12 August 2021, 19:36 WIB

Kemendikbudristek Akui Model Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi Belum Ideal


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

DIREKTUR Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikkan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Jumeri menilai model pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi covid-19 yaitu daring dan luring kedua-duanya tidak ideal.

"Pelaksanaannya tidak seperti yang kita harapkan yang luring atau tatap muka tentu akan banyak mengalami kesulitan. Siswa kita yang di daerah-daerah kesulitan karena keterbatasan untuk bisa hadir di sekolah, keterbatasan guru-guru kita untuk menyambangi anak-anak di rumah kemudian bahan-bahan pembelajaran juga terbatas," kata Jumeri dalam webinar Pembelajaran Optimal dengan Tatap Muka Terbatas yang Aman dan Nyaman di Wilayah PPKM Level 1-3, Kamis (12/8).

Sementara pembelajaran model daring yang umumnya ada di perkotaan dan daerah-daerah yang maju tetapi juga masih banyak kendala diantaranya tidak semua siswa atau orangtua memiliki perangkat pembelajaran, tidak semuanya punya pulsa data, dan tidak semua daerah akses internet.

Baca juga : September, Kemendikbudristek Akan Salurkan Bantuan Kuota Internet bagi Pelajar

Kemudian ada keterbatasan dari guru juga secara bertahap melakukan pencerahan kepada guru untuk bisa melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan dari maupun tetapi tentu guru jumlahnya jutaan sehingga belum seluruhnya bisa melaksanakan pembelajaran dengan baik.

"Kemudian pada sisi lain materi belajar yang biasanya diberikan dalam suasana normal atau tatap muka ketika diberikan secara daring dan luring dari jarak jauh tentu ada keterbatasan ini butuh kerja keras dari guru kita untuk bisa menyederhanakan materi belajar," jelasnya.

Learning loss yang terjadi bisa berdampak pada nilai literasi dan sebagainya tentu akan berdampak. Di samping itu juga kecakapan hidup anak berkurang sehingga dibutuhkan praktik yang intensif dari para siswa. (OL-7)

BERITA TERKAIT