31 July 2021, 10:55 WIB

Hotspot Karhutla Tahun 2021 Menurun 32,14%


Atalya Puspa | Humaniora

DIREKTUR Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Laksmi Dhewanti mengunkapkan data pantauan titik panas sejak 1 Januari hingga 29 Juli 2021, terdapat dua wilayah yang titik panasnya telah berjumlah di atas 100. Dua wilayah tersebut yaitu Kalimantan Barat dengan total sebanyak 164 titik dan Riau yang telah menyentuh angka 170 titik.

Secara total, untuk 2021 jumlah hotspot pada wilayah rawan karhutla berjumlah 401 titik panas dan seluruh wilayah Indonesia terdapat 684 titik panas (data dari satelit Terra/Aqua NASA tahun 2021 s.d. 29 Juli 2021 pukul 07.00WIB). Apabila dibandingkan dengan total jumlah hotspot tahun lalau (2020) dengan periode yang sama, jumlah titik panas adalah sebanyak 1.008. "Berdasarkan perbandingan tersebut, terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 324 titik atau 32,14%," kata Laksmi dalam keterangan resmi, Sabtu (31/7).

Laksmi kemudian menyampaikan upaya pengendalian karhutla di tingkat tapak telah dilaksanakan bersama-sama berkolaborasi dengan berbagai pihak yang tergabung dalam patroli terpadu. Hasil rekapitulasi kegiatan pemadaman darat menunjukkan bahwa sebanyak total 1.320 kegiatan telah dilakukan di seluruh wilayah di Indonesia. Provinsi Kalimantan Barat dan Riau menjadi wilayah terbanyak dilakukan pemadaman dengan total masing-masing 361 dan 282 kegiatan.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya menekankan bahwa sebagai upaya pencegahan, dirinya meminta semua pihak untuk mengikuti pantauan titik panas yang muncul di wilayah rawan karhutla. Selain itu juga patroli Terpadu dengan melibatkan masyarakat juga perlu diperkuat sebagai suatu sistem pertahanan untuk mengendalikan karhutla sedini mungkin.

"Patroli Terpadu telah dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia, dan hingga kini telah tercipta sebanyak 185 posko desa dengan jangkauan hingga 555 desa di sekitar posko," ucap Siti.

Siti secara implisit meminta untuk terus dilakukan penguatan kapasitas pada kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA), yang kini juga telah ditambah dengan kelompok paralegal. Harapannya, selain mendukung upaya pencegahan karhutla di tingkat paling tapak, kelompok MPA-Paralegal ini dapat menciptakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat ekonomi, sehingga masyarakat tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar. Total jumlah MPA-Paralegal di seluruh Indonesia sebanyak 12 kelompok pada 2020 dan tengah diusulkan penambahannya di 2021 ini sebanyak 28 kelompok. Sehingga pada akhir tahun ini, diharapkan dapat terbentuk sebanyak 40 kelompok MPA-Paralegal.

Upaya lain untuk mencegah terjadinya karhutla adalah dengan memanfaatkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk menciptakan hujan buatan di wilayah rawan karhutla. Upaya TMC di Provinsi Riau, pada fase pertama 10 Mar – 5 Apr 2021, secara umum, meningkatkan curah hujan sekitar 33–64 % terhadap curah hujan alamnya. Penambahan curah hujan di lokasi penyemaian awan adalah sekitar 194.3 Juta m3. Sedangkan pada fase kedua, secara umum persentase penambahan curah hujan periode di Provinsi Riau pada bulan Juli 2021 adalah sebesar 2% terhadap curah hujan alamnya.

“TMC ini telah kita intensifkan beberapa tahun terakhir dan akhirnya menjadi sesuatu yang sangat berguna untuk kita,” ungkap Siti. Kemudian, terpisah dari semua hal disebutkan di atas, upaya lainnya adalah penegakan hukum, POLRI telah mengembangkan sistem terkait dengan pidana. KLHK juga memiliki pola penegakan hukum yaitu dengan memberikan peringatan kepada perusahaan pemilik kebun sawit dan sebagainya apabila muncul titik panas di lokasi usahanya.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan prediksi iklim dan cuaca tahun 2021 di Indonesia. Dwikorita dalam paparannya memberikan kesimpulan bahwa Indeks ENSO Juli 2021 menunjukkan kondisi netral dan diprakirakan netral hingga awal 2022.

Kemudian, pada sekitar Agustus hingga Oktober 2021, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia masuk dalam kategori rendah, sedangkan November hingga Januari 2022 masuk kategori Menengah-Tinggi. Oleh karena itu, pihaknya merekomendasikan untuk mewaspadai potensi karhutla kategori menengah hingga tinggi pada Agustus 2021 di wilayah pulau Sumatra bagian tengah dan sebagian NTB dan NTT.

"BMKG memprediksi puncak musim kemarau pada beberapa wilayah rawan karhutla antara lain Sumatra bagian selatan dan sebagian besar pulau Kalimantan berada pada Agustus dan September," kata dia. (H-1)

BERITA TERKAIT