21 September 2021, 09:35 WIB

Kesabaran dan Ketelatenan Selamatkan Benda Bersejarah


Dwi Apriani |

DATANG berkunjung ke museum dan melihat koleksi benda bersejarah adalah hal yang mudah. Meski ditengah pandemi, pengunjung cukup datang dengan menerapkan protokol kesehatan dan bisa langsung menikmati semua koleksi yang terpajang di ruang-ruang pameran di museum tersebut.

Mulai koleksi prasejarah, koleksi peradaban, koleksi sejarah kemerdekaan dan sebagainya. Namun dibalik koleksi benda yang bernilai sejarah itu, ternyata butuh kesabaran dan cucuran keringat dari banyak pihak untuk  mendapatkan, membuktikan dan memastikan benda yang dipajang bernilai kaya sejarah itu.

Contohnya, Tempayan Kubur yang dipajang di Museum Balaputra Dewa atau Museum Negeri Sumatra Selatan. Tempayan kubur itu merupakan peninggalan dari masa prasejarah di Sumatra Selatan. Juga ada kemudi kapal dari Zaman Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di Sungai Musi.

Begitu juga dengan tiga benda bernilai sejarah yang ditemukan oleh Museum Balaputra Dewa baru-baru ini. Yakni Stempel Beraksara Tionghoa, Bendul Berbentuk Burung dan Tahil Timah. Sebagian benda bersejarah ini merupakan hasil temuan dan hibah dari masyarakat yang sudah diteliti terlebih dahulu.

Kepala Museum Negeri Sumatra Selatan, Chandra Amprayadi mengatakan, sebelum benda bersejarah dipamerkan di museum ada berbagai upaya yang dilakukan.

Diantaranya memastikan koleksi tersebut memiliki nilai bersejarah. Untuk itu, pihak museum selalu bekerjasama dengan berbagai pihak baik, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel ataupun Balai Arkeologi Sumsel.

Mereka selalu terjun ke tengah masyarakat untuk melakukan pendekatan saat mendapat informasi adanya benda sejarah. Kemudian langsung melakukan penelitian atas benda sejarah yang ditemukan, sebelum masuk dan menjadi koleksi di museum.

Itu bukan perkara mudah. Menurut Chandra, ini membutuhkan waktu yang lama, utamanya pendekatan ke masyarakat yang menemukan atau memiliki koleksi benda bersejarah. "Di museum Balaputra Dewa ini ada sekitar 2.000 koleksi, dan ada 500 koleksi diantaranya merupakan hibah dari masyarakat yang ada di
kabupaten dan kota di Sumsel," kata dia, Senin (20/9/2021).

Ia menuturkan, saat mendapat informasi ada koleksi bersejarah yang dimiliki dan didapati masyarakat, pihaknya langsung terjun melakukan pendekatan kepada ahli waris atau masyarakat itu sendiri. Seperti, pedati dari peninggalan Pangeran di OKU. Pedati ini merupakan benda bersejarah yang ternyata dimiliki oleh salah satu ahli waris dan tidak terawat dirumahnya.

"Di akhir 2020, kami bersama Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumsel, kami melakukan pendekatan kepada ahli waris untuk pedati itu dihibahkan ke museum. Setelah kompromi dengan ahli waris, akhirnya pedati ini diperbaiki dan sekarang dipajang di museum. Kami tempatkan pedati ini di depan pintu masuk museum agar dapat dilihat dan dinikmati pengunjung," ucapnya.

Tidak hanya itu, pihaknya juga banyak menerima hibah dari masyarakat. Karena itu, saat ini Museum Balaputra Dewa menyiapkan ruang pameran hibah yang berada di lobi utama museum. Di ruang pameran itu, sudah banyak koleksi benda sejarah seperti keris, pedang, gergaji lama, huci, mata uang hingga kain.

