19 September 2021, 13:26 WIB

Kemenkes Siap Terapkan Teknologi Wolbachia Atasi DBD Skala Nasional


Atalya Puspa | Humaniora

KEMENTERIAN Kesehatan tengah berproses untuk memasukkan teknologi wolbachia untuk penanganan demam berdarah dengue (DBD) skala nasional. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Didik Budijato mengungkapkan, saat ini sendiri Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenkes turut andil dalam penelitian yang dilakukkan Universitas Gadjah Mada dalam melakukan penerapan teknologi wolbachia di masyrakat.

"Litbang Kemenkes sekarang sedang menunggu hasil penelitian tahap empat wolbachia dan sedang mengkaji pemodelan implementasi di masyarakat," kata Didik kepada Media Indonesia, Minggu (19/9).

Didik mengungkapkan, selain di Yogyakarta, penelitian juga akan dilakukan di Bali, Makassar, dan wilayah-wilayah lain yang ingin terlibat dalam penelitian tersebut.

"Nanti kita buat penawaran, dan masing-masing daerah yang berkeinginan bisa berpartisipasi. Sekarang yang sudah mau ada Denpasar dan Makassar. Kita sambil evaluasi dan monitor," beber dia.

Lebih lanjut, Didik mengungkapkan, teknologi wolbachia memang tidak bisa secara instan diterapkan di masyarakat. Pasalnya, teknologi tersebut masih berbenturan dengan sejumlah peraturan pemerintah. Diantaranya yakni Peraturan Pemerintah nomor 66 tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan dan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 50 tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan untuk Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit Serta Pengendaliannya.

Baca juga : Menkes: Penyuntikan Vaksin Booster pada Masyarakat Umum Tidak Etis

"Dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa dalam satu tempat harus bersih dari vektor penyebab penyakit. Sementara pada wolbachia kan dia malah menambah populasi. Ini jadinya tidak beriringan dengan peraturan yang mengharuskan kita mengendalikan populasi," jelas Didik.

Untuk itu, ia mengungkapkan Kemenkes kini sedang mencari jalan tengah agar bisa menerapkan teknologi wolbachia untuk mengendalikan DBD di tengah masyrakat.

"Saat ini sedang berlangsung proses di regulatory sandbox. Saya insiasi itu biar penelitian dan aturan bisa berjalan beriringan," tandas dia.

Seperti diketahui, penelitian teknologi wolbachia diinisasi oleh UGM sejak 2011 lalu. Peneliti Pendamping WMP Yogyakarta dan Direktur Pusat Kedokteran Tropis FKKMK UGM Riris Andono Ahmad menyampaik pada fase awal penelitian dilakukan untuk memastikan keamanan Wolbachia, dilanjutkan dengan pelepasan di area terbatas.

Selanjutnya, Riris menjelaskan bahwa di tahun 2017, uji efikasi Wolbachia dengan metode Randomised Controlled Trial dilakukan di Kota Yogyakarta dengan membagi wilayah Yogyakarta menjadi 24 klaster, dengan 12 klaster mendapatkan intervensi Wolbachia, dan 12 klaster lainnya menjadi area pembanding.

“Hasil uji efikasi Wolbachia ini menunjukkan hasil yang menggembirakan, yaitu Wolbachia efektif menurunkan 77% kasus dengue, dan menurunkan 86% kasus dengue yang dirawat di rumah sakit,” papar Riris.

Riris menjelaskan, pada tahun 2021, WMP Yogyakarta bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mulai melakukan implementasi teknologi Wolbachia. Selanjutnya di tahun 2022 akan menerapkan teknologi ini di Kabupaten Bantul. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT