14 September 2021, 13:19 WIB

62% Kematian Ibu dan Bayi Terjadi di Rumah Sakit


Atalya Puspa | Humaniora

INDONESIA masih memiliki angka kematian ibu dan bayi yang tinggi. Melihat hal tersebut, untuk memperingati Worl Patient Safety Day yang jatuh setiap 17 September, Kemenkes mengangkat tema Selamatkan Bayi dan Ibu yang Baru Lahir. 

Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Abdul Kadir mengungkapkan, 62% kematian ibu dan bayi terjadi di rumah sakit.

Baca juga: BMKG: Waspada Gelombang Tinggi Hingga 4 Meter

"Ini kenapa terjadi? Karena mereka terlambat dirujuk, atau mereka disujuk saat sedang kritis sehingga saat di RS dia tidak bisa lagi diselamatkan," kata Kadir dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara virtual, Selasa (14/9). 

Lebih lanjut, Kadir mengungkapkan, 76% kematian ibu terjadi di fase persalinan dan pascapersalinan. Adapun, terdapat tiga penyebab utama yang menyebabkan kematian pada ibu, yakni pendarahan, hipertensi, dan adanya penyakit penyerta. 

Adapun, pada kematian bayi yang baru lahir, disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari berat badan rendah, kelainan bawaan, tetanus, dan lainnya. 

"Kematian ibu dan bayi itu disebabkan dari masa kehamilan. Misalnya ibu mengalami anemia, kurang gizi, atau tekanan darah tinggi," ucap Kadir. 

Untuk itu, demi menekan angka kematian ibu dan bayi, Kadir mengungkapkan pemerintah telah menyusun sejumlah strategi. Pertama, pihaknya akan melengkapi fasilitas di pelayanan kesehatan primer seperti puskesmas dengan alat USG mulai tahun depan. 

"Dengan demikian deteksi kelainan kehamilan dapat ditemukan sehingga tidak terjadi permasalahan dalam persalinan," ucap dia. 

Selain itu, pelibatan berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah, perhimpunan dokter, dan masyrakat juga harus ditingkatkan. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesiapsiagaan dalam mengurus dan melakukan lahiran. 

"Keluarga penting dan perlu diedukasi untuk tidak mengambil risiko dengan melakukan persalinan di rumah. Kita harus memberian pemahaman pada masyarakat agar cepat mengirimkan pasien ke RS," ucap dia. 

Selain itu, Kadir juga menekankan pentingnya pengembangan sistem inovasi pelayanan kesehatan, dan penguatan pelayanan darah untuk ibu hamil. 

"Jadi untuk semua pasien yang melahirkan dan berisiko terjadi pendarahan, maka harus bisa dijamin kebutuhan darahnya. Di daerah atau di RS minimal ada bank darah dan di setiap kabupaten hars ada unit transfusi darah," beber dia.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Komite Nasional Keselamatan Pasien Bambang Tutuko megungkapkan, pada 2030, target penurunan angka kematian bayi ialah 18 per 1.000 kelahiran hidup. Sementara, untuk kematian ibu ditargetkan 212 per 100 ribu kematian ibu.

Untuk menuju target tersebut, Bambang mengungkapkan dibutuhkan kolaborasi dari semua pihak. "Perlu adanya perubahan budaya dan komitmen dari semua pihak. Dan ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Tidak bisa secepat membalik telapak tangan," pungkas dia. (OL-6)

BERITA TERKAIT