"Yang paling menarik ada hibah kain dari RA Masturah AK Gani. Kain ini adalah pemberian dari Sud. Dulu kain ini dibuat Ibu Sud ada tiga buah, satu diberikan kepada Ibu Fatmawati, Ibu Hatta dan Masturah AK Gani. Namun kain milik Ibu Masturah AK Gani dihibahkan ke museum. Kain ini dibuat pada tahun 1945," jelasnya.

Untuk benda hibah, pihaknya tidak harus melobi ahli waris, karena memang ini merupakan keinginan dari pihak yang bersangkutan untuk dipamerkan di museum agar dapat diketahui oleh banyak orang. Namun untuk benda sejarah yang belum diketahui kategori asal muasalnya, pihak museum berkoordinasi dengan Balai Arkeologi Sumsel terlebih dahulu. Apalagi untuk temuan prasejarah dan temuan sejarah kerajaan.

"Setiap koleksi yang dipamerkan tentu memiliki deskripsi. Karena itu, kerjasama kita dengan Balai Arkeologi Sumsel untuk mengetahui asal muasal dari benda bersejarah yang kita pamerkan memberikan data yang sebenarnya," ucapnya.

Benda Sejarah tak Selalu di Museum

Namun diakui Chandra, tidak semua benda bersejarah bisa dimiliki museum. Apalagi jika benda itu dimiliki atau ditemukan oleh masyarakat. Sebab, ada masyarakat yang enggan jika koleksi bersejarah diberikan ke museum dengan beragam alasan.

"Ada sebagian masyarakat yang memiliki benda bersejarah namun untuk dikoleksi pribadi, namun ada juga yang dijual ke kolektor benda tua atau benda berharga. Apalagi jika benda itu ditemukan di Sungai Musi. Sebab masih banyak masyarakat kita yang memang mencari benda bersejarah di Sungai Musi untuk menjadi penghasilan. Untuk itulah, kami selalu turun dan mengimbau serta melakukan pendekatan ke masyarakat yang memiliki benda koleksi sejarah itu," kata Chandra.

Bahkan ada beberapa kasus, pihak museum membeli benda sejarah yang ditemukan masyarakat. Namun tentunya itu dibeli dengan harga yang terjangkau, atau sekadar upah atau biaya perawatan selama di tangan pemilik.

"Tapi sebelumnya kita memastikan lebih dulu bahwa itu adalah koleksi bersejarah," ucapnya. Hanya saja, kata Chandra, saat ini sudah banyak masyarakat Sumsel yang sadar dan memahami ingin mengabadikan benda bersejarah milik keluarga mereka ke museum.

Karena jika di museum, maka koleksi itu akan dirawat dan dapat menjadi edukasi dan informasi bagi masyarakat yang mengunjungi museum. "Kita sangat berterimakasih kepada masyarakat yang rela dan ikhlas menempatkan koleksi bersejarah miliknya untuk museum ini," terang Chandra.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumatra Selatan, Aufa Syahrizal mengatakan, upaya penyelamatan benda bernilai sejarah adalah tugas dari semua pihak. Termasuk Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan, benda bersejarah harus diabadikan dan diamankan agar tetap bisa dilihat dan
dinikmati oleh masyarakat Sumsel, diantaranya menjadi koleksi di museum.

"Karena itu, kami selalu aktif melakukan pendekatan kepada masyarakat yang memiliki dan menemukan benda bernilai sejarah. Bersama museum, kami selalu berupaya untuk tetap bisa mendapatkan benda bernilai sejarah ataupun prasejarah agar tidak disalahgunakan," ucapnya.

Aufa menjelaskan, sebenarnya saat ini masyarakat sudah memahami dan mengerti pentingnya museum. Seperti pada temuan benda bersejarah di Sungai Musi, sebagian masyarakat ada yang menghibahkan temuannya untuk disimpan di museum sehingga nilai sejarahnya tidak hilang.

"Kami juga sering keliling kabupaten dan kota, karena di daerah-daerah juga banyak benda yang miliki sejarah. Namun, banyak warga yang tidak tahu bahwa itu benda punya nilai. Seperti pedati milik Pangeran Wa Cik Kedaton di OKU. Pedati itu ditempatkan di bawah rumah, sehingga rusak dan lapuk. Kami pun meminta kepada keluarga untuk menghibahkan pedati itu ke museum untuk diabadikan dan diperbaiki," ucapnya.

