10 August 2021, 13:09 WIB

Kondisi Sindrom 'Burnout' Akibat Pandemi Bisa Turunkan Produktivitas


Faustinus Nua | Humaniora

SITUASI pandemi yang tidak menentu kerap membuat seseorang rentan mengalami kondisi 'burnout'. Jika tidak dicegah, masalah psikologis ini dapat mengganggu kualitas hidup hingga menurunkan produktivitas bekerja.

"Kalau kelelahan secara fisik saja dengan istirahat bisa selesai. Kalau kelelahan emosional, dengan istirahat saja belum tentu selesai. Maka harus ada intervensinya," ungkap Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran (Unpad) Iceu Amira DA, S.Sos., S.Kep., Ners., M.Kes dalam keterangan resmi, Selasa (10/8).

Dijelaskannya, burnout merupakan sindrom psikologis yang disebabkan adanya rasa kelelahan yang luar biasa, baik secara fisik, mental, maupun emosional. Dampaknya, seseorang dapat kehilangan minat dan motivasi.

Burnout dapat  mengurangi produktivitas dan menguras energi. Sehingga membuat seseorang merasa tidak berdaya, putus asa, lemah, dan cepat marah.

"Jika mengalami dalam waktu yang lama, akan berdampak pada kehidupan sosial terutama pekerjaannya," kata Iceu.

Untuk mencegahnya, Iceu menekankan pentingnya menjaga keseimbangan hidup. Butuh pengelolaan waktu yang baik kapan harus bekerja dan mengerjakan hal lainnya. Selain itu, kemampuan mengelola stres pun menjadi penting.

"Juga mengubah gaya hidup, atur olah raga, atur pola makan akan, mengelola stres kita. Dengan demikian kita bisa mengurangi terjadinya ‘burnout’. Karena jika terjadi  secara berlebihan, mengembalikan ke awal itu sulit," tandasnya.(Van/OL-09)

BERITA TERKAIT