16 August 2021, 06:45 WIB

Universitas Terbuka Jadi Rujukan PJJ di Masa Pandemi


MI |

PANDEMI covid-19 yang berlangsung lebih dari setahun telah berdampak pada hampir semua aspek kehidupan. Tidak terkecuali sektor pendidikan yang terpaksa harus mengubah sistem pembelajaran dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring.

Mengubah suatu sistem pembelajaran tentu bukanlah hal yang mudah. Apalagi dunia pendidikan di Indonesia sendiri belum siap, dan banyak institusi pendidikan yang mengalami kesulitan untuk beradapatasi. Hal ini bisa mengancam terjadinya learning loss dan bahkan generation loss bila PJJ tidak diterapkan dengan baik.

Meski begitu, selama masa pandemi, Universitas Terbuka (UT) berhasil menjadi institusi pendidikan tinggi rujukan dalam mengimplementasikan PJJ. Peran UT tersebut tidak terlepas dari pengalamannya yang telah lama mengembangkan pembelajaran daring di Indonesia.

“UT sudah menjalankan PJJ sebelumnya, karena itu kami memiliki kapasitas dan kemampuan yang kemudian di masa pandemi ini kami bisa membantu pemerintah, serta mendukung dunia pendidikan untuk menghindari learning loss,” ungkap Rektor UT Prof Ojat Darojat, dalam wawancaranya dengan Media Indonesia, Kamis (12/8) lalu.

Menurutnya, UT memiliki sekitar 1.350-an mata kuliah dalam bentuk digital. Saat ini, aset tersebut sudah diberikan akses secara terbuka kepada seluruh dosen dan mahasiswa di seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Sehingga dimana pun dan kapan pun bahan ajar pendidikan tinggi tersebut bisa diakses secara digital.

Dengan membuka akses, UT telah membantu perguruan tinggi lainnya untuk bisa melaksanakan PJJ secara lebih efektif. Sebagai institusi rujukan, UT juga telah menjalin kerja sama dengan banyak perguruan tinggi baik perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS).

Ojat mengungkapkan bahwa selama pandemi sekitar 400 memorandum of understanding (MoU) dan Perjanjian Kerjasama (PKS) sudah dibuat bersama dengan institusi lainnya. Dalam menyusun bahan ajar, UT juga melibatkan content expert dari perguruan tinggi lainnya, sehingga bahan ajar yang dihasilkan pun berkualitas.

Di samping itu, lanjut Ojat, UT juga menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan pelatihan bagi dosen dan tenaga pendidik. Mulai dari latihan cara mengembangkan modul, grand design online learning, serta perangkat-perangkat lainnya.

“Nah kami memberikan bantuan seperti itu karena UT memiliki keahlian di sini. Kami juga tidak mengedepankan keuntungan, tetapi lebih pada pengabdian dilakukan untuk masyarakat luas,” imbuhnya.
Kemampuan, kapasitas dan pengalaman dalam PJJ membuat UT tergabung dalam konsorsium  Indonesia Cyber Education (ICE) Institute. 
Bahkan Rektor UT dipercaya sebagai ketua konsorsium oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

ICE Institute tersebut nantinya akan menjadi semacam marketplace/lokapasar dari Kemendikbudristek, yakni perguruan tinggi yang ingin menawarkan secara materi pembelajaran secara online dapat ditempakan pada  ICE Institute.


45 negara

Meski demikian, lanjut Ojat, dalam penerapan PJJ saat ini masih ada kendala. Salah satu dan menjadi tantangan utama adalah akses jaringan internet.

Sejauh ini pemerintah memang terus mengakselerasi akses internet hingga ke pelosok negeri. “Diharapkan dengan makin meluasnya akses jaringan internet, kehadiran UT di tengah masyarakat bisa lebih terasa dan diminati,” pungkas Ojat.

Apalagi, lanjut Ojat, sebagai pelopor PJJ di Indonesia, UT juga terus berkembang dan kiprahnya dalam membangun bangsa melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di seluruh pelosok negeri, termasuk warga negara Indonesia (WNI) yang berada di luar negeri.

“Saat ini UT melayani mahasiswa di 45 negara. Namun berdasarkan data Ujian Akhir Semester (UAS) yang dilakukan pada pertengahan Desember 2020, UAS diikuti mahasiswa dari 91 negara. Ini menunjukkan daya jangkau UT yang lebih luas lagi tanpa batas ruang dan waktu,” pungkas Ojat.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim turut mengapresiasi peran serta UT yang menjadi institusi pendidikan tinggi rujukan dalam mengimplementasikan PJJ. Berbekal pengalaman, diakui Nadiem, UT telah memberikan akses pendidikan tinggi dari kota hingga pelosok di Tanah Air guna peningkatan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi.

“UT sebagai perguruan tinggi negeri (PTN) yang menyelenggarakan PJJ bisa menjadi contoh dan sinergi bagi perguruan tinggi tradisional lainnya untuk mengakselerasi penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran,” kata Nadiem, beberapa waktu lalu.

Mantan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof M Nasir pun mengapresiasi langkah maju UT dalam bidang pembelajaran daring. Di saat semua perguruan tinggi mengalami kesulitan dalam mengubah sistem pembelajaran daring, UT hadir sebagai leader.

“Mau tidak mau sekarang kampus lain belajar ke UT, di sana ada sistemnya. UI, ITB, IPB kan punya konten tapi sistem pembelajaran kan gak punya, akhirnya belajar ke UT, kolaborasi sekarang,” ujarnya.

Dia membeberkan reformasi yang dilakulan UT untuk menjadi rujukan PJJ sudah dimulai sejak 2016. Saat itu, dirinya selaku menteri mendorong UT untuk mengembangkan learning management system (LMS) agar mampu meningkatkan APK pendidikan tinggi.

Bukan hanya UT, perguruan tinggi lain juga diarahkan untuk mengembangkan sistem online. Namun, diakuinya tidak ada yang benar-benar respons, hanya beberapa kampus termasuk UT yang serius melihat potensi tersebut.

Menurut Nasir, sistem digital di sejumlah kampus memang sudah ada tapi tidak terorganisasi dengan baik. Dengan LMS, maka sistem itu masuk cloud yang bisa mencakup semuanya.

Sistem itu mengintegrasikan mulai dari mahasiswa, proses pembalajaran, sistem evalusasi sampai capaian pembelajaran. Semuanya terangkum dalam satu model. 

Dia berharap di tengah pandemi ini semua perguruan tinggi mulai segera mereformasi sistem pendidikan. Tidak sekadar aturan, tapi juga harus didorong implementasinya.

“Untuk mengurangi dampak learning loss, maka perubahan itu harus dimulai dari mindset. Online learning tidak sama dengan tatap muka, sehingga semua perangkat pembelajaran hingga pada evaluasi dan penilaian harus disesuaikan,” tutup Nasir yang juga dikenal sebagai tokoh PJJ tersebut. (Van/S3-25)
 

BERITA TERKAIT