16 August 2021, 14:35 WIB

Mengedepankan Semangat Merdeka Belajar untuk Gairahkan Produk Inovasi Dalam Negeri


Media Indonesia | Humaniora

PADA 10 Agustus 1995 atau 26 tahun lalu, Indonesia berhasil menerbangkan pesawat buatan anak bangsa pertama, yakni N-250 Gatotkaca. Momentum itu telah membangkitkan optimisme rakyat Indonesia akan inovasi anak bangsa.

Hanya saja dalam perjalanannya, kecintaan dan kebanggaan atas produk-produk buatan dalam negeri cukup rendah. Pada satu sisi, masyarakat merasa kualitas produk dalam negeri masih kurang bersaing. Di sisi lain, cukup banyak inovasi pelajar dan mahasiswa yang kurang diberi tempat.

Menteri Pendidikan, Kebuda­yaan, Riset dan Teknologi (Mendik­budristek) Nadiem Makarim me­ngungkapkan tantangan di atas  menjadi salah satu prioritas Kemendikbudristek. Menurut Nadiem, salah satu cara terbaik untuk mengatasi tantangan tersebut ialah dengan mengedepankan semangat Merdeka Belajar, yakni inovasi yang lahir dari kolaborasi.

“Dalam konsep Merdeka Belajar, peserta didik adalah prioritas ­utama. Kita sebagai pendidik harus memberikan kemerdekaan kepada pada pelajar untuk mencoba hal-hal baru dan menciptakan inovasi,” tegas Mendikbudristek dalam Pe­ringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional secara virtual, Selasa (10/8).

Namun, lanjutnya, saat ini inovasi saja tidak cukup. Globalisasi dan perkembangan zaman menuntut kita menghilangkan sekat-sekat yang memisahkan antara bidang ilmu, sektor, dan lembaga. Melalui program-program Merdeka Belajar seperti SMK Pusat Keunggulan, Kampus Merdeka Vokasi, dan Kampus Merdeka, Kemendikbudristek membuka pintu-pintu kolaborasi lintas sektor.

Di samping itu, kata Nadiem, seperti layaknya Merdeka Belajar yang menjadi gerakan bersama memperbaiki sistem pendidikan Indonesia, Bangga Buatan Indonesia semestinya tidak hanya menjadi jargon. Melainkan aksi nyata yang melibatkan semua lapisan masyarakat.

“Untuk sektor pendidikan kita dapat berfokus untuk pengembangan produk-produk merah-putih. Dan dalam pengembangannya, kita perlu menguatkan sinergi yang melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan, selain rektor pendidikan, pemerintah, serta dunia usaha dan industri,” jelas Nadiem.

Sinergi inilah yang nantinya akan memungkinkan pemanfaatan inovasi yang lebih luas dan lebih berkesinambungan. Mendikbudristek yakin Indonesia akan tumbuh menjadi negara yang tangguh dengan inovasi anak bangsa dan gerakan bersama mewujudkan Merdeka Belajar.

Lebih jauh, Nadiem meyakini bahwa suatu paradigma baru harus dilahirkan, yakni paradigma yang tidak melihat pembatasan antara akademia dan industri. Harusnya, kata dia, ekosistem riset harus dilihat sebagai suatu kesatuan.

“Dari awal, bukan cuma dari akhir, harus ada proses kolaborasi (pendidikan dan industri). Dan regulasi-regulasi kita harus memerdekakan sekat-sekat ini. Dosen-dosen kita harus terakselerasi kariernya dalam mendedikasikan dirinya untuk riset. Mahasiswa kita tidak perlu mengorbankan SKS-nya untuk melakukan riset,” papar Nadiem.

Menurutnya, ada beberapa jenis kebijakan yang sudah mengarah kepada kolaborasi dini dari industri dan perguruan tinggi. Dia mencontohkan seluruh platform kebijakan Kampus Merdeka ialah memastikan sebanyak mungkin industri berpartisipasi dalam pendidikan perguruan tinggi.

