31 July 2021, 11:05 WIB

Kenaikan Kasus Covid-19 Luar Jawa Disebabkan Tingginya Mobilitas Publik


Atalya Puspa | Humaniora

SATUAN Tugas Penanganan Covid-19 menyebut bahwa peningkatan kasus covid-19 di luar Jawa dan Bali diakibatkan oleh sejumlah hal, salah satunya yakni tingginya mobilitas masyarakat.

"Hal ini terjadi oleh berbagai faktor antara lain masyarakat abai menggunakan masker di ruang publik, banyaknya kerumunan di masyarakat baik karena aktivitas sosial dan ekonomi, pulangnya pekerja migran, lalu lintas orang dari daerah terjangkit baik transportasi udara, darat dan laut serta lemah nya kegiatan pelacakan kontak di desa dan kabupaten kota," kata Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Alexander Ginting saat dihubungi, Sabtu (31/7).

Alexander menyatakan, penyebaran covid-19 ke luar Jawa Bali sudah terlihat trennya sejak Juni lalu, di mana terjadi peningkatan kasus positif harian, positivity rate yang tinggi, diikuti dengan kenaikan bed occupancy rate dan kasus kematian.

Untuk menangani peningkatan kasus covid-19 di luar Jawa yang mulai masif, Alexander membeberkan terdapat sejumlah strategi yang dilancarkan oleh satgas. Pertama, memperkuat posko PPKM desa dan kelurahan yang dipimpin lurah atau kepala desa.

"Kedua, posko PPKM desa kelurahan bersama Baninsa, Baninkamtibmas mengawasi, mengendalikan dan membatasi mobilitas pergerakan warga di pedesaan kelurahan sesuai zonasinya," ucap dia.

Selanjutnya, memastikan karantina kontak erat dan isolasi mandiri atau isolasi terpusat bagi yang terkonfirmasi dan bergejala, serta memberikan pendampingan terhadap mereka yang melakukan isolasi mandiri dan RT/RW yang melakukan PPKM mikro.

Terakhir, yang terpeting ialah memastikan pelacakan kontak oleh satgas. Pelaksanaan 3T dipastikan Alexander harus bekerja secara maksmal didampingi Babinsa dan Babinkamtibmas berbasis aplikasi Silacak dan InaRisk.

"Sebenarnya kegiatan pelacakan kontak 3 T sudah dikerjakan oleh Satgas Covid 19 Nasional sejak November 2020 sampai dengan Maret 2021 di 10 Propinsi di Jawa, Bali, Sumatra, dan Sulawesi Selatan yang berjalan aman lancar dan sukses mencapai contact ratio 1:8. Kemudian program ini dikembalikan ke Kemenkes karena sesuai tupoksi untuk di lanjutkan sampai pandemi terkendali," ungkap Alexander.

Sebelumnya, Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan, pada minggu ini terdapat lima provinsi di luar Jawa-Bali yang mengalami angka kematian tertiggi. "Meskipun Jawa Tengah, Jawa Timur dan DKI Jakarta masih menjadi penyumbang tertinggi kenaikan kematian, namun perlu juga diwaspadai untuk Kalimantan Timur, Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan yang turut menjadi penyumbang tertinggi kenaikan kematian mingguan," kata Wiku.

Hal ini seharusnya menjadi alarm, bagi pemerintah daerah karena sebagian besar kabupaten/kota di provinsi tidak menjalankan PPKM Level 4. Untuk itu, ia mengimbau kepada pemerintah daerah untuk memantau ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing wilayah.

"Antisipasi kenaikan kasus dengan memastikan keterisian oksigen, obat, dan tenaga kesehatan yang bertugas. Ini dapat meningkatkan kecepatan dan ketepatan penanganan sehingga kematian dapat dihindari," tutur Wiku.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk memerhatikan kondisi tubuhnya apabila terindikasi memiliki gejala sedang hingga ke berat saat terinfeksi covid-19. "Masyarakat dengan gejala sedang ke berat, usia lanjut, dan komorbid yang tidak memiliki tempat isoman, jangan isoman sendiri. Manfaatkanlah tempat isolasi terpusat yang telah disediakan di wilayah anda," pungkas Wiku. (H-1)

BERITA TERKAIT