02 August 2021, 08:05 WIB

Kebakaran Hutan dan Lahan, Titik Api Terbanyak di Kalimantan Barat


Zubaedah Hanum | Humaniora

BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), seiring dengan bertambahnya titik api.

"Dengan makin berkurangnya hujan di wilayah Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara maka peluang terjadinya karhutla juga makin meningkat," kata prakirawan BMKG Adinda Dara Vahada, dikutip dari kanal Youtube BMKG.

Berdasarkan sebaran titik panas pada 28 Juli 2021, imbuhnya, BMKG telah mencatat ada 3 titik panas di Riau dan Sumatra Selatan (Sumatra) dan 16 titik panas di Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara (Kalimantan).

Dari pantauan satelit diketahui bahwa sepanjang 10 hari terakhir, identifikasi jumlah hot spot terbanyak di sumatra terdapat di Riau sebanyak 39 titik. Sedangkan di Kalimantan ada di Kalbar sebanyak 72 titik.

Dalam sepekan ke depan, katanya, BMKG mengingatkan untuk mewaspadai karhutla di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Untuk Sumatra, wilayah rawan karhutla ialah Aceh, Sumut, Riau, Jambi, Sumsel, Babel dan Lampung. Sedangkan Kalimantan terdiri dari Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim.

Adinda menjelaskan, hasil Analisis Perkembangan Musim Kemarau 2021 BMKG sebelumnya menunjukkan bahwa saat ini 72% wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Hal ini terjadi di  sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara yang telah mengalami kemarau.

Sedangkan 28% wilayah lainnya mengalami musim hujan, yakni sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Prediksi karhutla BMKG juga mengambil data dari Peta Monitoring Musim Hujan yang menunjukkan bahwa Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara rata rata memiliki hari tanpa hujan (HTH) dengan kategori pendek hingga panjang atau umumnya tidak hujan dalam 30 hari terakhir. Sedangkan Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Papua umumnya memiliki HTH antara 1-5 hari.

"Kondisi cuaca panas dan kering akan meningkatkan potensi karhutla," imbuhnya.

BMKG mencatat karhutla terjadi tiap tahun di musim kemarau, khuusnya di daerah dengan banyak lahan gambut seperti di Sumatra dan Kalimantan. Salah satu dampak negatif karhutla yang mengganggu ialah munculnya asap yang menyebabkan kualitas udara menjadi buruk dan terganggunya transportasi udara.

Untuk pencegahan, ujar Adinda, sistem alert karhutla BMKG memiliki Spartan, sistem yang bisa memprediksi kemudahan terjadinya karhutla berdasarkan parameter cuaca. (H-2)

 

BERITA TERKAIT