23 August 2021, 20:48 WIB

Ini Solusi Uji Klinis Fase 3 Vaksin Merah Putih


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

TERKAIT uji klinis fase III vaksin merah putih, ketua tim riset VMP Unair, Prof Fedik Abdul Rantam mengakui bahwa banyak masyarakat yang telah mendapatkan vaksinasi menjadi masalah tersendiri dalam uji klinis vaksin merah putih. Namun pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan POM untuk menemukan solusi tersebut.

"Kita sudah panjang lebar berkoordinasi dengan Badan POM jika masyarakat banyak menerima vaksin dari berbagai negara itu maka tidak bisa, kita ikutkan jadi volunteer untuk Vaksin kita," kata Prof Fedik dalam webinar Society of Indonesian Science Journalists bertajuk 'Kemajuan Riset Vaksin Merah Putih: Tantangan dan Peluangnya Terkini" secara virtual Senin (23/8)

Pihaknya rencananya akan meminta mahasiswa yang dari daerah untuk diikutsertakan. Apalagi Unair memiliki 80 ribu mahasiswa yang akan diseleksi untuk berpartisipasi.

"Itu solusinya dari Pak Rektor, jika memang kesulitan, tetapi kami punya tim 30 dokter yang biasa uji klinis untuk vaksin, baik produk bio Farma atau tugas badan POM," sebutnya.

Dia menambahkan harapannya bahwa sekitar Maret mendatang bisa mendapatkan EUA dari Badan POM dan selanjutnya bisa diproduksi secara massal hingga bisa digunakan untuk masyarakat.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof. Amin Soebandrio mengatakan bahwa jumlah masyarakat yang divaksinasi pasti akan bertambah signifikan, apalagi saat ini dosis pertama telah mencapai 50 juta orang dan dosis kedua setengahnya.

"Kalau target vaksinasi 2 juta orang tercapai dengan baik maka sampai akhir tahun sudah lebih banyak orang yang divaksinasi. Nah salah satunya alternatif solusinya adalah kita akan cari subjeknya di luar Jawa yang belum terjangkau vaksinasi," sebutnya.

Baca juga : Menkes Diperintahkan Kejar Vaksinasi 100 Juta Dosis Dalam Seminggu

Kemudian awalnya Eijkman berencana akan menyasar masyarakat usia 18 tahun namun kini telah diperbolehkan vaksin bagi usia 12-17 tahun. Lanjut Prof Amin, nanti akan dilakukan terhadap anak-anak yang belum mendapatkan vaksin di usia mendekati usia tersebut.

"Kita akan kerjasama dengan luar negeri, karena negara tetangga berminat ikut uji klinis fase tiga," lanjutnya.

Diketahui, Eijkman menjadi satu dari tujuh institusi di tanah air yang melakukan riset Vaksin Merah Putih dengan platform protein rekombinan. Saat ini, riset vaksin tersebut masih dalam proses transisi dari laboratorium ke industri disertai scalling-up dan peningkatan yield sehingga proses produksi dapat lebih efisien. Setelah itu, tahapan akan berlanjut ke uji praklinis dan uji klinis.

Prof Amin berharap agar tahun depan emergency use of authorization (EUA) Vaksin Merah Putih yang dikembangkan LBM Eijkman sudah keluar.

"Kita harapkan di pertengahan tahun (2022) karena uji klinisnya kan 8 bulan. Tapi EUA kan tidak harus menunggu sampai uji klinik fase III selesai. Kalau pertengahan dari uji klinik fase III hasilnya sudah bagus, kita harapkan bisa menjadi pertimbangan untuk mendapatkan EUA," lanjutnya.

Prof Amin tak memungkiri itu menjadi tantangan dengan mencari orang yang belum divaksin Covid-19 sebagai subjek yang diikutsertakan dalam uji klinis fase III. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT