25 August 2021, 18:02 WIB

Wapres: Mukernas MUI Harus Dilakukan Cermat dan Terstruktur 


Mohamad Farhan Zhuhri | Humaniora

WAKIL Presiden Ma’ruf Amin mengimbau Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk selalu mengedepankan khitah (arah perjuangan) Islahiyah Nabawiyah dalam menjalankan kerja organisasi.

Hal itu ditekankan Ma'ruf saat memberikan sambutan dalam Mukernas I MUI periode 2021-2025. Menurutnya, mukernas harus dilakukan secara cermat, terstruktur dan terorganisasi dengan baik. 

Namun, mantan Ketum MUI itu mengatakan bahwa khithah atau arah perjuangan akan berubah sesuai dengan tantangan yang dihadapi. MUI perlu menyiapkan langkah konkret untuk mewujudkan cita-cita perjuangan yang sesuai dengan Islahiyah nabawiyah.

Baca juga: MUI: Maknai Kemerdekaan dengan Rasa Syukur

“Hal ini menjadi sangat penting. Memang pada rapat-rapat sebelumnya, ada berbagai pembahasan untuk menguatkan peran MUI dalam mengatasi masalah umat. Namun, saya rasa perlu dibuatkan juga peta dakwahnya,” ujar Ma'ruf dalam siaran pers MUI, Rabu (25/8)

Lebih lanjut, dia menjelaskan hal konkret yang harus dilakukan dalam penyusunan program Mukernas MUI ialah dengan verifikasi keadaan lapangan (tahqiqul waqi’). Dewan Pertimbangan MUI kembali merekomendasikan peta dakwah yang dapat dibuat dengan menggunakan pendekatan per provinsi.

“Dengan demikian, strategi dan langkah yang dilakukan MUI nantinya dapat disesuaikan dengan keadaan unit per provinsi tersebut,” imbuh Ma'ruf.

Baca juga: Ketum MUI Kecelakaan, Wapres Doakan Kesembuhan

Kedua adalah tahqiqul Manath, yakni melakukan verifikasi masalah untuk diperbaiki dengan melihat apakah masih relevan atau sebaliknya. Penting untuk tidak meng-copy program terdahulu, serta membuat program baru berdasarkan dinamika lapangan. 

Dalam Mukernas MUI, Ma’ruf mengusulkan perlu dilakukan langkah ketiga, yakni kegiatan telaah ulang. “Hal ini tak kalah penting, supaya program yang ada terus di-update sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi,” pungkasnya.

Ma'ruf menyebut tantangan masa kini semakin besar. Sudah seharusnya MUI membantu mempersiapkan juru-dakwah yang mampu menghadapi tantangan tersebut. “Paling tidak memiliki ilmu. Orang yang kita lepas jadi juru dakwah adalah orang-orang zu Ilmi (berilmu) dan orang yang memiliki daya tahan, kemudian orang yang sabar," tutupnya.(OL-11)

 

 

BERITA TERKAIT