22 August 2021, 22:05 WIB

Wah, Titik Panas Karhutla Terbanyak Muncul di NTT


Atalya Puspa | Humaniora

BERDASARKAN pantauan citra satelit Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, dalam 10 hari terakhir terdapat sejumlah titik panas hing confidence di sejumlah wilayah. Adapun, terbanyak berasal dari wilayah Nusa Tenggara Timur yakni sebanyak 61 titik.

Selanjutnya, titik panas juga berada di wilayah Kalimantan Barat sebayak 34 titik, Papua 17 titik, NTB 17 titik, Kalimantan Utara 17 titik, Maluku 9 titik, dan Jambi 4 titik.

Untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan pihaknya mendorong pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meliputi tiga klaster dalam strategi penanganan karhutla.

Klaster pertama, melakukan analisis iklim dan langkah monitoring cuaca secara kontinyu yang didukung oleh rekayasa hari hujan melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Klaster kedua, pengendalian operasional dalam sistem satgas terpadu oleh para pihak di tingkat wilayah. Klaster ketiga, pembinaan tata kelola lanskap, khususnya dalam ketaatan pelaku usaha/pemegang konsesi, praktik pertanian, dan pengelolaan lahan gambut.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK Basar Manulang menjelaskan kegiatan pada klaster pertama Kementerian LHK telah melaksanakan TMC tahap kedua di Riau setelah melihat hasil yang positif pada operasi TMC tahap pertama (periode 10 Maret - 5 April 2021).

"Berdasarkan Citra Satelit TRMM, di sekitar wilayah semai pada periode 3 – 24 Juli 2021 telah terjadi hujan dengan volume 40,6 juta ton dan curah hujan di wilayah Provinsi Riau sebesar 62.3 mm/5 hari untuk periode 6 sampai 10 Juli 2021," kata Basar, Minggu (22/8).

Curah hujan terbesar di Rokan Hilir, menurutnya, mencapai lebih dari 250mm. Hal ini berkorelasi positif dengan menekan kemunculan hotspot dan kebakaran pada periode tersebut. TMC Riau periode Juli 2021 menghasilkan penambahan curah hujan 2% dari curah hujan alami di Provinsi Riau.

Sementara TMC di Sumatra Selatan dan Jambi pada 10 - 27 Juni 2021 dengan posko TMC di Pangkalan TNI AU Sri Mulyono Herlambang telah berdampak signifikan terhadap penambahan curah hujan untuk menahan kelembaban permukaan lebih lama terutama pada lahan gambut.

“Secara umum persentase penambahan curah hujan di Provinsi Sumatra Selatan berkisar 48-69% sehingga berpengaruh terhadap curah hujan alaminya sebesar 66,92 juta m3. Sedangkan persentase penambahan curah hujan di Provinsi Jambi berkisar 51-66% sehingga berpengaruh terhadap curah hujan alaminya sebesar 22,4 juta m3,” jelas Basar.

Terpadu
Pada klaster kedua, Basar mengungkapkan lebih lanjut kementerian LHK bersama dengan Satgas Provinsi telah melaksanakan patroli dalkarhutla rutin secara mandiri dan terpadu. Patroli mandiri oleh Manggala Agni telah dilaksanakan pada 704 posko desa di provinsi rawan karhutla yaitu 51 posko di Sumatera Utara, 75 posko di Riau, 12 posko di Kepuluan Riau 73 posko di Jambi, 87 posko di Sumsel, 111 posko di Kalbar, 92 posko di Kalteng, 74 posko di Kalsel, 40 posko di Kaltim, 3 posko di Kaltara, 40 posko di wilayah Sulawesi, 10 posko di Jawa. dan 36 posko di Maluku dan Papua Barat.

Selain Patroli Mandiri, juga dilaksanakan Patroli Terpadu yang saat ini sedang berlangsung dengan jumlah 187 desa di Sumatera dan Kalimantan. Patroli terpadu yang dilaksanakan di Provinsi Sumatera Utara sebanyak 17 posko, Riau 53 posko, Kepri 1 posko, Jambi 14 posko, Sumsel 16 posko, Kalbar 29 posko, Kalteng 26 posko, Kalsel 18 posko, Kaltim dan Kaltara 13 posko.

Basar menambahkan patroli pencegahan dan sosialisasi pencegahan karhutla yang dilakukan oleh anggota Manggala Agni, TNI, Polri, Perangkat Desa dan Masyarakat Peduli Api serta masyarakat berkesadaran hukum/ paralegal saat ini memasuki tahap kedua yang dilaksanakan pada periode 8 Juni - 12 Juli 2021 di Provinsi Kalimantan Barat (Desa Rasau Jaya Umum, Kecamatan Kubu Raya Kabupaten Kubu Raya), dan tanggal 10 Juni - 14 Juli 2021 di Provinsi Kalimantan Tengah (Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau).

Pada klaster ketiga, Basar menjelaskan Kementerian LHK telah melaksanakan penataan ekosistem gambut di kawasan hidrologi gambut yang merupakan sinergi antara KLHK dan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dengan fokus wilayah kerja yang berbeda. Berdasarkan hasil pantauan tinggi muka air dari sistem "SiMATAG-0,4m" KLHK dari 10.867 titik, tinggi muka air tanah gambut pada umumya cenderung kering dan perlu kehati-hatian dalam pengelolaan airnya antara lain di Provinsi Riau (Kabupaten Pelalawan, lndragiri Hulu, Kampar dan Bengkalis); Sumatera Selatan (Kabupaten Panukal Abab Lematang llir); Kalimantan Barat (Kabupaten Ketapang); Kalimantan Tengah (Kabupaten Kotawaringin Timur); dan Kalimantan Selatan (Kabupaten Banjar).

Berdasarkan hasil pengamatan SIPALAGA BRGM dari 156 titik muka air tanah cenderung kering di wilayah Riau (Kabupaten Rokan Hilir, Siak, lndragiri Hilir dan Kepulauan Meranti), Sumatera Selatan (Kabupaten Musi Banyuasin dan Ogan Komering llir), Jambi (Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat, dan Muaro Jambi), Kalimantan Barat (Kabupaten Kubu Raya dan Sambas), Kalimantan Barat (Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kapuas) dan Kalimantan Selatan (Kabupaten Balangan dan Barito Kuala).

Basar mengharapkan dengan pelaksanaan upaya menuju solusi permanen pengendalian karhutla yang meliputi tiga klaster perlu terus didorong sehingga kejadian karhutla di Indonesia bisa ditekan lebih rendah lagi. (H-2)

BERITA TERKAIT