12 September 2021, 13:29 WIB

Rerie : Keteladanan Ratu Kalinyamat Harus Ditiru


Cahya Mulyana | Humaniora

NILAI-nilai kepahlawanan Ratu Kalinyamat (RK) diharapkan mampu membangkitkan jiwa nasionalisme anak bangsa. Itu untuk menjawab tantangan yang kita hadapi saat ini dan masa mendatang.

"Ide menjadikan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional bermula dari sebuah paradigma berpikir historis untuk menghargai, menghormati jasa dan perjuangan Ratu Jepara yang pemikirannya jauh mendahului zamannya," kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat saat menjadi pembicara dalam acara Temu Pakar dengan tema Ratu Kalinyamat: Perempuan Perintis Antikolonialisme 1549 -1579 di Semarang, Jawa Tengah, dalam keterangannya, Minggu (12/9).

Hadir dalam kesemapatan tersebut Rektor Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara Sadullah Assaidi, Ketua Tim Pakar Ratu Kalinyamat Ratno Lukito, Presiden Direktur Institute for Maritime Studies Connie Rahakundini Bakrie, Dosen Sejarah Universitas Diponegoro Alamsyah, Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Propinsi Jawa Tengah Deni Riyadi, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Jepara Pratikno dan lainnya.

Menurut Politisi Partai NasDem yang akrab disapa Rerie ini, banyak pemikiran Ratu Kalinyamat yang masih relevan untuk diterapkan di Indonesia. Antara lain gagasan poros maritim dunia.

Kehadiran Ratu Kalinyamat saat memimpin perjuangan melawan penjajah Portugis, juga menunjukkan nilai-nilai tinggi. Misalnya menyangkut peran perempuan Nusantara memiliki peran yang sama dengan pria.

Pada kesempatan itu, Rerie menyampaikan apresiasi mendalam atas ikhtiar selama 2,5 tahun dengan penuh ketekunan dari para pakar dalam menelusuri sejarah Ratu Kalinyamat hingga menemukan sumber-sumber primer.

Baca juga : Kreativitas Anak Muda Dalam Memadukan Kebudayaan dan Teknologi

Ketika ditetapkannya sebagai pahlawan nasional, Rerie berharap, nilai-nilai nasionalisme Ratu Kalinyamat dapat menginspirasi anak bangsa. "Selesainya kajian sejarah ini bukan akhir dari proses, melainkan merupakan babak baru dalam memperjuangkan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional," urainya.

Ketua Tim Pakar Ratu Kalinyamat Ratno Lukito mengatakan sejumlah sumber primer terkait perlawanan wanita yang disapa Ratu Jepara itu terhadap Portugis sangat kuat atau menggugurkan sosoknya sebatas mitos. Keberadaannya diakui Portugis sebagai lawan yang kuat.

Di bawah pemerintahan Ratu Kalinyamat, strategi pengembangan Jepara lebih diarahkan pada penguasaan sektor perdagangan dan angkatan laut. Kedua bidang ini berkembang baik karena adanya kerja sama dengan beberapa kerajaan maritim seperti Johor, Aceh, Maluku, Banten, dan Cirebon.

"Ratu Kalinyamat dipandang sebagai simbol keteladanan dan sumber inspirasi atas tindakan yang tidak hanya sebatas pada ide tetapi juga aksi nyata dalam melakukan perlawanan terhadap Portugis di Malaka," jelas Ratno.

Dosen sejarah Universitas Diponegoro Alamsyah menilai Ratu Kalinyamat terungkap dari sumber primer seperti catatan perjalanan dan surat-surat Portugis pada abad ke-16 yang menyebutnya sebagai Rainha da Japara (Ratu dari Jepara). Kemudian dari sumber sekunder atau historografi tradisional seperti Babad Tanah Jawi, Babad Serat Kandaning Ringgit Purwa, Sejarah Banten dan Hikayat Hasannudin menyebut secara eksplist nama Ratu Kalinyamat pada periode yang sama dengan sumber primer.

Presiden Direktur Institute for Maritime Studies Connie Rahakundini Bakrie mengungkapkan, negeri ini pernah memiliki tokoh perempuan yang bukan saja pemikiran. Tetapi keberanian dan wawasannya terkait kekuatan militer dan maritim yang melampaui zamannya.

Pada periode 1549-1579, ujar Connie, Ratu Kalinyamat berhasil membawa Jepara ke puncak kejayaannya. Ratu Kalinyamat tampil sebagai pemimpin aliansi kekuatan di kawasan Johor, Aceh hingga Maluku. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT