18 September 2021, 13:35 WIB

Selisik Batik Autentik


Ajeng Ayu W | Humaniora

BATIK merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang berasal dari Indonesia dan diakui oleh dunia dan juga UNESCO. Penetapan batik sebagai salah satu warisan budaya oleh UNESCO diberikan pada 2 Oktober 2009.

Nah, dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional, Kementerian bersama Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta mengadakan seminar Ngoppi (Ngobrol Pagi Penuh Inspirasi) dengan tema Selisik Batik Autentik, Kamis (16/9).

“Bukan hanya bangga dengan pengakuan tapi juga harus membantu menjaga dan melestarikan, mendukung perproduksian agar dapat berdaya saing," kata salah satu narasumber Ngoppi Farida, Kamis (16/9).

Industri batik mengalami perkembangan setelah diakui. Peminat Batik paling banyak berasal dari Jepang dan Amerika. Produksi batik pun mengalami peningkatan usai permintaan bertambah. Batik yang biasanya dibuat dengan teknik tulis canting, cap maupun kombinasi yang menggunakan malam dan canting, kini banyak diproduksi dengan teknik printing dan sablon. Teknik tersebut memang mempercepatn waktu produksi, akan tetapi kualitas dan keaslian dari batik itu menjadi turun.

Batik yang dibuat dengan malam akan menghasilkan warna yang lebih tahan lama dibandingkan batik dengan teknik printing, belum lagi dalam teknik printing hanya bagian depan kain saja yang dicetak sehingga akan lebih mudah pudar. Hal ini menjadi perhatian bagi pengrajin batik karena seharusnya batik bisa diproduksi sesuai dengan Standar Nasional Indonesia.

Baca juga: Kemenperin: Industri Batik Dapat Prioritas Pengembangan Pemerintah

Diharapkan batik tetap terus menjadi warisan Indonesia yang berkualitas karena setiap 5 tahunnya akan ada evaluasi oleh UNESCO mengenai kualitas setiap warisan budaya, apabila mengalami penurunan kualitas dan juga peminatan maka akan dihapuskan. Karena itu, masyarakat diminta untuk lebih sadar dalam menjaga batik tradisional, yang perlu dilakukan di antaranya adalah menggunakan batik asli yang dibuat dengan menggunakan tangan oleh pengrajin batik, untuk menghargai hasil karya kerrajinan tangan. Selain itu juga turut serta membantu meningkatkan kualitas batik dengan menggunakan batik tradisional atau asli.

Seminar Ngoppi juga diisi oleh Ketua Umum Asosiasi Pengrajin dan Pengusaha Batik Indonesia Komarudin Kudiya, menyampaikan hal-hal yang berkaitan mengenai sertifikasi dan keaslian dari produksi batik harus ditingkatkan, mengingat produsen perlu memenuhi ekspektasi konsumen terhadap suatu produk.(OL-5)

BERITA TERKAIT