22 September 2021, 09:16 WIB

Pakar Minta Narasi Negatif BPA dalam Galon Guna Ulang Dihentikan


Mediaindonesia.com | Humaniora

BELAKANGAN ini ditengarai ada pihak-pihak yang secara sengaja menyebarkan narasi negatif dalam mempersepsikan migrasi bisfenol A (BPA) pada kemasan galon guna ulang berbahan polikarbonat. Penyebaran informasi negatif tersebut disesalkan oleh Kemenperin, pakar polimer, pakar keamanan pangan, dokter kandungan, dan dokter anak.

Penyebaran narasi berbau hoaks itu diminta agar segera dihentikan. Demikian benang merah yang didapat dari hasil diskusi media bertema Standar Keamanan Kemasan Pangan dan Kesehatan Konsumen yang digelar secara online, Selasa (21/9). Hadir dalam acara diskusi ini Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Ir Putu Juli Ardika didampingi Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin Edy Sutopo, Ahli Polimer ITB Ahmad Zainal, Dosen IPB dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Aziz Boing Sitanggang, Ketua Pokja Infeksi Saluran Reproduksi Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi (POGI) dokter Alamsyah Aziz, dan dokter spesialis anak Farabi El Fouz.
 
Putu menyampaikan isu soal BPA memang sangat sensitif. Karenanya, kata Putu, jika ada hal-hal yang diusulkan oleh pihak-pihak tertentu terkait BPA, dia menyarankan agar orang tersebut melihat juga mengenai standar yang dikeluarkan regulator terkait keamanan kemasan yang mengandung BPA tersebut. “Kita sudah punya satu standar yang bisa digunakan. Di standar itu konteksnya lengkap di sana, ada pemerintah, perindustrian, BPOM, masyarakat/konsumen, produsen, dan akademisi," tukasnya.  

Dengan demikian, kata Putu, beritanya jangan dibalik-balik dengan mengatakan kandungan BPA dalam kemasan pangan, termasuk galon guna ulang, sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. "Karena itu sangat terkait dengan konfidensi pada penggunaannya atau masyarakat luas. Kalau bisa, mekanisme seperti tadi, masuk ke standar yang sudah diatur, sehingga kita tidak akan menimbulkan suatu kehebohan di masyarakat," ucapnya.
 
Dia tegas meminta agar pihak-pihak tertentu yang mengembuskan isu tidak benar terkait BPA untuk tidak merusak pemulihan industri di tengah pasar yang belum bagus. "Konsentrasi kita sekarang melakukan pemulihan industri karena pasar di dalam negeri masih belum bagus," ucapnya.
 
Dia mengutarakan eskpor makanan dan minuman (mamin) sepanjang Januari hingga Agustus 2021 sebesar US$ 111 miliar. Itu jauh lebih besar daripada total ekspor kita pada tahun 2019. Menurutnya, ekspor di industri mamin itu kontribusinya sebanyak 78% dari keseluruhan ekspor. "Karenanya kami berharap jangan sampai ada hoaks. Dilihat dulu konteks pembicaraannya. Kami terutama yang dari pemerintah sebagai regulator harus benar-benar hati-hati," katanya.
 
Kemenperin, kata Putu, tidak mau masyarakat terkena dampak akibat isu hoaks mengenai kandungan BPA dari galon  ulang. "Kami yakin pengaturan yang ada sekarang di Indonesia, karena banyak negara yang melakukan kebijakan yang sama seperti Tiongkok, Korea, sehingga kami yakin kalau galon guna ulang itu aman untuk kita juga," katanya.
 
Edy Sutopo menambahkan bahwa industri kemasan galon guna ulang sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional. "Saya kira kita perlu menjaga industri ini. Jangan sampai ada isu-isu yang bisa memengaruhi kinerja industri makanan dan minuman kita yang selanjutnya bisa berpengaruh pada pertumbuhan perekonomian nasional," ujarnya.
 
Ahmad Zainal juga menyayangkan narasi yang salah dalam memahami kandungan BPA dalam galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC) yang diembuskan pihak-pihak tertentu akhir-akhir ini. Sebagai pakar polimer, dia melihat PC merupakan bahan plastik yang aman. Antara BPA dan PC itu dua hal yang berbeda. Banyak orang salah mengartikan antara bahan kemasan plastik Polikarbonat dan BPA sebagai prekursor pembuatnya.

Menurutnya, beberapa pihak sering hanya melihat dari sisi BPA-nya yang disebutkan berbahaya bagi kesehatan tanpa memahami bahan bentukannya yaitu polikarbonatnya yang aman jika digunakan untuk kemasan pangan. BPA memang ada dalam proses untuk pembuatan plastik PC. Dia mengibaratkannya seperti garam NaCl (natrium chlorida). Masyarakat bukan mau menggunakan klor yang menjadi bahan pembentuk garam itu, tetapi yang digunakan yakni NaCL yang tidak berbahaya jika dikonsumsi. "Jadi dalam memahami ini, masyarakat harus pandai mengerti agar tidak dibelokkan oleh informasi yang bisa menyesatkan dan merugikan," ujarnya.
 
Dia juga berharap berita-berita yang terkait BPA galon guna ulang harus dijelaskan secara ilmiah dan jangan dikontroversikan menurut ilustrasi masing-masing yang yang bisa menyesatkan. "Jadi, harus dengan data ilmiah sehingga masyarakat kita akan memahami dan bisa mengambil keputusan sendiri," ucapnya.
 
Hal senada disampaikan Aziz Boing Sitanggang. Boing mengatakan yang harus dipahami masyarakat bahwa BPA punya tolerable daily intake (TDI), yaitu jumlah maksimum kontaminan yang dapat terkonsumsi setiap hari seumur hidup tanpa menimbulkan risiko bagi kesehatan. Menurutnya, BPA itu kontaminasinya kecil sekali. "Jadi sebaiknya siapapun yang menyebarkan informasi mengenai BPA harus paham sebelum menyebarkannya," tukasnya.  
 
Dr Alamsyah SpOG mengutarakan temuan dosis BPA pada bayi dan janin sangat kecil, bahkan 1.000 kali lebih rendah dari dosis aman yang ditetapkan BPOM. "Jadi safety limitnya sangat jauh sekali. Kami sayangkan jika masyarakat sampai saat ini selalu diperdengarkan isu yang kurang baik soal BPA dalam galon guna ulang ini," katanya.
 
Hal senada disampaikan Dr Farabi SpA. Dia mengatakan sangat mendukung rekomendasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang mendukung hasil penelitian BPOM yang mengatakan migrasi BPA pada galon guna ulang masih dalam batas aman. "Jadi, apabila ada perbedaan pendapat asumsi audiens, saya menyarankan untuk kembali pada rekomendasi IDI, IDAI, BPOM, dan Kemenkes," pungkasnya. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT