16 August 2021, 06:55 WIB

Strategi Kemdikbudristek dalam Melakukan Revitalisasi dan Transformasi Pendidikan Vokasi


Wikan Sakarinto S.T., M.Sc., Ph.D. Direktur Jenderal  Pendidikan Vokasi |

SAAT ini Kemendikbudristek melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi sedang dan akan terus merevitalisasi dan mentransformasikan pendidikan vokasi agar lebih link and match dengan dunia usaha dan dunia industri.  Kemendikbudristek juga terus berupaya memberikan dukungan kebijakan bagi dunia usaha dan dunia industri untuk bersinergi dalam penyelenggaraan pendidikan vokasi, ini sebagai bagian dari implementasi kebijakan Merdeka belajar khususnya di bidang pengembangan pendidikan vokasi. 

Kemendikbudristek juga selalu menindaklanjuti arahan dari Presiden RI untuk meningkatkan pembelajaran dari pelaku maupun praktisi industri yang saat ini akan terus disempurnakan dukungan kebijakannya dalam rangka memfasilitasi industri bisa masuk sebesar-besarnya ke dalam satuan pendidikan vokasi dan mendukung penyelenggaraan pembelajaran di pendidikan vokasi. Termasuk secara intens Ditjen Pendidikan Vokasi berupaya untuk mengawal implementasi Instruksi Presiden tentang revitalisasi SMK dalam rangka peningkatan kualitas dan daya saing SDM Indonesia dengan terus menjaga pola koordinasi antar Kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah dalam program revitalisasi SMK menuju 5000 SMK terevitalisasi.

Rencana kerja pemerintah di tahun ini mengambil tema yakni pemulihan ekonomi dan reformasi sosial, rencana ini kemudian didetilkan dan pada aspek peningkatkan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing telah menjadi concern Kemdikbudristek dalam menyusun program dan kebijakan. Beberapa hal yang telah menjadi fokus Ditjen Pendidikan Vokasi adalah meningkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran pendidikan vokasi, kemudian pemerataan akses dan fasilitas serta kualitas SDM baik dari tenaga pendidik, tenaga kependidikan, termasuk peserta didik. Berikutnya yaitu menjamin mutu pendidikan vokasi agar memiliki kesesuai­an dengan perkembangan kekinian serta permintaan dari dunia kerja. Hal ini semata-mata untuk menciptakan lulusan vokasi yang berkompeten yang memiliki softskill kuat, hardskill yang mumpuni, berkarakter pancasila, memiliki integritas, berdaya saing secara global, serta berjiwa socio-tekno enterpreneurship.


Taut suai pendidikan dan dunia kerja

Sebagai jenis pendidikan yang menitikberatkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu maka vokasi harus bisa mengajak dunia kerja untuk masuk ke dalam penyelenggaraan pendidikan vokasi. Kemendikbudristek mengintegrasikan pendidikan vokasi dan dunia kerja melalui konsep link and match 8 + i, yakni tidak hanya menitikberatkan kepada seremonial penandatanganan MOU belaka tetapi memfokuskan pada implementasi pelaksanaan kerjasama link and match atau taut suai dengan dunia kerja secara konkrit dan menyeluruh.  Konsep link and match 8+i ini patut dipandang sebagai acuan dan ruh dalam menghadirkan inovasi dan program pengembangan vokasi.

Secara detail konsep link and match 8+i ini adalah: Pertama, dengan penyelarasan kurikulum, yaitu kurikulum satuan pendidikan vokasi sejak awal disusun bersama dengan dunia kerja yang kita biasa analogikan dengan memasak bersama. Kedua, dilanjutkan dengan pembelajaran berbasis project nyata dari industri atau dari dunia kerja yang disebut Project Based Learning.   Ketiga, menghadirkan dan meningkatkan jumlah pengajar, praktisi, atau ahli dari industri dan dunia kerja untuk mengajar di  vokasi hingga 50 jam per semester program studi atau program keahlian.  Keempat, adalah magang atau praktek kerja di dunia kerja minimal 1 semester untuk setiap peserta didik. Kelima, sertifikasi kompetensi yang sesuai dengan standar dan kebutuhan dunia kerja bagi lulusan maupun peng­ajar, guru, dosen dan, instruktur.  Keenam, baik guru, dosen, ins­truktur, maupun pengajar di satuan pendidikan vokasi wajib secara rutin mendapatkan update dan pelatihan dari dunia kerja.  Ketujuh, adalah menyelenggarakan riset terap­an yang mendukung teaching factory atau teaching industry yang bermula dari kasus atau kebutuhan nyata di industri atau masyarakat, sehingga hasil riset tersebut dapat langsung di hilirisasikan ke masyarakat sebagai solusi atau inovasi dari pendidikan vokasi, Kedelapan, komitmen serapan lulusan oleh dunia kerja tetapi tidak bersifat mewajibkan melainkan berwujud komitmen kuat untuk menyerap lulusan vokasi yang sudah link and match. Untuk poin ‘i’-nya adalah tambahan yang dapat diisi berbagai hal potensi program kerjasama dengan dunia kerja, contohnya diantaranya beasiswa atau ikatan dinas, kemudian donasi dalam bentuk pendanaan atau penyediaan peralatan, dan/atau bentuk-bentuk kolaborasi pendidikan vokasi dengan dunia kerja lainnya.


Forum Pengarah Vokasi sebagai Representasi Dunia Kerja

Kemendikbudristek melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi saat ini dalam mengo­rkestrasi SMK, pendidikan tinggi vokasi, dan Lembaga Kursus dan pelatihan se Indonesia sangat membutuhkan arahan dari dunia kerja sebagai bentuk kemitraan dan penyelerasan secara menyeluruh, substantif, dan berkelanjutan. Untuk itu dalam rangka mewujudkan pendidikan vokasi sebagai kekuatan ekonomi nasional melalui peningkatan kompetensi peserta didik yang selaras dengan dunia kerja Direktorat Jenderal pendidikan vokasi membentuk Forum Pengarah Vokasi atau RUMAH VOKASI sebagai wadah perwakilan dunia kerja untuk memberi masuk­an dalam pengembangan pendidikan vokasi yang anggotanya terdiri dari puluhan perwakilan industri, asosiasi pengusaha, KADIN, APINDO, hingga BUMN yang secara rutin memberikan feedback kepada Kemendikbudristek dalam pengembangan pendidikan vokasi, dan ini akan terus dikembangkan untuk menemukan pola ideal yang bisa betul-betul menyinergikan dunia kerja dengan pendidikan vokasi.


Program Revitalisasi SMK

Program prioritas Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi yang merupakan amanat langsung dari Presiden adalah penguatan SMK secara kelembagaan, SDM, maupun dukungan fisik. Saat ini Ditjen Pendidikan Vokasi te­rus berupaya menyempurnakan program-program penguatan SMK untuk bisa semakin link and match dengan dunia kerja. Salah satunya melalui program SMK Pusat Keunggulan yang beberapa waktu lalu diluncurkan oleh Mendikbudristek sebagai bagian dari Kebijakan Merdeka Belajar Episode ke-8. Salah satu hal penting sebagai inovasi dalam program SMK pusat keunggulan adalah dilakukannya pendampingan revitalisasi SMK oleh perguruan tinggi dalam aspek perencanaan, pengelolaan program, dan pengembangan sinergi, dengan dunia kerja.

Selain program SMK Pusat Keunggulan Ditjen Pendidikan Vokasi juga mengembangkan skema-skema pengembangan SMK lainnya dengan berbagai program. Program pengembangan SMK ini juga senantiasa bersinergi dengan mitra utama Ditjen Pendidikan Vokasi yakni Kementerian Dalam Negeri Pemerintah Daerah, Kementerian Perindustrian, Kementerian Ketenagakerjaan, serta banyak pihak-pihak lain yang memiliki kesamaan visi dalam pengembangan SMK. Secara khusus Ditjen Pendidikan Vokasi juga mengembangkan Program teaching factory agar terus mendorong SMK untuk memiliki produk sesuai standar mutu industri yang hadir dari pembelajaran berbasis produksi disertai pendampingan atau mentoring dari mitra industri secara berkelanjutan terukur dan didorong untuk bisa di scale up serta dilakukan diversifikasi produk. Tujuannya ialah agar guru dan murid sebagai pelaku produksi dan pemasaran produk mampu memahami pasar dan standar dunia kerja dengan bimbingan dari mitra industrinya.

