13 September 2021, 18:47 WIB

Berita Kebencanaan Menjadi Faktor Penentu Ketangguhan Masyarakat


Siswantini Suryandari | Humaniora

SALAH satu pembelajaran berharga di masa pandemi ini adalah gencarnya aliran informasi di tengah masyarakat. Termasuk informasi bohong atau hoax. Sebaran hoax yang tidak terbendung membingungkan masyarakat dan menjadi faktor penentu ketangguhan masyarakat dalam menghadapi suatu krisis.

"Oleh karena itu, strategi komunikasi risiko kepada masyarakat menjadi sangat penting untuk memastikan berita yang sampai ke masyarakat bersifat akurat, terkini, dan dapat dipercaya," kata Ketua Umum Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), Avianto Amri saat diskusi virtual KN-PRBBK XIV Tahun 2021: Refleksi Kritis Pemberitaan dan Komunikasi Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas digelar Minggu (12/9).

Menurutnya ilmu dan informasi terkait penanggulangan bencana banyak yang berasal dari kalangan akademisi dan pemerintah sehingga peran media, tokoh masyarakat, dan tokoh agama menjadi sangat penting untuk memastikan informasi tersebut dapat mudah dimengerti, mudah dipahami, dan dapat diproses olah masyarakat. Sehingga menjadi tindakan aksi untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan ketangguhan bencana.

Acara kegiatan refleksi ini dibuka oleh Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan (Pusadatin KK) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari. Dalam sambutannya, Abdul Muhari menyampaikan bahwa Pusdatin KK BNPB telah banyak melakukan upaya  peningkatan kapasitas kepada para jurnalis kebencanaan dan membentuk Forum Komunikasi Wartawan. Serta memilih dan memberikan penghargaan kepada insan media yang memberikan sumbangan besar kepada upaya penanggulangan bencana.

"Kompleksitas bencana sangat berat di aspek social dan persepsi risiko public, bagaimana media dapat memberikan informasi yang sesuai dengan kondisi yan sesungguhnya. Pesan-pesan kesiapsiagaan untuk masyarakat harus menjadi informasi. Dan jangan dibelokkan menjadi berita-berita yang mengarahkan kepada informasi hoaks. Penting bagi media untuk dapat memberikan informasiinformasi yang dapat membangun ketangguhan masyarakat," tegas Abdul.

baca juga: Hoaks Bencana

Pada acara itu sejumlah wartawan yakni Ahmad Arif dari Kompas, Rhodial Fallah sebagai contributor Deutsche Welle TV (DW TV), Citra Prastuti sebagai pemimpin redaksi KBRPRIME.ID, Bagus Kurniawan wartawan portaljogja.com grup Pikiran Rakyat.com, wartawan Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) Sinam M. Sutarno, memaparkan bagaimana kebijakan redaksi masing-masing dalam menyuguhkan berita tentang kebencanaan.

Adapun penanggap adalah Sukiman dari Lintas Merapi, Remon Fauzi dari El Shinta dan Siswantini Suryandari dari Media Indonesia. Pada intinya baik pemibcara maupun penanggap sepakat bahwa pemberitaan kebencanaan baik bencana alam dan non alam harus disajikan dengan akurat, meredam kepanikan masyarakat dan menekan hoax. (N-1)

 

BERITA TERKAIT