22 September 2021, 21:55 WIB

Kelelawar dengan Virus Mirip Covid-19 Terdapat di Laos


Mediaindonesia.com | Humaniora

PARA ilmuwan menemukan petunjuk lain tentang asal-usul virus yang menyebabkan covid-19. Mereka melihat kelelawar yang tinggal di gua-gua di Laos membawa patogen serupa. Menurut para ahli, patogen tersebut berpotensi menginfeksi manusia secara langsung.

Virus itu telah membunuh jutaan orang sejak muncul di Tiongkok pada akhir 2019. Kontroversi terus berputar di sekitar dari mana asalnya sampai sekarang.

Beberapa ahli mengatakan itu didorong oleh hewan. Akan tetapi yang lain menunjukkan kemungkinan patogen bocor dari laboratorium.

Para peneliti dari Institut Pasteur Prancis dan Universitas Nasional Laos mengatakan temuan mereka menunjukkan bahwa virus yang secara genetik dekat dengan SARS-CoV-2 ada di alam. Mereka menunjuk spesies kelelawar di gua batu kapur di Laos utara. Asal tahu saja, Laos bertetangga dengan Tiongkok.

Dari virus yang mereka identifikasi di antara ratusan kelelawar yang diuji di Provinsi Vientiane, tiga ditemukan sangat mirip dengan virus penyebab covid-19, terutama dalam mekanisme menempel pada sel manusia. "Idenya yaitu mencoba mengidentifikasi asal mula pandemi ini," kata Marc Eloit yang memimpin laboratorium penemuan patogen Institut Pasteur kepada AFP.

Eloit, yang timnya menganalisis sampel yang dikumpulkan, mengatakan masih ada perbedaan utama antara virus yang ditemukan dengan SARS-CoV-2. Tetapi dia mengatakan pekerjaan itu merupakan langkah maju yang besar dalam mengidentifikasi asal pandemi dan membenarkan teori bahwa virus korona yang telah menyebar ke seluruh dunia bisa dimulai dengan kelelawar hidup.

Baca juga: Hingga Kini Enam Juta Suntikan Vaksin Covid-19 di Seluruh Dunia

Penulis penelitian, yang telah diserahkan ke Nature untuk tinjauan sejawat, memperingatkan bahwa temuan mereka menunjukkan virus baru tampaknya memiliki potensi yang sama untuk menginfeksi manusia dengan strain awal SARS-CoV-2. "Orang-orang yang bekerja di gua, seperti pengumpul guano atau komunitas religius pertapa tertentu yang menghabiskan waktu di dalam atau sangat dekat dengan gua, serta turis yang mengunjungi gua sangat berisiko terpapar," kata para penulis. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT