10 August 2021, 16:20 WIB

Desa Damai Rancang Rencana Aksi Cegah Kekerasan dan Konflik


Mediaindonesia.com | Humaniora

SAMPAI Saat ini, sebanyak 14 Desa/Kelurahan Damai telah melakukan deklarasi dari total 30 Desa/Kelurahan Damai yang didampingi oleh Wahid Foundation sejak 2017. Pada kurun waktu 2020-2021, Desa/Kelurahan Damai merancang Rencana Aksi Desa/Kelurahan Damai untuk membangun mekanisme pencegahan kekerasan dan konflik dengan pendekatan keamanan insani dan responsif gender. 

Itu disampaikan Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, dalam sambutannya pada Webinar melalui Forum Nusantara (Gerakan Nasional untuk Indonesia Damai, Adil, dan Setara) yang digelar Wahid Foundation bekerja sama dengan UN Women, Selasa (10/8). "Desa Damai tidak hanya membangun interaksi secara positif dengan mereka yang memiliki nilai-nilai berbeda. Perempuan sebagai agen perdamaian juga dipastikan terlindungi dari ancaman kekerasan melalui mekanisme yang dibentuk oleh komunitas." 

Webinar Forum Nusantara bertujuan memperluas diseminasi praktik baik aksi desa/kelurahan damai dalam mengembangkan mekanisme pencegahan kekerasan berbasis gender dan ekstremisme kekerasan berbasis komunitas. Selain itu, kegiatan tersebut ingin memperkuat sinergi antarlembaga organisasi masyarakat sipil dan pemerintah. 

Lebih lanjut, Yenny menyampaikan bahwa forum Nusantara memang diinisiasi agar menjadi sarana untuk berbagi cerita di Desa Damai tentang praktik baik yang terjadi. "Kami membekali desa/kelurahan dengan serial panduan Aksi Desa/Kelurahan Damai. Di samping itu, kami juga menyediakan layanan digital berbasis teknologi atau e-learning bagi yang mau belajar dan berlatih cara membangun desa/kelurahan damai. Silahkan diakses di peacevillage.id," terang Yenny. 

UN Women Representative and Liaison to ASEAN, Jamshed Kazi, mengimbuhkan dengan memajukan kepemimpinan perempuan, pemberdayaan ekonomi perempuan, serta melindungi perempuan dan anak perempuan dari kekerasan berbasis gender, inisiatif Desa Damai telah membentuk mekanisme inovatif untuk mencegah ekstremisme berbasis kekerasan di tingkat akar rumput. Bekerja sama dengan Wahid Foundation, UN Women akan terus mendukung komunitas untuk memberdayakan perempuan sebagai agen perdamaian.

Yenny Wahid dalam acara ini sekaligus meluncurkan e-learning dan serial Buku Panduan Aksi Desa/Kelurahan Damai dengan ditandai pukulan kentongan virtual. Selain itu, acara ini juga dimeriahkan dengan Talkshow Merawat Damai, Membangun Kesejahteraan, dan Mencegah Kekerasan: Belajar Bersama Desa/Kelurahan Damai.  

Dalam kesempatan itu, hadir Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati yang memberikan apresiasi dan dukungan atas program Desa/Kelurahan Damai yang diinisiasi oleh Wahid Foundation. Selain itu, program ini sangat sesuai dengan Rencana Aksi Nasional Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial. 

I Gusti Bintang Darmawati yang bertindak sebagai keynote speaker menyoroti masih tingginya kekerasan yang dialami oleh wanita. Selain itu, hingga kini masih banyak ketimpangan gender sehingga menimbulkan diskriminasi sampai kekerasan gender. Bahkan dalam data yang diterima pada 2016, 1 dari 3 perempuan usia 16 sampai 54 tahun pernah mengalami kekerasan. "Semoga dengan forum seperti ini kita bisa mempromosikan nilai-nilai perdamaian dan keadilan dalam masyarakat," katanya. 

Ada pula Direktur Kerja Sama Regional dan Multilateral Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Andhika Chrisnayudhanto yang hadir dalam kesempatan tersebut. Ia mengatakan bahwa Program Desa merupakan role model terbaik implementasi Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE) di tingkat akar rumput. Bahkan, menurutnya, bagusnya program ini bisa merangkul banyak pihak dan bisa bersinergi dengan berbagai aktor mulai dari pemerintah desa, kelompok perempuan, tokoh masyarakat, dan aparat desa. 

"Yang diinisiasi Wahid Foundation sudah sesuai dengan tiga pilar RAN PE, yaitu pilar pencegahan, pilar penegakan hukum, dan pilar kemitraan serta kerja sama internasional. Kemudian program ini patut menjadi contoh bagi kita bagaimana RAN PE bisa diterima oleh semua masyarakat bahkan bisa bersinergi dengan melibatkan banyak pihak di tingkat lokal. Harapannya yang dilakukan oleh WF ini bisa juga diterapkan di daerah lain," terangnya. 

Kegiatan itu turut dihadiri Perwakilan UN Women Jamshed M. Kazi, Komisioner Komnas Perempuan Siti Aminah Tardi, dan Direktur Eksekutif Wahid Foundation Mujtaba Hamdi. Kegiatan ini dihadiri 250 peserta yang terdiri dari kementerian atau lembaga pemerintahan, pemerintah daerah di Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, organisasi dan pemerintah kabupaten/kota (Kota Batu, Kabupaten Malang, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kota Solo, Kota Depok, dan Kabupaten Bogor). Jaringan organisasi masyarakat sipil di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat, perwakilan dari 16 Desa/Kelurahan Damai dan mitra internasional. 

Baca juga: The Indonesian Dream, Ikhtiar Mengenang Perjuangan dan Warisan Pendiri Bangsa

Selama acara berlangsung, tersedia pameran virtual Desa Damai yang bisa diakses virtualtour.peacevillage.id. Pengunjung akan disajikan berbagai informasi tentang sejarah Desa Damai, sebaran wilayah Desa Damai, dan kunjungan 16 Desa/Kelurahan Damai lengkap dengan berbagai informasi menarik terkait aktivitas aksi Desa Damai. Acara ini terselenggara atas dukungan terhadap inisiatif Desa Damai dari Pemerintah Australia, Pemerintah Jepang, dan United Nations Human Security Trust Fund (UNHSTF) and Access to Justice Fund. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT