13 September 2021, 19:46 WIB

Kuliah Di Luar Negeri Bukan Hal Sulit


Widhoroso | Humaniora

PENDIDIKAN merupakan investasi paling berharga yang dapat diberikan orang tua untuk anak-anaknya. Optimisme orang tua juga menjadi modal penting dalam membuat perencanaan pendidikan anak sehingga perlu dipersiapkan dari awal sehingga waktu persiapannya pun lebih terarah.

Salah satu hal yang bisa dilakukan para orang tua untuk pendidikan anak adalah menyekolahkan anak-anak mereka di luar negeri selepas lulus SMA. Namun untuk itu, dibutuhkan dana dan persiapan yang matang.

Terkait dengan hal tersebut UniSadhuGuna (USGEducation) bersama dengan Unity Corporation memberikan terobosan dalam mempermudah kuliah di luar negeri. Head USG Kelapa Gading Campus, Ariyani Mawardi dalam talkshow edukasi 'Langkah Mudah Di Luar Negeri' mengatakan mendapat pendidikan di luar negeri akan menjadi nilai tambah diantaranya anak akan menjadi mandiri, berpikiran terbuka, mendapatkan kesempatan mempelajari berbagai bahasa, serta jaringan global untuk karier masa depan mereka.

"Apalagi pengembangan ketrampilan saat ini akan menjadi nilai tambah bagi para siswa karena banyak perusahaan sekarang melakukan outsourcing secara global untuk kebutuhan lokal atau secara lokal untuk kebutuhan global. Otomatis siswa harus memiliki ketrampilan, pengetahuan, dan sikap yang tepat saat memasuki dunia kerja," tambah Ariyani, dalam keterangan yang diterima, Senin (13/9).

Problemnya sekarang, jelas Ariyani, adalah bagaimana melakukan persiapan sejak dini baik dari sisi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampaun inansial . Menurutnya ada empat perencanaan yang harus dilakukan para orang tua dan siswa sebelum memutuskan menimba pendidikan di luar negeri yaitu kesiapan mental, kesiapan akademik, bagaimana menentukan program yang tepat untuk studi, serta kesiapan keuangan.

Pihak USG, ungkap Ariyani, memberikan solusi studi bagi siswa untuk mendapatkan pendidikan di luar negeri yaitu melalui program pendidikan pathway dari USG Education. Dalam program orang tua dan siswa mendapatkan dua pilihan program.

Pertama setelah SMA umum, lanjut mengambil program diploma UIC (mulai dari kelas 12) sehingga masa studi menjadi 3 tahun SMA plus 3 tahun S1 (Diploma UIC ) ditambah 1 tahun S2. Sedangkan pilihan kedua, mengikuti SMA kualifikasi Internasional di UJC dan lanjut ke program diploma UIC sehingga masa studi menjadi 1,5 tahun SMA plus 3 tahun S1 (diploma UIC ) ditambah 1 tahun S2.

"Program ini membuat biaya studi mejadi jauh lebih efisien dan anak pun jauh lebih siap mental pada saat mereka menyelesaikan program S1 dan S2 mereka di luar negeri. Pendekatan yang kami lakukan kesetiap siswapun bersifat atensi personal untuk memahami perkembangan dan kesiapan mereka masing–masing ”, ujar Ariyani.

Sedangkan Ayu Sumilir, Associate Wealth Planner selaku Financial Educator dari Unity Corporation memberikan ilustrasi mengenai suatu kepastian yang diawali dari persiapan serta langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam perencanaan biaya pendidikan anak sampai kuliah. Menurutnya, penundaan pendidikan sejak dini bisa membuat biaya yang harus dikeluarkan menjadi dua kali lipat dalam kurun waktu lima tahun.

"Inflasi biaya pendidikan di Indonesia itu sendiri adalah sekitar 10 15% per tahun, sedangkan di luar negeri justru relatif sangat kecil bahkan bisa dibilang tidak ada kenaikan yang signifikan. Dengan kondisi seperti ini maka biaya pendidikan dapat lebih terukur dan dipersiapkan”, tambah Ayu yang juga aktif sebagai Financial Advisor Prudential. (RO/OL-15)

 

BERITA TERKAIT