22 August 2021, 14:35 WIB

Operasi TMC Akan Manfaatkan Flare Dalam Negeri


Atalya Puspa | Humaniora

BALAI Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC-BPPT) akan memanfaatkan bahan semai Flare/CoSAT dalam negeri dalam operasi Teknologi Modifikasi Cuaca di masa mendatang. Flare CoSAT (Cloud Seeding Agent Tube ) 1000 produksi PT Pindad tersebut telah digunakan dalam operasi teknologi modifikasi cuaca untuk menambah tinggi muka air Danau Toba pada April 2021.

“Operasi modifikasi cuaca untuk menambah tinggi muka air Danau Toba tersebut sekaligus menjadi tonggak sejarah terlepasnya Indonesia dari ketergantungan impor flare dari negara asing,” ujar Perekayasa Ahli Utama, BBTMC – BPPT Samsul Bahri dalam keterangan resmi, Minggu (22/8).

Sebelumnya, produk Flare/CoSAT yang digunakan dalam operasi TMC diimpor dari Amerika Serikat. Flare adalah bahan semai yang bersifat higroskopis terbuat dari bahan NaCl dan CaCl2. Kemudian flare ini akan dibakar dan menghasilkan partikel seperti asap, dimana sifat asap ini ringan sehingga mudah menyebar dan dianggap sebagai medium penghantar material higroskopis ke seluruh bagian awan paling efektif.

”TMC berbasis flare adalah suatu teknik terkini dalam penyemaian awan dimana pelepasan partikel kimia ke dalam awan dilakukan dengan cara suar atau flare,” papar Samsul.

Samsul menambahkan, BPPT dan PT Pindad (Persero) sebenarnya sejak 2010 sudah berhasil memproduksi flare dalam negeri. Namun, sertifikasi kelaikan baru dikeluarkan November 2020.

"CoSAT 1000 sangat praktis, cepat dan mudah dalam operasionalnya. Partikel CCN yang dihasilkan flare / CoSAT 1000 sangat halus sekitar 0,7–3,3 mikron, dan tidak terjadi penggumpalan bahan semai,” ujarnya.

Kelebihan TMC berbasis flare, lanjut Samsul Bahri, waktu loading flare / CoSAT 1000 hanya beberapa menit siap diterbangkan pesawat, sehingga maksimal dalam mendapatkan window opportunity atau menyemai di range periode life time pertumbuhan awan.

“Faktor ketinggian lokasi bandara tidak berpengaruh, sehingga lebih efektif dan efisien, serta mendukung keberhasilan TMC yang tinggi,” ujarnya.

Menurut Deputi TPSA BPPT Yudi Anantasena, potensi TMC dari tahun ke tahun semakin meningkat, terutama potensi TMC berbasi Flare/CoSAT 1000 yang memiliki nilai ekonomis tinggi di masa mendatang, baik untuk memenuhi ketersediaan air waduk/danau, pencegahan bencana Hidrometeorologi, dan untuk mendukung peningkatan aktivitas sektor pertambangan.

”Selain bidang kebencanaan, peranan TMC berbasis flare diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan dan PLTA . Dalam PERPRES 60/2021 tentang Penyelamatan Danau Prioritas Nasional tlah menetapkan 15 danau Prioritas Nasional, mulai Sumatera Utara hingga Papua,” ujar Yudi Anantasena.

Baca juga : Peran Penting Jaringan Telekomunikasi di Perbatasan Natuna

Koordinator Bagian Umum BBTMC – BPPT Budi Harsoyo menyoroti pengurusan ijin flare yang panjang, baik penggunaan, pengangkutan, penyimpanan, pengalihan penggunaan, pemilikan, serta pemusnahan. Sementara masa berlaku ijin yang singkat dan harus terus diperpanjang.

“TMC sangat tergantung pada keberadaan awan dan cuaca yang sangat cepat berubah, sering terjadi peluang cuaca tersebut hilang dan operasi menjadi mundur atau tidak jadi dilaksanakan karena persyaratan dan ijin flare belum selesai,” ujarnya.

Menurut Budi Harsoyo, flare TMC meski dikategorikan sebagai handak (bahan peledak), namun bukan termasuk kategori high explosive, tetapi low explosive.

“Karena penugasan TMC seringkali bersifat mendadak dan perlu reaksi cepat untuk tujuan darurat bencana, kiranya alur birokrasi perizinan flare dapat dipertimbangkan untuk disederhanakan atau dikecualikan dibandingkan handak lain,” tandasnya.

Kepala BBTMC-BPPT Jon Arifian menuturkan TMC berbasis flare ini sudah mulai diuji coba sejak 1999, untuk pengisian DAS Larona (Danau Matano, Mahalona dan Towuti) di Sulawesi Selatan. Implementasinya melalui kerjasama riset 3 negara saat itu, yaitu BPPT (Indonesia), Amerika (Atmospheric Incorporated/dilanjutkan Weather Modification Incorporated) dan Canada (PT.Inco, Tbk – yang memanfaatkan DAS Larona tersebut pada saat itu).

”Hingga saat ini metode flare sudah beberapa kali digunakan dalam operasi TMC baik menggunakan pesawat Piper Cheyenne ataupun dari darat menggunakan menara GBG (Ground Based Generator). Seperti Operasi TMC pencegahan banjir Jabodetabek lalu dan operasi TMC untuk PLTA dan kebutuhan pertambangan,” paparnya.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan kedepannya teknologi Kecerdasan Artifisial (KA) dan IoT diharapkan dapat membantu BBTMC secara khusus dalam melaksanakan operasi TMC.

”KA menyediakan sebuah evidence-based forecasting terhadap kondisi wilayah daerah target TMC, sedangkan IoT dapat mendukung otomatisasi dalam pelaksanaan TMC terutama TMC berbasis Flare/CoSAT 1000 menggunakan metode Ground Base Generator. Selain itu, juga telah dijajaki riset penggunaan drone satau pesawat nir awak yang digunakan untuk menghantarkan bahan semai Flare/CoSAT ini ke dalam awan,” ujar Hammam. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT