekomunikasi dan internet memang sama sekali belum ada. Di saat sekolah daring berlangsung di Jakarta dan kota lainna, di Sandidori justru masih melakukan ­kegiatan luring. 

“Aparat desa pun koordinasi ke kecamatan masih sulit. Harus akses pakai perahu keluar pulau dan menempuh 1 jam perjalanan,” kata dia. 

Ia berharap, dengan adanya sinyal internet dari pembangunan ratusan BTS di sekitar kepualaun Biak Numfor koneksi di wilayah Kepulauan makin baik dan bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar. 

Kepala Diskominfo Biak Numfor, Mukhlis Salefu, menyampaikan, di wilayahnya memang baru dua distrik yang 90% wilayahnya mendapatkan akses interntet. Dua wilayah itu adalah Biak Kota dan Samofa. 

“Sebanyak 17 distrik lainnya blind spot,” kata dia. 

Saat ini, pemerintah melalui program Bakti Kominfo terus melakukan koordinasi bekerja sama dengan warga setempat untuk membangun 108 unit tower BTS hingga ­akhir tahun. 

“Skema pembangunan ­tower BTS ini adalah pemerintah yang memfasilitasi pembangunan infrastrukturnya dan warga yang menyediakan hibah lahan untuk titik pembangunannya. Dan kami bersyukur warga ­sangat antusias dalam pembangunan tower ini,” kata dia. 

Adapun titik pembangunan tower di antaranya 32 tower di Kepulauan Numfor, 17 tower di Aimando Padaido dan 59 titik di biak daratan.

“Target selesai tahun ini tahap awal sudah mulai di Parai dan yang ada di Sandidori. Selama ini baru ada satu provider saja yang masuk sinyalnya. Dengan adanya BTS kami berharap provider lain ikut masuk,” tandas dia. (Gan/S2-25)

BERITA TERKAIT