01 August 2021, 11:37 WIB

Membangun Jaringan Internet demi Pemerataan Informasi


mediaindonesia.com | Humaniora

TIM Ekspedisi Bakti untuk Negeri kali ini menyamba­ngi Sulawesi Tengah. Di sini tim melihat progres pembangunan base transceiver station (BTS) di beberapa spot yang tertinggal dan terpencil di Kabupaten Sigi.

Pembangunan tower BTS di wilayah ini menjadi harapan bagi pemerataan akses informasi sehingga dapat melahirkan kesempatan yang sama bagi warga desa dan generasi muda untuk bersaing dalam kemajuan ekonomi, digitalisasi, dan pendidikan.

Kasi Infrastruktur dan Tek­nologi Kominfo Kabupaten Sigi Aldisyar menjelaskan beberapa wilayah di kabupaten ini, khususnya daerah pedalaman, jaringan telekomunikasi dan internetnya belum bisa dijangkau alias blank spot. Kondisi ini antara lain menyulitkan pelayanan masyarakat hingga jalannya pendidikan di masa pandemi.

Untuk itu, sejak 2019, Bakti Kominfo mencanangkan program universal service obligation. “Pada 2021 ini kami kembali mendapat bantuan sebanyak 48 site BTS yang akan dibangun di 48 desa yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi,” kata Aldisyar dalam program Ekspedisi Bakti untuk Negeri yang tayang di Metro TV, tadi malam.

Ketika pembangunan pro­yek ini bisa dilakukan, lanjutnya, kesulitan-kesulitan yang selama ini dialami karena ketiadaan internet, khususnya di masa pandemi, bisa teratasi. Untuk membangun BTS ini, Kominfo juga menggandeng pemerintah daerah (pemda) dalam penyediaan lahan. “Ketika lahan tersedia, BTS sudah dibangun, itu bisa menarik operator seluler untuk masuk melayani telekomunikasi di wilayah-wilayah yang belum terjangkau tadi,” tuturnya.

Tim ekspedisi pun menin­jau pembangunan salah satu BTS di Desa Matantimali, Kecamat­an Marowali Barat, Kabupaten Sigi. Pembangunan BTS di desa yang berada 1.200 mdpl ini sudah mencapai 90%.

Akses menuju Desa Matantimali cukup menantang dengan jalanan berliku dan berbatu, serta belum sepenuhnya diaspal. Memerlukan waktu dua jam perjalanan dari Kota Palu untuk sampai di desa tersebut.

Kepala Desa Matantimali Marudi menyampaikan kesulitan yang dialami masyarakat dan perangkat desa karena tidak adanya jaringan internet. Kondisi ini membuat sulitnya penyampaian informasi dari camat. Untuk berkomunikasi dengan warga, perangkat desa harus bertemu secara fisik.

Tim ekspedisi merasakan langsung bahwa di desa ini sinyal internet sama sekali tidak ada. Padahal, jaringan komunikasi jadi kebutuhan dasar, terutama di masa pandemi. Salah satunya untuk kegiatan belajar mengajar.

Walaupun kegiatan sekolah tatap muka dilarang, ketiadaan jaringan internet memaksa anak-anak dan guru memindahkan kegiatan mereka di rumah. Salah seorang guru SD di Matantimali, Maria, menuturkan seminggu sekali pembelajaran diadakan di sekolah, sisanya guru akan mendatangi rumah murid yang proses belajarnya dilakukan secara kelompok. “(Kalau sudah ada internet) bisa belajar melalui online, bisa cari-cari di Youtube, untuk pelajaran anak-anak. Di sini belum ada jaringan (internet). Kalau cari sinyal (telpon) jauh dari sini,” tutur Maria.

Proses pembangunan tower BTS dilakukan di lereng bukit Pegunungan Gawalise. Inilah titik lokasi BTS untuk penguatan sinyal di Desa Matantimali. Tower setinggi 32 meter ini nantinya menjadi harapan warga sekitar untuk mendapatkan sinyal internet yang lebih stabil.

Tower pertama

Project Manager FiberHome, rekanan Bakti Kominfo dalam program pembangunan BTS, Satrio Parakoso, menyebut ini merupakan tower pertama di Kabupaten Sigi. Dia pun menjelaskan proses penentuan titik pembanguan suatu tower BTS.

“Kominfo daerah memberikan nominal-nominal desa yang ditargetkan dibangun BTS. Lalu tim planning kami melakukan studi, ada tim yang datang untuk survei. Dari letak lahannya apakah sesuai, kita cari aktualnya lalu kita report, baru tim masuk (untuk membangun),” paparnya.

Tak hanya terkenal dari hasil tani jagung dan cokelat, Desa Matantimali juga dikenal dengan bentang alamnya yang cantik. Karena itu, daerah ini menjadi salah satu lokasi wisata paralayang yang telah mendunia dan dijadikan tempat latihan atlet Provinsi Sulawesi Tengah.

Menurut pegiat paralayang Matantimali, Asgaf Umar, komunitasnya sangat membutuhkan jaringan internet. “Kami butuh untuk informasi cuaca, kemudian reservasi tamu yang mau datang untuk tandem atau terbang solo,” kata Umar.

“Tentunya kami berharap kepada pemerintah agar internet desa yang digadang-gadang itu seharusnya sudah sampai desa dan harus mengakses seluruh kepentingan masyarakat, termasuk kami yang bekerja di komunitas paralayang ini,” pungkasnya. (Ifa/S3-25)

BERITA TERKAIT