27 August 2021, 14:33 WIB

BRIN Alokasikan Rp200 Miliar untuk Danai Vaksin Merah-putih


Faustinus Nua | Humaniora

BADAN adan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp200 miliar untuk mendukung pengembangan vaksin Merah-Putih hingga akhir tahun ini. Anggaran tersebut juga dimanfaatkan untuk membangun fasilitas penelitian atau labotorium.

"Untuk sampai dengan akhir tahun saya sediakan Rp200 M. Termasuk untuk membangun fasilitas GMP berbagai platform dan a-BSL-3. Ini lebih dari cukup, karena kita tidak dari nol, sudah ada gedung yang dialihfungsikan untuk a-BSL-3, fasilitas pendukung di komplek BSL di Cibinong, semua SDM terbaik dokter hewan dan para zoologist," ungkap kepala BRIN Laksana Tri Handoko kepada Media Indonesia, Jumat (27/8).

Menurut Handoko, proses pengembangan vaksin memang membutuhkan waktu yang cukup lama dan harus tetap sesuai dengan standar ilmiahnya. Hal itulah yang selalu ditekankannya agar pengembangan vaksin di Tanah Air benar-benar berjalan sesuai standar global.

Diakuinya saat ini kendala pengembangan vaksin disebabkan belum tersedianya faslitas atau laboratorium a-BSL-3. Lantas BRIN fokus membangun fasiltas tersebut sehingga pengembangan vaksin ke depan bisa berjalan baik.

Baca juga: Meski Sinovac Telah Diakui, WNI belum Bisa Masuk Arab Saudi

Lebih lanjut, Handoko menjelaskan bahwa di tahap-tahap awal pengembangan vaksin tidak mengeluarakan anggaran yang besar. "Kalau dari tahapan, untuk sampai ekspresi vektor cukup Rp1-2 M. Yang mahal adalah tahap setelahnya. Tetapi kalau semua infrastruktur dan operator kita sediakan diluar hewan coba (mencit dan macaca), sampai dengan uji praklinis cukup Rp10 M," imbuhnya.

Pada uji klinis fase 1 dan 2 juga belum besar anggarannya, karena jumlah responden hanya sedikit, sekitar 100-200 orang saja. "Yang besar waktu fase 3 karena responden bisa ribuan. Dan ini tergantung lokasi, apalagi kalau sampai ke luar negeri. Karena semakin sulit mencari responden akibat tingkat vaksinasi yang sudah cukup tinggi ke depan. Selain itu metode uji juga berubah, tidak cukup dengan kelompok kontrol yang tidak divaksin, tetapi juga harus ada pembanding dengan yang menerima vaksin lain," jelasnya Handoko.

Dengan adanya integrasi BRIN, maka fasilitas laboratorium yang dibangun bisa dimanfaatkan semua peneliti. Dengan demikian pengembangan vaksin yang membutuhkan fasilitas laboratorium berstandar global bisa dipenuhi.(OL-4)

BERITA TERKAIT