23 August 2021, 12:10 WIB

Laut Aru Jadi Lokasi Pemburuan dan Eksploitasi Hiu di Indonesia


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, Moh Abdi Suhufan mengatakan dalam kurun waktu 2018-2020 produksi sirip hiu kering yang tercatat oleh otoritas laut Arafura di Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku adalah sebanyak 56 ton. Angka eksploitasi hiu dan pari akan lebih tinggi jika ditambahkan dengan kegiatan penangkapan hiu yang tidak dilaporkan.

“Setiap tahun rata-rata laut Aru menghasilkan 18,6 ton sirip hiu kering dengan berbagai ukuran kecil sampai besar dengan nilai Rp 11,3 miliar,” kata Abdi dalam keterangannya, Senin (23/8).

Volume dan nilai sirip hiu akan bertambah tinggi jika menambahkan transaksi perdagangan lainnya seperti daging, kulit, tengkorak dan rahang hiu.

Baca jugaBKKBN Tekankan Penajaman Penanganan Stunting dari Hulu

“Dalam 3 tahun terakhir, total volume produksi daging, kulit, tengkorak dan rahang hiu mencapai 805 ton,” ujar Abdi.

Abdi menambahkan selain hiu, eksploitasi dan penangkapan ikan Pari Kikir atau Kekeh juga sangat tinggi. Dalam kurun waktu 2018-2020 produksi ikan ini mencapai 7,5 ton.

Tingginya eksploitasi dan penangkapan ikan hiu di Kepulauan Aru salah satunya dikarenakan masih adanya izin yang diterbitkan oleh pemerintah provinsi Maluku untuk kapal-kapal rawai pencari hiu ukuran di bawah 30GT.

“Sejauh ini penangkapan hiu belum menerapkan sistim kuota sehingga laju eksploitasi hiu tidak dapat dikontrol,” katanya.

Tidak ada spesies atau jenis khusus hiu dan pari yang menjadi target tangkapan oleh para nelayan di Dobo Kepulauan Aru. Mereka menangkap jenis apa saja. Sedangkan untuk alat tangkap yang digunakan adalah pancing rawai dasar dan juga jaring dasar tetap.

“Menjadi kendala utama untuk tracing jenis hiu yang ditangkap oleh para nelayan karena kondisi ikan yang sudah tidak utuh pada saat didaratkan,” ungkapnya.

Baca jugaAngka Stunting Sejumlah Daerah Masih di Atas Rata-Rata Nasional

Selanjutnya Abdi mengatakan bahwa kapal ikan yang beroperasi dalam penangkapan hiu di Aru cukup beragam, mulai dari kapal kecil dengan ukuran 5 GT hingga kapal-kapal yang berukuran 20 GT.

Jumlah armada kapal pencari hiu cukup banyak di Dobo dengan alat tangkap pancing rawai dasar untuk berburu ikan hiu. Para pencari hiu ini umumnya para nelayan yang berasal dari Makassar.

Adapun wilayah fishing ground nelayan pencari hiu berada di sekitar Suaka Alam Perairan (SAP) Aru bagian Tenggara, sekitar Pulau Babi dan Perairan Aru bagian utara.

Tidak salah jika Indonesia merupakan pusat biodiversity dunia. Hal ini salah satunya bisa dibuktikan dengan tingginya keanekaragaman jenis ikan hiu dan pari yang ditemukan di periaran Indonesia.

Dari 500 jenis hiu dan pari di dunia, 221 jenis ditemukan di perairan Indonesia. Dari 221 jenis tersebut terdiri dari 117 jenis ikan hiu, 3 jenis ikan hiu hantu, dan 101 jenis ikan pari.

Namun demikian, ancaman atas biodiversitas dan kelimpahan ini makin nyata karena tingginya eksploitasi dan penangkapan hiu dan pari. Salah satu perairan yang merupakan lokasi favorit penangkapan dan eksploitasi ikan hiu dan pari di Indonesia adalah laut Arafura. (H-3)

BERITA TERKAIT