Kemendikbudristek juga melakukan kebijakan pengembangan spektrum keahlian yakni melakukan penyederhanaan spektrum keahlian, yang secara ringkas ditujukan menyesuaikan paradigma pembelajaran berdasarkan masukan dan naskah kajian yang disusun oleh akademisi dan perwakilan dari dunia kerja dalam hal ini melalui RUMAH VOKASI. Hal ini agar menciptakan ekosistem pembelajaran baru di SMK yang dapat dikembangkan secara fleksibel dan adaptif terhadap perkembangan dunia sehingga menciptakan rancangan pembelajaran SMK yang update terhadap tantangan perkembangan zaman kekinian. 


Pengembangan Pendidikan Tinggi Vokasi

Dalam aspek penguatan perguruan tinggi vokasi Ditjen Pendidikan Vokasi juga memberikan ruang untuk dunia kerja masuk ke dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi vokasi baik itu di politeknik maupun program studi vokasi yang ada di universitas, sekolah tinggi, maupun Institut. Beberapa program utama sebagai inovasi penguatan pendidikan tinggi vokasi telah terangkum dalam Kebijakan Merdeka belajar episode ke-11. Episode ini menghadirkan skema pendanaan matching fund dan competitive fund bagi pendidikan tinggi vokasi untuk merangsang dunia usaha dunia industri masuk berkolaborasi dalam pola kerja sama yang dapat dipilih.

Matching fund atau dana padanan kampus vokasi bertujuan mengintegrasikan ekosistem riset terapan dengan dunia kerja dan mengakui kesetaraan hasil riset terapan dengan karya ilmiah melalui program pengembangan pusat keunggulan teknologi, program hilirisasi produk purwarupa/prototype atau teknologi, dan program pembangunan startup vokasi yang dibangun bersama dunia usaha dunia industri.  Sedangkan untuk competitive fund terbagi menjadi 2 program. Ke­satu, Peningkatan D3 ke Sarjana Terapan, yakni memfasilitasi agar tercipta transformasi program studi D3 menjadi sarjana terapan dengan proses yang lebih praktis dan tentunya dipersyaratkan adanya link and match dengan dunia kerja yang bertujuan untuk menciptakan kualifikasi kompetensi yang lebih tinggi dan lebih mudah terserap di dunia kerja. Kedua, Program SMK - D2 jalur cepat yang merupakan kolaborasi SMK, Politeknik, dan mitra industri untuk menciptakan sebuah skema percepatan pendidikan yang terintegrasi dari SMK hingga D2 yang link and match dengan industri tetapi cukup ditempuh dalam waktu empat setengah tahun dari masa studi normal 5 tahun, dan total pembelajaran di mitra industri sejumlah 3 semester, sehingga lulusannya dapat langsung mendukung potensi lokal kawasan industri dan kawasan ekonomi di sekitarnya.


Penguatan Kursus  dan Pelatihan

Selanjutnya untuk bidang kursus dan pelatihan Kemdikbudrsitek mengembangkan program Pendidikan Kecakap­an Kerja dan Pendidikan Kecakapan Kewirausahaan yang secara praktis melatih puluhan ribu peserta melalui ribuan Lembaga Kursus dan Pelatihan yang telah terstandarisasi untuk menghasilkan SDM yang akan mendedikasikan dirinya untuk menciptakan dan mengembangkan usaha baru, sehingga akan mendorong terciptanya banyak kesempatan kerja bagi masyarakat luas. Selain itu Lembaga Kursus dan Pelatihan juga difasilitasi untuk bisa meningkatkan manajemen dan pengelolaan kelembagaannya agar semakin profesional dan berdaya saing melalui berbagai workshop serta pelatihan bagi pengelola.


