26 August 2021, 21:49 WIB

Bagi Presiden Sukarno, Karya Seni Mampu Membuka Pikiran Lapang


mediaindonesia.com | Humaniora

PADA 1 September 2021 salah satu dosen yang juga menjabat sebagai Kaprodi S-1 Tata Kelola Seni Fakultas Seni Rupa (FRS) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Dr. Mikke Susanto diundang untuk memberi kuliah di Asia Institute, The Faculty Arts, Melbourne University Australia.

Dalam rilisnya yang diterima Kamis (25/8), Kepala Program Studi (Prodi) S-1 Tata Kelola Seni FSR ISI Yogyakarta ini mengatakan, undangan ini diinisiasi Dr. Edwin Jurriens yang menjadi pengajar mata kuliah "Creative Industries in Indonesia".

Ceramah ini secara khusus ditujukan untuk mahasiswa mata kuliah tersebut untuk melihat perkembangan industri kreatif melalui kasus yang terjadi di Indonesia.

Mike Susanto yang juga pengurus perhimpunan penulis Satupena ini mengatakan, dalam kuliah terbatas untuk mahasiswa strata sarjana (undergraduate) dari 2 prodi ini dibahas mengenai hubungan Presiden Soekarno, sejarah sosial, dan industri kreatif.

“Banyak hal yang menarik untuk dikaji meskipun topiknya sangat khusus dan terpusat pada sosok presiden pertama Indonesia,” kata Mikke.

Materi tersebut mulai dari siapa Soekarno, koleksi-koleksinya, efek terhadap seni di masyarakat, hingga pengembangan ide pasca-koleksi. Sampai-sampai kreativitas publik pun jadi perhatian dalam materi yang disajikan oleh Mikke Susanto.

Kuliah  disajikan dalam dwi bahasa ini juga membahas sejauh mana Sukarno sebagai patron seni. Kehadirannya sebagai kolektor patron menjadi contoh hingga melahirkan berbagai catatan menarik. Selain sebagai politikus, pejuang, penulis, dan presiden, Soekarno selalu berfikir estetik.

“Baginya seni bukan semata seni. Seni dan karya seni mampu membuka pikirannya yang lapang. Seni dan karya seni sebagai katarsis sekaligus alat perjuangan. Karenanya, Sukarno tak pernah sekalipun meninggalkan sesuatu yang kreatif hingga akhir hayatnya,” tutur Mikke.

Kerja sama bagi kedua kampus ini dinilai sangat penting untuk para mahasiswa. Kedua kampus yang berada dalam bidang seni humaniora ini perlu saling terus memberikan sumbangan baik bagi riset dan pemecahan masalah di dunia.

“Dunia industri kreatif yang berkembang semakin cepat di sebuah negara adalah kasus yang sangat menarik untuk ditelaah dengan perspektif berbeda misalkan melalui pendekatan berbeda antar negara,” jelas Mikke.

Diharapkan, kuliah ini dapat menjadi contoh kerja sama antar lembaga pendidikan antar negara di masa kini dan masa depan. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT