20 September 2021, 13:35 WIB

Mengukur Naiknya Permukaan Air Laut DKI Jakarta


M. Iqbal Al Machmudi |

Prediksi tenggelamnya DKI Jakarta tentunya menjadi hal yang mengerikan. Namun bagaimana narasi itu tercipta dan bagaimana mengukur permukaan air laut yang terus naik sebagai salah satu faktor penyebab tenggelamnya Ibu Kota.

Pakar Paleoclimate di Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sri Yudawati Cahyarini menjelaskan pengetahuan perubahan muka laut tentu perlu memperhatikan ruang dan waktu seperti masa lampau, masa kini, dan masa depan (prediksi).

Selain itu, untuk menghitung naiknya permukaan air laut diperlukan juga pemahaman perubahan muka laut dalam skala ruang lokal, regional atau global yang tentunya akan berbeda-beda faktor penyebab maupun mekanisme perubahan muka laut tersebut.

Baca juga: Motivasi Anak Terdampak Covid-19, Mensos: Kalian Tidak Boleh Putus Asa

Penyebab naiknya permukaan air laut dalam skala global seperti mencairnya es di Kutub Selatan dan mencairnya es di darat yakni Gunung Himalaya yang juga berpengaruh pada naiknya permukaan laut.

Selain itu faktor regional dengan memanfaatkan air dalam tanah secara terus menerus, terjadi land subsidence atau penurunan muka tanah. DKI Jakarta mengalami penurunan muka tanah 0,25 cm/ tahun. Kawasan Tanjung Priok menjadi paling terdampak dari penurunan ini.

"Perubahan muka laut bisa disebabkan oleh pengaruh pemanasan global, aktivitas tektonik dalam skala waktu geologi," kata Sri saat dihubungi, Senin (20/9).

Sedangkan untuk skala waktu lebih detil bisa dikarenakan oleh pengaruh pasang surut yang juga bisa mengubah permukaan laut lokal suatu wilayah, land subsidence karena adanya ekspoitasi air tanah juga dapat mengubah permukaan laut.

Sri menjelaskan untuk mengetahui atau mengukur perubahan muka laut bisa dengan melakukan monitoring pengukuran pasang surut, dengan menggunakan data satelit alimetri, dan berdasarkan data model.

"Untuk mengukur perubahan muka laut masa lampau bisa dengan analisis karang microatol, analisis sedimen mangrove dan sedimen laut dalam, pendekatan geomorfologi, analisis mikropaleontologi, dan dengan pendekatan geokimia," jelasnya. (H-3)

BERITA TERKAIT