04 August 2021, 15:35 WIB

Peran Petani Lokal dalam Kelezatan Makanan di Restoran


mediaindonesia.com | Humaniora

BANYAK restoran yang kini lebih selektif dalam menyajikan menu makanan untuk pelanggannya. Di mana, makanan sehat dan segar menjadi pilihan utama sejak pandemi Covid-19.

Untuk mendapatkan makanan sehat dan segar tersebut, restoran harus memperhatikan bahan-bahan yang digunakan. Sehingga banyak restoran kini bekerja sama dengan petani-petani lokal sebagai pemasok bahan pangan segar.

Parishatl misalnya, restoran terbaik di Atlanta ini bekerja sama dengan pertanian lokal untuk mendapatkan bahan makanan yang masih fresh. Hal ini dilakukan Parishatl agar setiap menu makanannya di The Brasserie tetap lezat dan sehat.

Dengan kerja sama tersebut, Parishatl kemudian dikenal sebagai restoran terbaik di Atlanta yang menawarkan berbagai macam masakan musiman dengan menu yang berbeda. Selain itu, menggunakan hasil panen dari petani lokal membuat harga jual menu restoran ini terjangkau. Sebab, tidak ada biaya tambahan untuk dapat memasok bahan-bahan dari luar kota.

Restoran lain yang memanfaatkan hasil bumi lokal adalah Fleet di Brunswick Heads, Australia.  Restoran kecil dan bar minuman anggur ini memiliki menu makanan kecil yang selalu berubah-ubah.

Menu makanan tersebut berubah berdasarkan bahan apa yang sedang musimnya. Restoran terbaik ini terinspirasi gaya latin yang menyajikan Oaxaca sederhana.

Sementara di Indonesia, restoran yang bekerja sama dengan petani lokal adalah The Bale Restaurant. Restoran ini berlokasi di Jalan Maribaya Timur Nomor 1 Desa Cibodas, Lembang.

The Bale Restaurant menggandeng petani untuk menyuguhkan konsep unik. Restoran ini mengajak pengunjung memilih tanaman organik dari kebun Mullbery petani, kemudian dimasak dengan bimbingan chef profesional.

Mengenal Farm to Table sebagai Konsep yang Diadopsi Restoran Terbaik
Farm to Table merupakan cara menyajikan makanan sehat, alami, dan segar langsung dari kebun atau petani lokal yang berada di sekitar restoran. Di mana biasanya konsep ini memungkinkan pelanggannya dapat memilih dan memetik bahan pangan langsung dari kebun untuk menu makanannya.

Namun, ada pandangan berbeda dari FAO, di mana Farm to Table dimaknai sebagai sistem rantai pasokan bahan pangan yang sudah terverifikasi kualitas, kandungan, kesegaran, dan asalnya.

Awalnya, konsep ini muncul sebagai 'counterculture’ dari tren makanan instan dan kemasan. Lalu, pada 1970-an Farm to Table  berkembang menjadi sebuah konsep yang diadopsi oleh banyak usaha restoran, termasuk restoran terbaik di Atlanta, Parishatl.

Dewasa ini, konsep Farm to Table  semakin berkembang. Sehingga tak hanya restoran, berbagai jenis usaha penyediaan bahan pangan juga turut menerapkan konsep ini.

Melalui kemajuan teknologi, konsumen dapat memesan langsung kebutuhannya ke petani untuk ditanamkan bahan makanan. Kemudian hasil panen akan diantarkan langsung ke rumah pelanggan.

Secara tidak langsung, teknologi digital telah menjadi driver and trigger terhadap perkembangan konsep Farm to Table dengan banyak metode dan digunakan oleh banyak usaha penyedia makanan. (RO/OL-10)

BERITA TERKAIT