28 July 2021, 17:42 WIB

AstraZeneca dan Yayasan Kanker Indonesia Luncurkan Aplikasi Pulih


Eni Kartinah | Humaniora

PANDEMI Covid-19 telah membuat perawatan kanker secara global sangat terganggu. Hal ini secara signifikan berdampak buruk karena kemungkinan untuk melakukan diagnosis dini, terapi, dan pemantauan pasien kanker menjadi tertunda.  

Jika ditemukan pada tahap awal, sebelum kanker bermetastasis, hasil akhir perawatan pasien biasanya lebih baik1-5. Terlepas dari kondisi pandemi, pasien kanker tetap disarankan untuk terus melakukan konsultasi dengan dokter dan tidak menunda pengobatan.

Oleh karena itu, sebagai bagian dari program global New Normal, Same Cancer, AstraZeneca bersama dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) meluncurkan aplikasi Pulih (Program Peduli Sehat) yang bertujuan memudahkan pasien kanker mendapatkan akses terapi kanker. 

Pulih merupakan aplikasi yang menyediakan layanan digital terintegrasi yang memberikan kemudahan kepada pasien untuk mengakses program bantuan pasien, pengingat jadwal minum obat, dan materi edukasi seputar penyakit, pengobatan, dan isu kesehatan lainnya.

Pada keterangan kepada wartawan, Rabu (28/7), Direktur AstraZeneca Indonesia, Rizman Abudaeri mengatakan, “Kanker membutuhkan deteksi dan penanganan sedini mungkin agar meningkatkan keberhasilan pengobatan kanker."

AstraZeneca melalui tagline “New Normal, Same Cancer” berkomitmen meningkatkan kesadaran dan turut mengkampanyekan akses terhadap penanganan kanker agar pasien dapat mengakses layanan kanker tanpa penundaan dan membantu melindungi orang yang datang ke klinik kanker untuk meminimalkan risiko penularan Covid-19.

"Hal Ini sejalan dengan praktik layanan bagi pasien yang telah dimodifikasi oleh banyak fasilitas kesehatan selama dalam masa pandemi ini,” kata Rizman. 

Lebih lanjut Rizman menambahkan, “Untuk membentuk dan mensosialisasikan aplikasi PULIH ini, AstraZeneca bangga dapat bekerjasama dengan Yayasan Kanker Indonesia."

"Dengan kerja sama ini, kami optimis dapat membantu pasien kanker dan anggota keluarganya untuk tetap mendapatkan penanganan kanker agar pengobatan dapat berhasil. Pandemi tidak seharusnya menghalangi penanganan kanker, karena setiap harinya pasien kanker berlomba dengan waktu untuk mengalahkan kanker, terutama kanker paru yang saat ini sangat rentan tertular Covid-19 dan mengalami komplikasi berat,” paparnya.

Ketua YKI, Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, Finasim, FACP mengatakan,“Yayasan Kanker Indonesia menyadari bahwa kesinambungan dalam perjalanan pengobatan seorang pasien kanker itu amat penting dan pemanfaatan teknologi digital merupakan langkah strategis."

" Oleh sebab itu, YKI menyambut baik tersedianya aplikasi Pulih yang dapat memfasilitasi pasien kanker di seluruh Indonesia dengan beragam informasi dan akses seputar kanker,” kata Prof.Aru Sudoyo.  

“Layanan digital sangat membantu pasien kanker, terlebih selama pandemi Covid-19 yang membatasi pergerakan dan perhatian terhadap penanggulangan kanker. Melalui kerjasama ini, kami berharap aplikasi Pulih juga dapat mendorong masyarakat untuk menyadari dalam melakukan deteksi dini kanker, termasuk pada kanker paru, guna mencegah ditemukannya kanker pada stadium lanjut,” tambah Prof. Aru Sudoyo.

Ketua Tim Kerja Onkologi Paru PDPI, Prof. dr. Elisna Syahruddin Ph.D, Sp.P(K) menjelaskan,“Berdasarkan data Global Cancer Statistic (Globocan) 2020, jumlah kasus baru kanker paru di Indonesia meningkat 8,8% menjadi 34.783 kasus atau menempati peringkat ketiga."

Sementara itu, jumlah kematian akibat kanker paru meningkat 13,2% menjadi 30.843 jiwa atau menempati peringkat pertama.6 Hal itu disebabkan oleh karena sebagian besar pasien terdiagnosa pada stadium lanjut.  

"Diagnosis dan pengobatan yang tepat waktu merupakan faktor penting untuk menentukan keberhasilan pengobatan kanker paru. Masyarakat perlu menghindari faktor risiko kanker paru dan mengetahui gejala kanker paru sehingga apabila merasakan beberapa gejala tersebut, perlu segera melakukan konsultasi kepada dokter agar bisa terdiagnosa lebih cepat," jelasnya.

"Lebih dari itu, pasien yang sudah terdiagnosa, harus mendapatkan terapi sesuai dengan kondisinya karena kanker paru berkembang dengan cepat. Masa pandemi tidak menyebabkan pasien harus berhenti melakukan pemantauan terlebih melanjutkan terapi,” jelas Prof.Aru.

Stephen, penyintas kanker baru, mengatakan,“Di masa pandemi ini, akses ke fasilitas kesehatan terdapat kendala terutama karena di RS terdapat banyak pasien dari berbagai penyakit berkumpul sehingga menimbulkan rasa was-was."

"Padahal, saya sebagai penyintas kanker paru membutuhkan pemeriksaan dan konsultasi ke dokter secara rutin. Kemudian akses mendapatkan obat juga tidak boleh berhenti demi tetap mempertahankan kondisi dan menghindari progression," ucapnya.

"Saya bersyukur sudah ada aplikasi Pulih yang dapat membantu pasien kanker untuk mendapatkan akses lebih mudah terhadap pengobatan terapi kanker di masa pandemi," ujar Stephen.

"Aplikasi ini memiliki pengingat minum obat dan informasi mengenai kanker yang membantu pasien. Saya berharap semakin banyak pasien dan keluarga pasien mendapatkan manfaat dari aplikasi ini. Terus Semangat,” ajak Stephen.

Aplikasi Pulih saat ini sudah tersedia dan sudah bisa diunduh di Google Playstore. (Nik/OL-09)
 

BERITA TERKAIT