Penguatan Sektor Potensial melalui pendekatan Kewilayahan

Pengembangan pendidikan vokasi juga berfokus pada perspektif pengembangan bidang sesuai potensi nasional maupun potensi kewilayahan. Selain juga fokus pada pemerataan secara nasional Ditjen Pendidikan Vokasi juga memiliki program-program untuk memprioritaskan Kawasan Ekonomi Khusus, Kawasan Industri, serta wilayah-wilayah yang diarahkan pemerintah perlu afirmasi prioritas pengembangan termasuk daerah 3T. 

Selain berfokus pada peningkatan kualitas SDM, Kemdikbudristek juga berkomitmen untuk  pemenuhan aspek fisik berupa peralatan maupun perlengkapan di satuan pendidikan yang relevan dengan kondisi masing-masing untuk mendukung pengembangan sektor prioritas yang potensial di wilayah tersebut, yang akan diafirmasi oleh satuan pendidikan vokasi untuk dikembangkan lebih jauh lagi dalam konteks pengembangan pendidikan vokasi. Hal ini sangat terdukung dengan hadirnya kebijakan pengurangan pajak bruto bagi mitra industri vokasi yakni kebijakan super tax deduction dari Kementerian Keuangan, dimana ini akan merangsang lebih banyak industri untuk bekerja sama dengan satuan pendidikan vokasi sehingga dari sini tercipta kemandirian dalam konteks tidak menunggu bantuan pemerintah dalam memenuhi aspek fisik kebutuhan satuan pendidikan dalam menunjang pengembangan sektor prioritasnya. Lebih jauh Ditjen Pendidikan Vokasi juga memproyeksikan satuan pendidikan vokasi untuk mampu memberikan inspirasi bagi satuan pendidikan lainnya artinya menjadi rujukan dan memberikan pengimbasan positif bagi satuan pendidikan di sekitarnya agar tercipta kekuatan lokal yang mampu berkontribusi bagi pengembangan wilayah.


Minat masyarakat terhadap pendidikan vokasi

Perlu diketahui juga bahwa di tahun 2021 telah terselenggara riset yang dilakukan oleh MarkPlus Inc bekerja sama dengan Kemdikbudristek mengenai survei ketertarikan masyarakat terhadap pendidikan vokasi di mana hasilnya terjadi peningkatan minat masyarakat terhadap pendidikan vokasi baik SMK maupun perguruan tinggi vokasi. Hasil survei menunjukkan, sebanyak 82,05 persen responden tertarik melanjutkan pendidikan ke SMK dan 78,6 persen responden tertarik melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi vokasi.  Faktor ketertarikan terbesar terhadap SMK dipengaruhi oleh prospek kerja yang dinilai bagus (57,8 persen) dan pilihan jurusan yang banyak (51,95 persen).  Faktor ketertarikan terbesar terhadap pendidikan tinggi vokasi dipengaruhi oleh prospek kerja yang bagus (68,7 persen), studi yang singkat (46,1 persen), dan dinilai dapat langsung bekerja setelah lulus (41,7 persen).

Maka hal ini patut menjadi perhatian karena ikhtiar dalam pengembangan vokasi perlahan mulai menunjukkan tren hasil yang positif baik dari hulu hingga ke hilir. Link and match dunia kerja dengan pendidikan vokasi yang istilahnya telah hadir sejak era 90an oleh Bapak Wardiman Djojonegoro (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) dan Bapak Abdul Latief (Menteri Tenaga Kerja) pada periode 1993-1998, saat ini dan seterusnya akan terus kita sempurnakan dan upayakan agar dapat menghasilkan peningkatan kualitas pendidikan vokasi. Sehingga dari pendidikan vokasi di Indonesia kita harapkan dapat memberikan hasil maksimal bagi pembangunan bangsa yakni menciptakan SDM unggul dengan semangat Indonesia tangguh Indonesia tumbuh, dan pendidikan vokasi hari ini terbukti dapat menjadi awal mula terciptanya generasi bangsa yang akan memimpin dunia di masa depan, karena vokasi kuat menguatkan Indonesia.

BERITA TERKAIT