12 September 2021, 17:05 WIB

Mengenal Underutilized Fruit Trees, Buah 'Langka' Kaya Manfaat


Zubaedah Hanum | Humaniora

UNDERUTILIZED Fruit Trees (UFT) adalah kelompok pohon yang buahnya dapat dikonsumsi dan kaya manfaat, namun tidak dibudidayakan dalam skala besar.  Beberapa contoh UFT ialah buah buni, ceremai, dan nam-nam. 

Buah-buahan ini kaya dengan nutrisi dan vitamin. Beberapa buah rasanya kurang enak atau terlalu asam, namun sebenarnya dapat disulap menjadi kreasi yang unik dan menarik. 

Sayangnya, keberadaan UFT ini masih terabaikan karena pengetahuan masyarakat yang masih rendah. Dalam penelitiannya, dua dosen dan peneliti Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan sejumlah informasi menarik yang berguna untuk pengembangan UFT ke depan.

"UFT kurang digemari anak muda karena terputusnya rantai informasi dari generasi pendahulunya. Selain itu, UFT bukan prioritas utama untuk ditanam sehingga populasinya yang tersisa cukup terancam dan sudah jarang ditemui," kata peneliti SITH ITB, Mochammad Fikry Pratama seperti dilansir dari laman ITB.

Pemanfaatannya yang belum maksimal, imbuh Fikry, membuat aneka buah ini kerap menjadi sampah dan hanya sedikit yang bisa dijual. 

Peneliti SITH lainnya, Angga Dwiartama menyampaikan, ketidakpopuleran UFT dapat mengantarkannya ke gerbang kepunahan. Terbukti, beberapa UFT tersebut kini sudah masuk dalam kelompok buah langka.

"Dengan mengenal dan memanfaatkan UFT, kita juga ikut berkontribusi menjaga ketahanan pangan khususnya buah dan membantu agar generasi selanjutnya dapat menikmati keberadaan buah lokal," kata Angga. 

Bagi ekosistem, tambahnya, budidaya tanaman UFT juga akan menyumbang oksigen, mencegah erosi, dan menjadi habitat bagi berbagai satwa. "Kesadaran menjadi kunci utama yang dapat meningkatkan kapasitas institusi pendidikan, pihak swasta, maupun individu untuk merawat keberadaan buah langka," cetus Angga.

Jaga warisan leluhur
Dari penelitian UTF pada tujuh komunitas masyarakat adat di Jawa Barat selama tiga tahun, kedua peneliti ini pun merekomendasikan sejumlah hal untuk mengangkat kembali pamor buah lokal ini. Upaya promosi dan kampanye pengetahuan akan UFT merupakan salah satunya. 

Pemilihan masyarakat adat sebagai objek riset, diakui Angga, karena mereka memiliki rekam jejak yang lebih baik dengan keanekaragaman hayati yang diwariskan oleh leluhurnya. 

Berdasarkan hasil survei awal, kata Angga, mayoritas orang tidak mengetahui UFT, sebagian hanya sekadar tahu tetapi belum pernah melihatnya bahkan mencicipi rasanya. 

Riset dimulai dengan mengunjungi masyarakat adat dan melakukan penanaman UFT di ITB Kampus Jatinangor di tahun pertamanya. Tahun berikutnya, dilakukan eksplorasi keberadaan UFT di berbagai pasar di Jawa Barat dan survei ke 345 responden dari kawula muda terkait beberapa UFT yang ada di Jawa Barat.

Akhirnya, di tahun ketiga, mereka berkolaborasi dengan Rumah Bantala dan The GoodLife untuk mengenalkan berbagai jenis dan olahan UFT. (H-2)

BERITA TERKAIT