03 August 2021, 14:36 WIB

Kejar Target Izin Penggunaan Darurat untuk Vaksin Merah Putih


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio, optimis Vaksin Merah Putih akan mendapatkan Persetujuan Penggunaan Dalam Kondisi Darurat atau emergency use authorization (EUA).

"Diupayakan terus dan Inshaallah tahun depan bisa memperoleh emergency use authorization tersebut," kata Amin kepada Media Indonesia, Selasa (2/8).

Saat ini, vaksin Merah Putih dikejar target mengingat angka positif covid di Tanah Air terus meningkat per 2 Agustus 2021 mencapai 22.404 kasus, meninggal dunia mencapai 97.291 jiwa dengan kasus per hari 1.568 kematian, dan 32.807 pasien sembuh.

Baca jugaRencananya Siswa SMK Dilibatkan Dalam Produksi Laptop Chromebook

Vaksin Merah Putih sendiri masih menjalani proses transisi dari labotarium ke industri. Selain itu diupayakan proses optimasi, yield atau bibit vaksin menjadi banyak untuk proses industri bisa berjalan efisien.

"Saat ini masih dalam proses transisi dari laboratorium ke industri, di mana Lembaga Eijkman bersama BioFarma melakukan upaya scaling-up dan peningkatan yield, agar proses produksi bisa lebih efisien," jelasnya.

Setelah melakukan upaya scaling-up dan peningkatan yield dan menunjukkan hasil bagus maka dilanjutkan ke proses uji pra klinik dan uji klinik.

Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko menegaskan seluruh 7 tim pengembangan masih bekerja keras untuk menyelesaikan vaksin Merah Putih. Tahun depan juga sudah masuk uji klinisi.

"Seluruh 7 Tim pengembang masih bekerja keras untuk menyelesaikan. Target kami tahun depan sudah masuk uji pra klinis dan klinis," ungkapnya.

Tujuh Tim yang dimaksud yakni LBM Eijkman, Universitas Airlangga (Unair), LIPI, Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Padjadjaran (Unpad).

Pada uji pra kilinis disiapkan primata kera untuk disuntikkan vaksin Merah Putih.

"Itu prosedurnya di uji pra klinis. Sebelumnya ke mencit (tikus putih) dulu, kemudian ke primata kera," pungkasnya.(H-3)

BERITA TERKAIT