14 August 2021, 16:28 WIB

Sutradara Hanung Sebut Industri Film Bisa Berkontribusi Bagi Ketahanan Nasional


Tri Subarkah | Humaniora

SUTRADARA film Hanung Bramantyo menyebut industri film bisa berkontribusi bagi ketahanan nasional. Sebab, jumlah penonton film Indonesia di dalam negeri dapat mengalahkan penonton film blockbuster Hollywood.

Film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, misalnya, mampu menembus angka 10 juta penonton di dalam negeri. Sementara jumlah penonton Indonesia untuk film Amerika Serikat, Fast & Furious 7, hanya tujuh juta penonton.

"Itu pun gara-gara pemain utamanya (Paul Walker) meninggal, jadi viral, pengen nonton untuk terakhir kalinya," kata Hanung dalm diskusi daring bertajuk Pengayaan Konten Buku Indonesia Menuju 2045, Sabtu (14/8).

Menurut Hanung, satu produser film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! bisa mengantongi keuntungan antara Rp200-Rp250 miliar.

Sementara itu, ia mengklaim film biopik Presiden RI ketiga BJ Habibie yang digarapnya mampu menggaet 4,6 juta penonton. Menurut Hanung, angka penonton film di Indonesia jauh lebih tinggi ketimbang Jerman.

"Jadi untuk membuat film di Indonesia, satu saja, itu kita sudah punya ketahanan ekonomi, ketahanan nasional, karena kita membuat film tidak perlu harus penontonnya orang luar negeri, tapi penonton kita juga bisa," terangnya.

Adapun industri film Indonesia juga berdampak pada industri lain. Penonton film Habibie & Ainun atau film Bumi Manusia--yang turut digarap Hanung--ikut mendongkrak penjualan novel-novel terkait Habibie maupun novel karya Pramoedya Ananta Toer.

"Artinya dari sisi seni budaya pun, dari satu sektor saja, kita sebetulnya bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan Indonesia," tandas Hanung.

Dalam kesempatan yang sama, pemeran film dan teater Sha Inne Febriyanti menyebut banyak hal yang bisa dipelajari dari film. Misalnya, lanjut Sha Inne, elemen antropologi, psikologi, maupun sosiologi dari para karakter yang didapat tanpa rasa menggurui. Ia berpendapat film mampu mengampanyekan segala sesuatu dengan efektif.

Di sisi lain, Sha Inne menilai Indonesia bisa belajar banyak dari industri film di Korea Selatan. Ia mengatakan ekosistem industri di negara gingseng itu telah berjalan dengan baik dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan. Hal itu terejawantah dari penyelenggaraan Festival Film Busan yang menjadi salah satu barometer festival film dunia.

"Segala ekosistem yang mendukung seni sangat luar biasa. Stakeholder, pengusaha, seniman, dan pemerintah, mereka punya porsi yang sama untuk membuat Festival Film Busan menjadi barometer dunia," pungkasnya.

Hanung dan Sha Inne menjadi dua penanggap untuk tiga buku yang digagas Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) berjudul Indonesia Maju 2045 dari sisi seniman. Ketiga buku itu ditulis oleh Lemhanas, Centre for Strategic and International Studies (CSIS), dan Harian Kompas.

Menurut Gubernur Lemhanas, Letnan Jenderal TNI (Purn) Agus Widjojo, ketiga buku tersebut berusaha memotret perkembangan bangsa sekaligus menyongsong 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Ia berharap buku-buku itu bukan hanya menjadi dokumentasi.

"Melainkan diharapkan memberi kontribusi untuk memantik gerakan berbagai kelompok masyarakat untuk berbuat sesuatu yang terukur pencapaiannya. Sebagai inisiatif maupun partisipasi bersama pemerintah membangun Indonesia menjadi negara maju, makmur, dan sejahtera bagi semua warganya," terang Agus. (Tri/OL-09)

BERITA TERKAIT