01 August 2021, 10:50 WIB

LIPI: Katak Pucat-Pantaiselatan Dinyatakan Sebagai Spesies Baru


Faustinus Nua | Humaniora

LEMBAGA Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengonfirmasi bahwa katak pucat-pantaiselatan atau Chirixalus pantaiselatan sp. nov. merupakan spesies baru dari marga Chirixalus Boulenger.

Katak yang ditemukan pada 2017 di hutan dataran rendah wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat itu menambah koleksi data keanakeragaman hayati Indonesia.

Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI Amir Hamidy mengatakan Chirixalus pantaiselatan sp. nov. merupakan kelompok katak Rhacophorid kecil dengan panjang tubuh jantan 25,3–28,9 mm.

Baca juga: Alami Situasi Ini? Saatnya Gunakan Telemed SehatQ

Setelah dilakukan analisa morfologi, molekuler dengan menggunakan DNA mitokondria, dan suara kawin (advertisement call), jenis tersebut tidak cocok dengan jenis dari marga yang sudah ada. Oleh karena itu, didukung bukti morfologi, molekuler, dan akustik, jenis itu dideskripsikan sebagai spesies baru.

Hal itu berdasarkan hasil penelitian yang telah diterbitkan di Raffles Bulletin of Zoology, 5 Juli 2021 lalu. Temuan ini dapat memberikan informasi baru tentang distribusi beberapa spesies atau bahkan jenis baru di area umum

Amir Hamidy, yang turut sebagai salah satu penulis dalam penelitian itu, menyatakan Chirixalus pantaiselatan sp. nov. secara morfologi paling mirip dengan Chirixalus nongkhorensis dari Chonburi, Thailand.

"Pola warna punggungnya serta secara genetik paling dekat dengan Chirixalus trilaksonoi yang juga berasal dari Jawa Barat," ujarnya dalam keterangan resmi LIPI, Minggu (1/8).

Dia menyoroti pentingnya partisipasi publik dan keterlibatan ilmiah profesional dalam pemantauan keanekaragaman hayati.

"Pengetahuan dan keterlibatan masyarakat dapat memberikan data empiris tentang skala spasial yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata dia.

Kurangnya informasi keanekaragaman hayati (misalnya, distribusi, populasi, dan informasi habitat dari spesies) adalah masalah serius dalam program konservasi keanekaragaman hayati di negara berkembang seperti Indonesia.

Partisipasi publik yang dikelola dengan baik akan dapat membantu menyelesaikan masalah ini di masa depan.

Sementara itu, Misbahul Munir, yang merupakan salah satu kontributor utama dari penemuan ini, juga mengatakan, saat ini, status konservasi Chirixalus pantaiselatan kemungkinan terancam kritis.

"Berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) kriteria Daftar Merah Spesies Terancam tingkat kemunculannya <100 km2, luas huniannya <10 km2, dan hanya ditemukan di satu lokasi, yang kualitas habitatnya menurun," imbuh Misbahul.

Terkait usulan status Daftar Merah IUCN untuk jenis baru ini didasarkan pada data yang terbatas dan membutuhkan survei intensif untuk justifikasi yang lebih kuat.

Dalam publikasi jenis baru Chirixalus pantaiselatan sp. nov. ini juga ditemukan jenis katak lain yang belum pernah dilaporkan dari Jawa, yakni Polypedates macrotis (Katak-panjat telinga-hitam).  

Sebelumnya, di Indonesia, jenis ini hanya tercatat di wilayah Kalimantan dan Sumatera, sehingga kehadirannya di Jawa merupakan catatan baru.

Adapun, sampel Katak-pucat pantaiselatan itu dijumpai 2017 dalam kegiatan citizen science ‘Gerakan Observasi Amfibi Reptil Kita (Go ARK)’. Gerakan tersebut diinisiasi oleh Penggalang Herpetologi Indonesia (PHI).

Tim Go ARK terdiri dari mahasiswa dan komunitas penelitian yang melakukan pengamatan, serta melaporkan amfibi dan reptil di sepanjang Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sulawesi.

Selama observasi di hutan dataran rendah bagian selatan Jawa Barat, melibatkan empat penulis sekaligus peserta Go ARK yaitu Umar Fhadli Kennedi, Mohammad Ali Ridha, Dzikri Ibnul Qayyim, dan Rizky Rafsanzani. Mereka menjumpai jenis rhacophorid yang menyerupai genus Chirixalus. (OL-1)

BERITA TERKAIT