15 September 2021, 12:49 WIB

Masih Membekas di Bumi NTT, Cendana Harapan untuk Kembalikan Kejayaan Bangsa


Faustinus Nua | Humaniora

Sebuah mobil pick up hitam kusam berpacu dengan cepat ketika sinar mentari pagi baru saja menyentuh dinding rumah bata di salah satu sudut kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Roda kendaraan itu meninggalkan jejak yang membekas di antara rerumputan kering pekarangan rumah. Di dalamnya, seorang pria paruh baya melambaikan tangan kepada ketiga anaknya sebelum mobil itu benar-benar menjauh dari pandangan. 

Devin, 47, dengan penuh semangat mengendarai mobil tuanya menuju beberapa lokasi kabupaten tetangga, Timor Tengah Selatan (TTS). Dia harus bergegas lantaran sekumpulan batang kayu cendana sudah disiapkan dan harus segera diangkut. 

"Beta tiap hari ke daerah, karena cari kayu ini sonde bisa satu tempat. Dia harus beberapa tempat katong kunjung," ujar pria kelahiran So'e, TTS yang berprofesi sebagai pengepul kayu cendana.

Baca juga: DPR: Telusuri Ribuan Masyarakat Terpapar Covid-19 yang Terdeteksi Di Ruang Publik

Dia mengungkapkan bahwa kayu yang terkenal dengan keharumannya itu memang tidak mudah diperoleh. Dia harus mencari langsung ke warga-warga di hampir semua daratan Pulau Timor sebelum benar-benar mengumpulkannya dalam jumlah yang cukup. 

Aktivitas yang ditekuninya sejak 5 tahun silam tersebut tidak mudah. Hasilnya tidak didapat setiap hari, mengingat tidak banyak warga atau petani yang memiliki atau menanam kayu cendana.

Menurut Devin, saat ini kayu cendana yang diangkutnya merupakan kayu dari pohon yang sudah ditanam oleh generasi sebelumnya. Padahal, tanaman dengan nama latin Santalum album itu merupakan tumbuhan endemik atau asli dari provinsi NTT yang disebut sebagai Nusa Cendana. 

"Banyak yang pesan, beta sonde bisa langsung terima (orderan), karena beta sonde ada cendana. Beta cari dolo, memang susah tapi pasti ada," tuturnya. Walau kesulitan mencari, ia optimistis bahwa cendana tidak akan pernah punah dari tanah Timor.

Diakuinya, bahwa jumlah pembeli lebih banyak dibandingkan pemilik pohon itu. Artinya demand lebih tinggi dari pada supply. Tak heran, lantas harga cendana asli NTT pun sangat mahal. Harga kayu cendana asli NTT dipatok dengan kisaran Rp450.000 - Rp600.000.  Harga itu masih disesuaikan dengan usia kayu, bila semakin tua harganya pun semakin mahal. Sementara, di pulau itu sudah jarang ditemukan cendana dengan usia di atas 30 tahun.

Baca juga: POP Akan Segera Bergulir, PTIC Ingatkan Tantangan Ormas Penerima Dana

Meski yakin kayu asli bumi NTT itu tidak akan punah dan aromanya akan terus mewangi, Devin berharap adanya perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Kayu itu banyak dicari karena manfaatnya yang luar biasa, mulai dari minyaknya untuk dijadikan parfum, bahan kerajinan, dan tergolong sebagai rempah bernilai tinggi. "Yang tua katong ambil tapi katong juga tanam lagi. Katong jaga sama-sama cendana untuk anak cucu," harap Devin.

Cendana NTT bukanlah tanaman biasa. Dalam sejarahnya, cendana tergolong komoditas unggulan yang juga disebut emas hijau. Layaknya pala dan cengkih, kayu cendana juga menjadi tujuan bangsa-bangsa asing datang ke Tanah Air pada abad ke-14. Sehingga, Pulau Timor yang merupakan bagian dari gugusan kepulauan Sunda Kecil turut membetuk simpul-simpul jalur rempah atau titik persinggahan perdagangan di Nusantara.

