29 July 2021, 15:27 WIB

BRIN Kembangkan Teknologi untuk Atasi Limbah Medis Covid-19


Faustinus Nua | Humaniora

PENAMBAHAN limbah medis yang merupakan kelompok limbah B3 terus meningkat di masa pandemi covid-19. Hal itu tidak diimbangi dengan kapasitas pengelolaan limbah medis, sehingga dikhawatirkan bisa menimbulkan masalah kesehatan dan lingkungan lainnya.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengungkapkan masalah tersebut menjadi perhatian bersama semua stakeholders. BRIN pun memberikan solusi dengan beberapa teknologi yang sudah proven karya anak bangsa untuk mengatasi kurangnya kapasitas pengolahan limbah medis.

"Ada beberapa teknologi yang sudah proven yang dikembangkan oleh teman-teman kita untuk membantu peningkatan jumlah kapasitas pengolahan limbah ini secara signifikan. Khususnya adalah teknologi yang bisa dipakai untuk pengolahan limbah di skala yang lebih kecil dan sifatnya mobile," ungkapnya dalam keterangan resmi, Kamis (29/7).

Dijelaskannya, beberapa teknologi pengolah limbah ramah lingkungan yang sudah proven itu, bisa mengatasi limbah B3 khususnya limbah medis berskala kecil dan mobile yaitu teknologi pengolahan limbah cair dengan Plasma Nano-Bubble. Sedangkan untuk limbah padat dengan Plasma, pengolahan limbah plastik medis menggunakan teknologi Pelletizing dan Rekristalisasi dan untuk pengolahan limbah jarum suntik menggunakan mesin daur ulang APJS GLP Destromed 01 Needle Destroyer yang sudah memiliki paten dan izin edar.

Baca juga: BRIN: Hanya 4,1% RS yang Punya Pengolahan Limbah Medis

Handoko meyakini teknologi ini cocok untuk menjangkau daerah-daerah yang penduduknya relatif sedikit dengan skala limbah tidak banyak. Hak itu lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan membangun insinerator yang besar dengan harga mahal dan terkendala dengan pengumpulan limbah yang terpusat.

"Kalau kita harus membangun insinerator besar itu tentu akan jauh lebih mahal dan juga menimbulkan masalah terkait dengan pengumpulan, karena pengumpulan dari limbah ke insinerator yang terpusat juga menimbulkan biaya tersendiri," imbuhnya.

Selain mampu meningkatkan kapasitas pengolahan limbah medis, teknologi daur ulang limbah medis besutan anak bangsa ini berpotensi memunculkan nilai tambah dan ekonomi baru. Mengingat dalam rangka meningkatkan kepatuhan fasilitas kesehatan, ada insentif finansial dari sisi bisnis yang dapat mengurangi biaya pengolahan limbah.

"Tadi kami menyampaikan contoh itu adalah alat penghancur jarum suntik yang bisa menghasilkan residu berupa stainless steel murni, dan juga daur ulang untuk APD (alat pelindung diri) dan masker yang bahannya adalah polypropylene, sehingga kita bisa peroleh propylene murni (PP), jenis plastik propylene murni yang nilai ekonominya juga cukup tinggi," tambahnya.

Lebih lanjut, dia juga mengungkapkan data, baru 4,1% Rumah Sakit yang memiliki fasilitas insinerator berizin. Selain itu, baru ada 20 pelaku usaha pengolahan limbah di Indonesia dan hampir semuanya terpusat di Pulau Jawa dan distribusinya pun tidak merata.

"Kemudian juga di seluruh indonesia baru ada 20 pelaku usaha pengelolaan limbah dan yang terpenting adalah seperti yang disampaikan Ibu Menteri LHK hampir semuanya masih terpusat di Pulau Jawa. Jadi distribusinya belum merata," kata dia.

Handoko berharap inovasi teknologi karya anak bangsa ini dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah pengolahan limbah medis. Inovasi dapat memberikan motivasi untuk mengumpulkan dan mengolah limbah, meningkatkan kepatuhan, dan menciptakan potensi bisnis baru bagi para pelaku usaha skala kecil.(OL-5)

BERITA TERKAIT