25 September 2021, 14:21 WIB

Cegah Stunting Agar Generasi Emas Indonesia 2045 Bisa Terwujud


Syarief Oebaidillah | Humaniora

PEMERINTAH Indonesia menargetkan pembangunan Generasi Indonesia Emas 2045 agar Indonesia bisa termasuk ke dalam kelompok negara maju. Hal ini mensyaratkan manusia Indonesia yang sehat dan berkualitas sehingga pemenuhan gizi pada anak menjadi hal yang utama.

Ketua Umum  Asosiasi Perusahaan Produk Bernutrisi untuk Ibu dan Anak (APPNIA), Vera Galuh Sugijanto mengutarakan bahwa visi dan misi APPNIA  turut berkontribusi membantu peningkatan status gizi masyarakat khususnya ibu dan anak dalam 1.000 hari pertama kehidupan melalui layanan dan akses terhadap bahan pangan bergizi dan berkualitas. Serta tetap mendukung program pemerintah dalam hal pemberian ASI eksklusif.

"Melalui berbagai kebijakan, mengedepankan etika bisnis, dan program-program yang dilakukan oleh perusahaan anggota APPNIA, kami mendukung program pemerintah dalam upaya pemberian nutrisi kepada anak," kata Vera Galuh dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/9).

Pemerintah saat ini terus meningkatkan upaya penurunan angka stunting. Sebab kondisi stunting sangat berkaitan dengan penurunan tingkat kecerdasan manusia Indonesia di masa mendatang.

Hal ini didukung dengan terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting yang dikeluarkan Agustus lalu.

Sebelumnya Deputi Bidang Peningkatan Kesehatan, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Agus Suprapto, mengatakan Perpres Percepatan Penurunan Stunting mengedepankan kembali komitmen Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Desa sebagai kunci keberhasilan dalam percepatan penurunan stunting. Kolaborasi dan koordinasi di Pusat, provinsi, kabupaten/kota dan desa sangat diperlukan.

"Dalam penyelenggaraan percepatan penurunan stunting, di masing-masing daerah akan dibentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting yang diketuai oleh Pimpinan Daerah masing-masing. Ditekankan juga dalam Perpres bahwa intervensi yang dilakukan oleh K/L, Pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten/kota dilakukan secara konvergen dan terintegrasi," kata Agus dalam serial webinar  Kelas Jurnalis Gizi dan Anak yang digelar Tempo Institute, Sabtu (25/9).

Dia mengharapkan dukungan semua pihak  dan saling  bersinergi dalam pelaksanaan, pemantauan, evaluasi dan pelaporan untuk percepatan pencegahan stunting.

Spesialis Gizi Anak dari Universitas Indonesia, Damayanti Sjarif, mengemukakan stunting merupakan suatu kondisi perawakan pendek. Penyebabnya adalah kekurangan gizi kronik. Selain memengaruhi bentik fisik, stunting juga berpengaruh pada pertumbuhan otak dan tingkat kecerdasan anak.

baca juga: Stunting

"Untuk mengatasi stunting, pencegahan lebih baik dari pengobatan. Yakni berikanlah ASI dan makanan pendamping ASI yang mengandung cukup protein hewani serta melakukan pemantauan secara berkala," kata Damayanti.

Direktur Tempo Institute Qaris Tajudin mengatakan  permasalahan kesehatan, termasuk gizi, merupakan isu yang kompleks dan memerlukan dukungan berbagai pihak. "Media berperan untuk menyampaikan informasi dan edukasi yang tepat dan berimbang kepada masyarakat mengenai pemenuhan kebutuhan gizi yang sesuai bagi anak Indonesia," ujarnya. (N-1)

 

BERITA TERKAIT