26 August 2021, 06:40 WIB

Risba Rumah Tahan Gempa, Awet, dan Terjangkau


Ashar Saputra |

SEGERA setelah gempa berkekuatan 7 pada skala Richter (SR) meluluhlantakkan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Agustus 2018, tim penanggulangan bencana Universitas Gadjah Mada (UGM) mengadakan diskusi. Tim mendiskusikan usul teknologi pembangunan rumah untuk kebutuhan rekonstruksi bidang perumahan.

Kekuatan gempa yang menerjang Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa menyebabkan lebih dari 78 ribu rumah rusak berat. Sebagian besar korban jiwa dalam peristiwa itu diakibatkan tertimpa dan terjebak oleh reruntuhan bangunan.

Pembangunan kembali rumah warga yang hancur sesuai dengan keadaan semula memerlukan waktu dan biaya. Namun, desain dan teknologi risba (rumah instan struktur baja) yang peneliti dan tim di Fakultas Teknik UGM kembangkan telah menjadi solusi nyata kebutuhan rumah bagi para korban gempa NTB.

Dalam merespons bencana gempa NTB, UGM bertindak cepat dengan mengirim tim Disaster Response Unit (Deru). Dalam memulihkan kerusakan pascabencana, tim kebencanaan ‘Kampus Biru’ juga mengusulkan pembangunan rumah instan, tapi bisa difungsikan dalam jangka lama.

Terbaru, teknologi risba diaplikasikan tim Deru UGM dalam membangun hunian sementara menuju tetap (huntarap) bagi para korban badai siklon tropis Seroja, yang menerjang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada April lalu.

Risba merupakan hasil pemikiran tim Fakultas Teknik UGM. Tujuan utama inovasi bidang perumahan itu memberikan alternatif bangunan rumah untuk rekonstruksi pascabencana dan menjawab kebutuhan pembangunan rumah yang cepat, tetapi berstruktur awet, aman, dan tahan gempa.

Sebelumnya, Fakultas Teknik UGM sudah banyak melakukan penelitian-penelitian elementer terkait baja, seperti penelitian kolom baja dan sambungan baja. Saya, sebagai person in charge (PIC) proyek rumah tahan gempa, bersama tim tinggal mengaplikasikan hasil riset tersebut. Salah satu wujudnya ialah risba.

Saat ini, sudah lebih dari seribu rumah berteknologi risba dibangun di Lombok. Tim kebencanaan UGM juga tengah membangun rumah sejenis di Palu yang luluh lantak diterjang gempa dan tsunami. Pembangunan risba masih terus berjalan di beberapa lokasi. Kini kami juga melaksanakan training of trainer (ToT) di berbagai daerah. Teknologi risba yang sederhana memberikan peluang yang besar untuk melibatkan masyarakat melalui mekanisme pemberdayaan masyarakat.

 

Penyebab rumah ambruk 

Mengapa banyak sekali rumah yang rusak pada kejadian gempa kuat di Indonesia? Sebagai gambaran, gempa Aceh 2004 menyebabkan 400 ribu lebih rumah rusak, gempa Yogyakarta 2006 (250 ribu lebih rumah), gempa Sumatra Barat 2009 (sedikitnya 55 ribu rumah), gempa NTB 2018 (sedikitnya 78 ribu rumah), dan gempa Sulawesi Tengah 2018 (sekitar 60 ribu lebih rumah).

Secara teknis, kelemahan bangunan terhadap gaya gempa disebabkan dua aspek, yakni bahan bangunan bersifat berat dan getas. Di Indonesia, 90% rumah terbuat dari tembokan bata merah yang cukup berat. Gaya gempa yang harus ditanggung struktur bangunan pun menjadi besar.

Sifat material bangunan yang getas juga mudah patah dan runtuh oleh dorongan gempa. Pasangan bata dan komponen beton bertulang yang tidak memenuhi standar teknik akan bersifat getas.

Secara teknis, bangunan rumah dari kayu dan bambu lebih aman gempa. Namun, penyediaan kayu dengan mengikuti kaidah berkelanjutan belum tersedia secara memadai untuk konstruksi kebutuhan masal. Sementara itu, bangunan bambu secara teknis belum bisa menjadi alternatif untuk bahan bangunan yang awet yang tersedia secara massal.

 

Risba adaptif dan berkelanjutan

Risba setidaknya menjawab tiga tantangan dalam proses rekonstruksi rumah pascabencana, yakni jumlah rumah yang harus dibangun kembali sangat besar, tahan gempa, dan awet untuk bisa mencapai usia rencana.

Inovasi dari tim peneliti juga bisa menjawab tantangan penyediaan rumah yang berkelanjutan karena memenuhi tiga prasyarat teknologi. Pertama, teknologi tepat guna risba bisa diselenggarakan masyarakat umum, tidak menuntut peralatan yang canggih dan mahal, dan mampu mencapai kualitas standar yang diharapkan.

Pembangunan risba di Adonara, NTT, merupakan contoh teknologi ini mudah dipahami dan diterapkan. Proses penjelasan teknis dilakukan hanya sekitar 2 jam kepada tim mahasiswa. Proses perakitan di lapangan menggunakan peralatan dan metode las sederhana yang mudah dijumpai, bahkan di perdesaan. Setelah dirakit di Kota Maumere, komponen rumah dikirim menggunakan kapal tradisional setempat ke Pulau Adonara.

