14 September 2021, 19:37 WIB

Cegah Varian Baru Masuk, Pintu Masuk Negara Harus Lebih Ketat


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

EPIDEMIOLOG dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman menilai efektivitas pembatasan orang yang masuk ke Indonesia nyatanya masih belum efektif karena pintu masuk ke Tanah Air masih banyak melalui berbagai jalan termasuk jalan tikus.

"Kalau ada varian baru sebetulnya nunggu waktunya saja untuk ketemu, karena sulit untuk membatasi orang masuk," kata Dicky saat dihubungi, Selasa (14/9).

Baca juga: Di Tangan Mahasiswa UNS, Kulit Kacang Disulap Jadi Makanan Penambah Imun

Menurutnya terjadinya varian bisa secara independen dari setiap negara, atau orang masuk ke Indonesia, atau bahkan bisa terjadi di Indonesia.

"Karena situasinya tak terkendali dan peluang virus itu semakin ganas pasti ada. Varian baru juga bisa terbentuk di Indonesia," katanya.

Dicky mengatakan sejak awal bahwa pengetatan pintu masuk negara tidak mesti ditutup tetapi cukup diketatkan dalam arti bahwa memastikan potensi masuknya orang dengan membawa virus bukan hanya 3 varian yang dikhawatirkan, tetapi varian delta pun sudah ada turunan yang lebih mengkhawatirkan.

Jadi dalam situasi yang masih gejolak ini bukan hanya concern dengan varian yang baru tetapi varian yang ada pun itu bisa menjadi lebih meningkat lagi seperti varian delta.

"Oleh sebabnya penting sekali ada aturan kartu vaksinasi, keterangan PCR, dan karantina dari luar negeri. Selain itu, orang yang masuk ke Indonesia harus divaksin secara penuh. Atau vaksin pertama dan dilanjutkan vaksin kedua di Indonesia," jelasnya.

Sebelumnya, pemerintah memperketat seluruh pintu masuk negara. Pengetatan untuk mencegah masuknya tiga varian baru SARS-CoV-2, yakni varian Lambda (C.37), varian Mu (B.1.621), dan varian C.1.2. (Iam)

BERITA TERKAIT