Namun juga ada masyarakat yang merelakan benda bersejarah miliknya untuk disumbangkan ke museum. Karena itulah di museum Balaputra Dewa ada ruang pameran khusus hibah. "Kita berikan deskripsi pada masing-masing koleksi terkait data pemberi hibah, jadi mereka (yang memberikan hibah) akan bangga
namanya ada di museum," kata dia.

Aufa menjelaskan, Pemprov Sumsel terus menggencarkan upaya perburuan benda bersejarah yang ada di tangan masyarakat. "Tapi memang ada sebagian koleksi yang kita ganti biaya perawatan, artinya ada maharnya. Tapi seadanya, karena kita tidak punya banyak anggaran untuk itu. Namun tidak serta merta semua benda sejarah dari masyarakat kita terima dan masuk museum, tentu ada
prosesnya. Disinilah kita kerjasama memanggil Balai Arkeologi Sumsel untuk meneliti benda sejarah itu," jelasnya.

Nilai Sejarah

Kepala Balai Arkeologi Sumsel, Budi Wiyana, pihaknya membantu Pemprov Sumsel dan Museum Balaputra Dewa untuk meneliti dan mendeskripsikan temuan atau benda yang diduga memiliki nilai sejarah. Namun juga ada temuan benda bersejarah yang didapat Balai Arkeologi Sumsel, seperti Tempayan Kubur sebelum tahun 2.000 di Desa Muara Betung, Empat Lawang, Sumsel.

Setelah diteliti, Tempayan Kubur itu merupakan benda yang dipakai oleh masyarakat prasejarah. "Usai penelitian, Tempayan Kubur itu kita serahkan ke Museum Balaputra Dewa untuk dijadikan pameran koleksi," ucapnya.

Dan sekitar dua pekan lalu, pihaknya diminta untuk meneliti tiga temuan logam diduga benda bersejarah. Yakni stempel beraksara Tionghoa berbahan logam dengan ukuran 1.500 gram, pihaknya menilai ini merupakan satuan timbangan atau pemberat kertas.

Lalu ada bandul berbentuk burung berbahan logam dengan ukuran 525 gram berkomposisi timah. "Objek yang kita teliti sekitar 7 hari ini kemungkinan adalah objek tukar yang secara konsisten digunakan oleh kerajaan perak dan selangor pada abad 17," ucapnya.

Juga ada tahil timah berbahan logam dengan ukuran 575 gram yang diduga kuat adalah Ingot timah, karena menyerupai dengan Ingot yang ada di National History Museum of Kuala Lumpur.

"Dalam mengungkap apakah benda itu bernilai sejarah atau sebaliknya, kami melakukan penelitian dengan cara diskusi dengan ahli arkeologi yang ada di Indonesia. Dan kami mencari data agar mendapat history dari benda yang diduga bersejarah itu. Biasanya penelitian seperti ini dilakukan 2-14 hari," ucapnya.

Setelah diteliti, barulah hasilnya diserahkan ke museum atau dinas setempat. Untuk museum, digunakan sebagai bahan tulis di deskripsi atau narasi untuk koleksi yang dipamerkan di museum. Budi menjelaskan, pihaknya selalu membantu museum untuk membantu mendeskripsikan dan menginterpretasikan benda yang diduga bersejarah itu.

"Kesulitan kita dalam melakukan penelitian biasanya adalah konteks dari benda yang diduga sejarah itu atau asal usulnya. Benda itu tidak akan lepas dari dimana tempat ditemukan atau ditemukan di dekat apa. Dan kita biasanya kesulitan jika pemilik benda sebelumnya tidak memberikan penjelasan mengenai benda yang diduga bersejarah yang diserahkan ke museum," pungkasnya. (OL-13)

 

 

BERITA TERKAIT