“Kita ingin sebanyak mungkin praktisi turun tangan ke dalam kampus untuk mengajar. Kita ingin sebanyak mungkin dosen keluar dari kampus untuk belajar di industri, dan tentunya kita ingin mahasiswa keluar dari kampus untuk mencari pengalaman termasuk riset,” jelasnya.

Nadiem mengatakan ada setidaknya lima fokus riset yang juga menjadi arahan Presiden Joko Widodo. Pertama ialah ekonomi hijau (green economy) yang antara lain berfokus pada renewable energy dan mitigasi dampak-dampak perubahan iklim.

Kedua adalah blue economy, yaitu berhubungan dengan ekonomi maritim. Hal ini berkaitan dengan bagaimana meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat di pesisir Indonesia. Ketiga, transformasi digital yang akan mengubah mekanisme industri, pemerintahan, dan manajerial secara umum.

Adapun keempat, pariwisata. Dalam hal ini, pemerintah ingin memastikan Indonesia dapat menjadi pemain dunia dalam pariwisata. Terakhir ialah teknologi kesehatan. Tujuannya adalah mengakselerasi kemandirian teknologi kesehatan itu sendiri.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono menjelaskan kemandirian teknologi dan inovasi di sektor kesehatan harus terus digalakkan. Pasalnya, Indonesia memiliki biodiversitas yang sangat banyak.

“Diperlukan usaha-usaha untuk membuat biodiversitas yang kita punya di seluruh Tanah Air menjadi salah satu bahan baku yang bisa dikembangkan dalam bentuk obat-obat yang siap pakai. Kami melakukan evaluasi bahwa sepuluh molekul obat yang paling diperlukan dalam produksi obat di Indonesia semuanya masih impor,” kata Dante.

Ke depan, katanya, produk-produk bahan baku obat tersebut diharapkan bisa diproduksi di dalam negeri. “Sebenarnya itu bisa kita lakukan. Contoh obat Paracetamol itu bahan bakunya masih impor, padahal itu berasal dari fenol yang diproduksi oleh Pertamina, sisa produksi bahan bakar minyak,” imbuhnya.

Kedaulatan teknologi
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbud­ristek Nizam mengatakan bahwa semangat untuk membangun kedaulatan teknologi terus digelorakan. Terutama melalui riset di perguruan tinggi, baik di universitas, politeknik, institut, dan seluruh jajaran perguruan tinggi.

Menurut Nizam, semangat membangun kedaulatan teknologi tersebut hanya bisa terwujud melalui kolaborasi atau gotong-royong. “Jadi tidak bisa hanya berangkat dari satu sisi, perguruan tinggi. Tapi harus bersama-sama dengan para mitra untuk menjawab berbagai macam tantangan dari berbagai sektor pembangunan,” katanya.

Nizam menyebut pihaknya juga mendorong perguruan tinggi untuk menghilirkan karya-karyanya untuk bisa memasuki dunia industri sehingga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. “Platform Kedaireka (Kedaulatan Indonesia dalam Reka Cipta) yang sangat mendapat tanggapan positif dari mitra industri, menjadi satu platform untuk berkolaborasi lintas kementerian dan dengan dunia industri,” katanya.

Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Dody Widodo, Kemenperin sudah lama menghadirkan kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk menghilirkan produk-produknya. 
“Contohnya, ventilator (buatan dalam negeri) itu, hulunya atau penelitiannya dibantu teman-teman UGM, industrinya itu binaan kita, YPTI (PT Yogya Presisi Tehnikatama Industri). Dari awal sampai akhir kita memback-up teman-teman, baik perguruan tinggi maupun industrinya,” tuturnya.

Pada peringatan Hakteknas tahun ini, Kemendikbudristek meluncurkan Lembaga Akreditasi Mandiri Prodi Teknik (LAM Teknik) sebagai akselerator mutu pendidikan tinggi di Indonesia. Hal ini guna mempercepat peningkatan kualitas program studi teknik yang inovatif, kompetitif, dan mandiri. (Ifa/S2-25)

BERITA TERKAIT