Prasyarat kedua, teknologi risba memungkinkan rumah bisa dibangun dengan cepat. Proses membangun rumah dalam jumlah besar normalnya memakan waktu panjang. Namun, berdasarkan simulasi riil di lapangan, bangunan risba berukuran 6 m x 6 m bisa selesai hanya dalam lima hari dengan tenaga kerja lima orang per hari.

Prasyarat berikutnya ialah harus bisa menjawab ketersediaan material konstruksi yang memenuhi standar teknis dan tersedia memadai di pasar. Material risba memenuhi standar teknis minimum sehingga dicapai rumah yang tahan gempa.

 

Cepat bangun struktur baja

Risba dibuat agar masyarakat terdampak oleh gempa dapat segera membangun dan menempati kembali rumahnya. Rumah itu juga memenuhi kriteria layak huni, sehat, dan nyaman serta bisa diperluas dan diperbarui jika suatu saat perekonomian pemilik rumah membaik.

Untuk mencapai kualitas tahan gempa, awet, dan standar teknis, bahan baja CNP dipilih sebagai struktur utama risba.

Secara mekanika, bahan baja memiliki perilaku yang ulet, liat, dan tidak mudah patah karena beban bolak-balik seperti yang ditimbulkan getaran gempa. Secara fisik, bahan baja juga memiliki rasio berat terhadap kekuatan yang lebih baik jika dibandingkan dengan material beton bertulang dan kayu. Baja juga tersedia memadai di pasar dan berstandar SNI.

Bahan baja untuk konstruksi memang tergolong mahal. Namun, dengan pemilihan penampang dan modifikasinya, persoalan itu bisa diatasi. Pemilihan profil kotak yang disusun dari dua profil CNP menghasilkan komponen struktur kolom dan balok dengan harga yang masih terjangkau.

Sementara itu, risiko korosi atau berkarat pada baja dapat diatasi dengan memberikan lapisan pencegah karat pada permukaan baja. Jika baja bisa dihindarkan dari kontak dengan udara secara langsung, risiko korosi bisa dihindari atau diminimalkan.

Struktur bangunan risba sudah melalui tahapan penelitian berupa analisis sruktur, desain, dan pengujian di laboratorium. Pengujian skala penuh di Laboratorium Teknik Struktur Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik UGM pada Agustus-September 2018 menunjukkan risba dapat memenuhi target kekuatan dan kekakuan untuk menahan beban gempa seperti di Lombok Utara dan Palu.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat juga telah menegaskan risba memenuhi kriteria rumah tahan gempa dan dapat diterapkan dalam rangka pembangunan kembali perumahan rakyat yang terdampak oleh gempa di NTB.

 

Pemberdayaan dan pengabdian masyarakat

Teknologi tepat guna struktur risba berpotensi menjadi alternatif penyediaan rumah masyarakat yang aman gempa dan bisa memenuhi prinsip berkelanjutan. Terbukti, tak hanya di daerah yang dilanda bencana, risba dilirik untuk dibangun di daerah lain.

Sebuah LSM, misalnya, berencana membangun risba di bawah kaki Gunung Tangkuban Parahu, Jawa Barat. Baru-baru ini, BPBD Jayapura, Papua, juga mengirimkan surat ke Fakultas Teknik UGM untuk meminta pendampingan dan pelatihan untuk aplikasi risba di daerah tersebut.

Dengan teknologi tepat guna itu, akan terbuka proses pembelajaran dan pemberdayaan bagi masyarakat. Warga bisa terlibat langsung dalam penyediaan rumah yang berkelanjutan untuk keluarganya sendiri dan untuk komunitasnya.

Proses pemberdayaan ini juga akan memberikan peluang pencapaian mutu yang baik karena masyarakat sebagai pemilik rumah bisa ikut terlibat dan sekaligus mengawasi pembangunan rumahnya. (*/Hym/X-6)

 

Biodata 

Ir Ashar Saputra ST MT PhD 

 

Jabatan

- Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik UGM

- Asisten Direktur Bidang Konstruksi Project Implementation Unit JICA IP-Loan 576 UGM

 

Pendidikan

S-3 (PhD), Civil Engineering, Chulalongkorn University, Thailand

S-2 (magister teknik) UGM

S-1 (sarjana teknik) UGM

Program Profesi Insinyur UGM

 

Penghargaan

Dosen Pembimbing Lapangan Terbaik UGM 2019

 

Hak kekayaan intelektual

- Sistem sambungan cepat rumah instan baja tahan gempa, HKI UGM, 2019

- Sambungan las pada ujung balok beton pracetak dekat permukaan kolom, proses paten, nomor P00202000859 (bersama tim)

- Sambungan baut pada ujung balok beton pracetak dekat permukaan kolom, proses paten, nomor P00202000855 (bersama tim)

 

Asosiasi profesi

- Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI)

 

Tautan publikasi

https://www.researchgate.net/profile/Ashar-Saputra-2/research

 

 

BERITA TERKAIT