Seperti dikutip dari laman Jalur Rempah Kemendikbudristek, cendana merupakan komoditas tersohor bahkan sebelum kedatangan bangsa asing. Para pedagang Jawa dan Melayu sudah memasarkannya sampai ke India untuk digunakan sebagai salep dan parfum. Pedagang Tiongkok pun secara periodik pergi ke Pulau Timor untuk mengambil barang berharga itu.

Demikian juga bangsa Arab dan Eropa yang datang kemudian, turut mencari kayu cendana untuk bahan obat-obatan dan juga diperlukan dalam upacara kremasi. Penjelajah Portugis Tome Pires bahkan menulis dalam catatannya, "Tuhan membuat Timor untuk cendana, Banda untuk buah pala, dan Maluku untuk cengkih." Demikian catatannya yang menggambarkan kelakar yang kerap diucapkan para pedagang Malaka.

Interaksi yang berlangsung lama baik sesama pedagang lokal maupun asing tidak hanya mengantarkan nama cendana mendunia, namun memberikan lebih bagi ilmu pengetahuan. Aroma cendana telah mendatangkan kesejahteraan, mempengaruhi peradaban hingga secara tidak langsung terjadi transfer ilmu pengetahuan.

Berabad-abad lamanya harum cendana mendunia dan mencapai puncak kejayaannya. Aroma dari Pulau Timor itu terasa hingga ke berbagai belahan dunia, menjangkau sampai ke negeri Arab dan Eropa yang begitu jauh. 

Namun, kini sisa-sisa harumnya sulit ditemukan di bumi NTT. Bahkan untuk mendapatkan sebatang cendana, harus singgah di hampir semua pelosok provinsi itu.

Baca jugaBAKTI Bangun Potensi Wisata dan Alam di Kepulauan Maluku

Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkunhan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Agus Justianto mengatakan cendana atau yang disebut juga east Indian sandalwood sejak lama terkenal sebagai komoditas yang mahal. Cendana juga dikenal sebagai The King of Plant Parfume yang tumbuh alami di kepulauan NTT, terutama di Pulau Timor. 

"Minyak cendana merupakan bahan utama pembuatan parfum, kosmetik dan obat-obatan. Bahkan sekarang banyak digunakan untuk aroma terapi. Kayu banyak digunakan untuk ukiran kerajinan lainnya," jelasnya dalam webinar Biotifor beberapa waktu lalu.

Sejarah mencatat bahwa cendana telah memainkan peranan penting sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) NTT dalam kurun waktu yang panjang dari tahun 1986/1987 sampai 1991/1992. Cendana berkontribusi sekitar Rp2,5 miliar per tahun atau 40% dari total PAD. Pada periode 1991/1992 sampai 1997/1998 kontribusi mulai berkurang atara 12%-30%.

"Sayangnya populasi cendana saat ini sangat memprihatinkan karena sangat menurun. Berbagai masalah seperti kebakaran, keterbatasan tanaman serta maslah sosial ekonomi menjadi penyebabnya. Di sisi lain kebutuhan cendana terus meningkat," kata Agus Justianto.

Indonesia pernah mengekspor cendana, terutama dari Pulau Timor NTT. Sejak 1992 menurun 30% dan sejak 1997 sudah tidak ada ekspor lagi. Oleh karena itu, kata Agus, diperlukan upaya pengembalian tanaman cendana sebagaimana dahulu Pulau Timor pernah dijuluki tikar permadani. Upaya untuk mengembalikan kejayaan cendana di Indonesia, khususnya di NTT perlu dilakukan bersama dan sinergi dari berbagai pihak.

Baca juga: Bermalam di Rumah Calon Guru Penggerak, Nadiem Ingin Belajar Banyak Hal

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH) KLHK Nur Sumedi mengatakan bahwa sudah dilakukan kajian konservasi cendana NTT. Hasil penelitian pihaknya menghadirkan beberapa clone yang dianggap unggulan untuk dikembangkan. "Hasil penelitian bisa diimplementasi, diaplikasikan kembali di daerah asalnya, di NTT," ujarnya.

Sementara itu, Peneliti BBPPBPTH Liliek Haryjanto mengungkapkan bahwa cendana tergolong komoditas mahal sehingga makin marak pencurian baik di NTT sendiri maupun di tempat-tempat lain seperti di Gunung Kidul, Yogyakarta.  Berdasarkan kategori International Union for Conservation of Nature (IUCN), cendana juga termasuk salah satu tanaman rawan atau vulnerable (IUCN 2016).

Secara teknis, masalah kelangkaan bibit dan penanaman cendana sendiri juga menjadi kendala dalam membudidayakannya. Cendana merupakan tanaman semi parasit yang memerlukan inang untuk bisa terus tumbuh. Sementara, sebagai tanaman berusia panjang dan rawan tentu membutuhkan investasi yang tidak sedikit. 

"Aspek nonteknis khususnya di NTT bahwa keberadaan cendana masa lalu itu tidak berpihak pada pemilik cendana dalam menikmati hasil cendana. Masyarakat yang memiliki cendana hanya mendapatkan 15%, sementara 85% adalah milik pemda setempat," jelas Liliek terkait kebijakan masa lalu yang tidak berpihak pada petani.

"Meski sudah direvisi berulang kali, cendana masih menyisahkan trauma mendalam para pemiliknya. Gairah masyarakat untuk menanam kembali cendana sampai saat ini masih susah untuk dikembangkan," ungkap peneliti yang mengembangkan konservasi genetik cendana NTT.

Baca juga:Generasi Muda Harus Melek Literasi Digital untuk Cegah Intoleransi dan Radikalisme 

Kepala Bidang Pembinaan Dinas LHK Provinsi NTT, Rudi Lismono membenarkan sejarah suram pengelolaan cendana di NTT. Kebijakan itu sangat keliru dan berdampak langsung pada keberadaan cendana saat ini. Padahal, jenis cendana asli NTT merupakan cendana dengan kadar minyak yang tinggi dibandingkan jenis lain yang banyak ditemukan di Australia, India dan kepulauan Pasifik lainnya. Tidak heran Cendana NTT banyak dicari dengan harga yang sangat tinggi.

Hal itu merupakan potensi bumi Nusa Cendana yang harus dikembalikan untuk kesejahteraan masyarakat. Apalagi, NTT saat ini merupakan salah satu provinsi termiskin di Indonesia. "Kenapa harus dikembalikan, karena historisnya tanaman ini memang asli di sini dan memiliki keunggulannya, kadar minyak dan produksi kayu terasnya. Cendana ini mempunyai nilai ekonomi tinggi, perlu dikembangkan sebagai sumber pendapatan masyarakat," terang Rudi.

Kebijakan pemerintah daerah saat ini memang mulai mengarah pada penanaman kembali cendana. Pada November 2019, Pemerintah Provinsi NTT telah meluncurkan program Kampung Cendana sebagai gerakan penanaman kembali pohon cendana. Sekitar 500 anakan cendana dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam dan dilestarikan. Upaya pengembalian kejayaan cendana pun selaras dengan promosi Jalur Rempah yang diselenggarakan Kemendikbudristek. Cendana dan Tanah Timor merupakan bagian jejaring perniagaan dan jalur rempah kuno yang turut menyambungkan titik-titik perdagangan, pertukaran budaya, dan ilmu pengetahuan di bumi Nusantara.

Jalur Rempah tidak sekadar sejarah nenek moyang bangsa Indonesia yang hanya habis dikenang dan dibanggakan. Jalur ini harus menjadi kekuatan, membangkitkan semangat dan motivasi bangsa Indonesia yang sudah terlalu lama berdiam dalam kejayaan masa lalunya. Nama rempah Nusantara harus kembali menguasai dunia, termasuk mengembalikan aroma cendana NTT untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia pada umumnya dan masyarakat NTT itu sendiri. 

Upaya itu membutuhkan kerja sama dan dukungan semua elemen bangsa sebagai gerakan bersama dengan kesadaran penuh. Sebab untuk mengembalikan kejayaan bangsa bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga menjadi tanggung jawab segenap tumpah darah Indonesia. Itulah yang harus menjadi karakter bangsa yang tangguh, bangsa penjelajah dan pemilik poros maritim. Jalur Rempah adalah panggilan dalam memuliakan masa lalu untuk kesejahteraan masa depan.(H-3)

BERITA TERKAIT